Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 69


__ADS_3

Usai mengenakan hijab Nisa pun beranjak dari hadapan cermin. Wajahnya hari ini benar-benar cantik dengan wajah alami dan ditambah sedikit polesan yang tidak terlalu tebal hingga menambah keanggunan seorang Anisa. Tidak terlalu mewah hanya dandanan sederhana, meski begitu tidak dapat diragukan lagi jika tetap saja ada yang naksir Nisa walau ia sudah bersuami.


Melihat sang istri semakin hari semakin cantik apalagi Nisa yang tengah mengandung sehingga aura keibuannya semakin menguak, hal tersebut tentu membuat seorang Arsen Wijaya Atas merasa cemburu bahkan sudah menduduki tingkat akut. Arsen tidak rela miliknya dilirik oleh orang lain sampai-samapi Arsen memutuskan melarang Nisa keluar rumah. Tentunya peraturan yang dikemukakan Arsen tersebut dibantah mentah-mentah oleh Nisa. Ia juga ingin sama seperti wanita lain yang mendapatkan kebebasan. Perbedaan pendapat ini membuat Arsen dan Nisa saling bertengkar, dan Arsen yang notabenya sudah sangat mencintai Nisa terpaksa harus meminta maaf terlebih dahulu.


Mulai hari itu lah Arsen merelakan miliknya dipandang para lelaki mata keranjang dan bebas mau pergi ke mana saja asalkan harus memberitahunya terlebih dahulu. Ia melakukan itu hanya terpaksa, ia tidak mau melihat orang yang dicintainya sedih dan parahnya lagi penyebab kesedihan itu adalah dirinya. Arsen tidak mau menjadi masalah bagi Nisa, ia ingin menjadi sumber kebahagiaan bagi Nisa.


Nisa tersenyum geli kala mengingat tingkah Arsen yang terlalu posessif dengan dirinya, lelaki itu persis seperti bayi yang baru lahir dan tidak mau ditinggalkan sang ibu. Kekonyolan yang mereka lakukan di masa lampau menjadi hiburan tersendiri bagi Nisa di saat ia sedang menyendiri.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri sih sayang. Kamu kesambet ya?" Ujar Arsen yang baru saja selesai mengenakan jas kerjanya.


Nisa yang sedang melamun di tepi ranjang sambil mengingat masa lalu pun buyar akibat suara yang tak asing lagi di indera pendengarnya.


"Tidak apa-apa Mas," ujar Nisa seraya bangkit dan berjalan menghampiri Arsen. Ia mengambil sisir dam minyak rambut, lalu memerintahkan lelaki itu agar duduk.


Ketika Arsen sudah sedikit rendah darinya, Nisa pun menumpahkan minyak rambut yang berbentuk jeli dan bermerek terkenal itu ke telapak tangannya. Kemudian wanita itu mengusapkan minyak rambut tersebut ke rambut Arsen. Ketika sudah rata barulah Nisa menyisir rambut Arsen sampai rapi.


"Sudah." Nisa pun tersenyum dan meletakkan benda yang ada di tangannya ke tempat asal.


"Terimakasih sayang, aku bangga punya istri seperti kamu. I Love You." Arsen mendekatkan bibirnya di puncak kepala Nisa lalu mengecupnya dengan hikmat.


Nisa tertegun dengan perlakuan Arsen, hatinya menghangat penuh haru. Laki-laki itu benar-benar bisa membuatnya merasakan debaran jantung yang tak terkontrol. Untung Arsen selalu sibuk dengan pekerjaannya, jika tidak Arsen pasti akan bersama terus dengannya dan jantung Nisa mungkin tidak akan berfungsi lagi sekarang karena setiap ia dekat dengan pria itu debaran jantungnya selalu naik drastis.


"I Love You too." Nisa mengucapkannya penuh dengan ketulusan. Air mata tertahan di bola matanya, selalu saja ia merasa sedih yang bercampur dengan bahagia setiap Arsen mengucapkan kalimat sakral itu.


Arsen meletakkan dahinya di dahi Nisa hingga hidung mancung mereka sama-sama bersentuhan. Kedua tangan pria itu menangkup pipi Nisa dan sedangkan tangan Nisa melingkar di leher Arsen.


"Kamu serius sayang?" Tanya Arsen hingga napas yang keluar dari mulut lelaki itu menerpa bibir Nisa yang mungil.


Nisa tersenyum menanggapinya, "Tentu aku sangat serius my love. Sejak kapan aku selalu main-main? Palingan kamu tuh yang selalu bercanda dengan aku."


"Ha ha ha, maafkan aku sayang. Kamu sih yang membuat aku setiap melihat kamu ingin rasanya menjahili kamu."


"Nggak lucu."


"Tapi kamu sayang kan sama aku."


Nisa mengangguk. melihat anggukan kepala Nisa, Arsen pun menipiskan jarak antara bibirnya dengan bibir Nisa hingga bibir keduanya pun saling bersentuhan. Namun Arsen tidak memberikan kecupan biasa melainkan ciuman panjang yang menjadi awal pembuka pagi hari bagi mereka.


Keduanya pun menyudahi ciuman kasih sayang tanpa nafsu tersebut saat dirasa Nisa yang hampir kehabisan napas. Arsen menatap bibir Nisa yang sangat merah setelah diciumnya. Nafsu Arsen langsung melonjak saat menatap bibir Nisa yang belopatan dengan silivanya.


Ia kembali mengikis jarak untuk mencium kedua kalinya, namun belum sempat ia melakukan keinginannya itu, sebuah suara dari arah pintu membuat Arsen dan Nisa sama-sama saling menjauh.


"Papa, Bunda!!!"


Gabriel yang telah lengkap dengan seragamnya pun langsung berubah cemberut melihat kelakuan kedua orang tuanya. Ia berlari kencang dan menubruk paha Nisa kemudian memeluknya erat seperti perisai yang sedang melindungi ibunya dari sang ayah.

__ADS_1


"Bunda! Papa kok jahat? Kenapa Papa tadi gigit bibir Bunda? Iel nggak sayang sama Papa, Bunda-nya Iel nggak boleh disakiti sama siapa-pun, termasuk Papa."


Nisa tercekat atas perkataan Gabriel barusan, wajahnya memucat dan menatap Arsen cepat. Dari pandangannya ia mengisyaratkan agar Arsen menjelaskan semuanya kepada anak lelaki itu. Tentu ia khawatir, ucapan Gabriel tersebut sudah menyatakan jika anaknya itu telah melihat adegan dewasa mereka yang mana Gabriel di umurnya yang masih balita tidak boleh melihat adegan tersebut.


"Mas," geretak Nisa, ia tidak ingin anaknya salah paham.


"Iel! Papa nggak nyakitin Bunda kok. Tanya aja sama Bunda Papa nggak ada gigit bibir Bunda."


Gabriel pun mendongak menatap Nisa.


"Iya Iel. Apa yang dikatakan Papa itu benar. Iel nggak boleh marah sama Papa."


"Tapi... tadi emangnya Papa sama Bunda lagi apa?"


Kedua mahluk dewasa itu pun langsung bungkam. Harus dengan kalimat apa mereka menjelaskannya. Tidak mungkin mereka asal berkata di depan Gabriel, yang ada nantinya anak itu salah tangkap.


Nisa memandang Arsen tajam. Arsen yang melakukan maka Arsen pula lah yang menyelesaikan.


Menghela napas panjang. Arsen menatap anaknya yang masih memeluk Nisa kuat. Di dalam hati lelaki itu sedang menggerutu, kenapa bisa-bisanya ia kepergok sih? Padahal kan tadi ia sedang enak-enaknya berduaan. Et dah datang pula anak kecil pengganggu yah walaupun anak kecil itu adalah anaknya.


"Tadi itu ada serangga di wajah Bunda, jadi Papa ingin ambil serangannya. Makanya wajah Papa sama wajah Bunda dekat, jadi Gabriel yang melihatnya seperti Papa sedang menyakiti Bunda, padahal Papa ingin melakukan kebaikan dengan Bunda, itung-itung pahala. Iya kan Bun?"


"Iya."


"Nggak sarapan dulu?"


"Enggak mau. Iel sudah kenyang, lagian Bunda juga bangunin Iel nya telat jadi Iel harus buru-buru ke sekolah. Nanti kalau Iel terlambat, ibu besar nanti marah dan hukum Iel, Iel nggak mau."


"Tidak akan ada yang bisa marahin Iel. Kalau mereka tetap berani juga, maka siap-siap mereka harus mendapatkan balasan yang lebih sakit dari apa yang dirasakan Iel."


Nisa memutar bola matanya malas, laki-laki itu sudah mulai berargumen tidak jelas.


"Kamu ngomong apaan sih Mas? Sudahlah, sini dasi mu! Lihat Gabriel sudah nungguin kamu."


Arsen menyerahkan dasi nya yang berwarna biru langit. Nisa mengambil dasi tersebut lalu memasangkan dasi itu ke kerah baju Arsen. Ketika kegiatannya itu sudah selesai, Nisa pun mengambil tas kerja Arsen yang telah ia siapkan semua domumen-dokumen penting di dalam tas itu.


"Aku antar ya sampai depan!"


"Terserah kamu. Ayo Iel kita berangkat."


Keluarga itu pun pergi ke luar. Dan sesampainya di luar Arsen menurunkan Gabriel yang berada di gendongannya. Mereka menghampiri mobil yang sudah terparkir di sana siap membawa Gabriel dan Arsen ke alamat masing-masing yang ingin dituju.


"Sayang aku pergi dulu ya." Arsen mencium kepala Nisa lalu mengusap perut Nisa yang sangat besar dan tinggal menunggu harinya saja kapan wanita itu lahiran. "Jangan rewel ya, jagain Bunda. Papa dan Kak Gabriel pergi dulu ya baby."


Gabriel menyalami tangan Nisa lalu mencium perut sang Bunda. Kemudian ia masuk ke dalam mobil yang mana sudah ada Arsen yang menunggu di sana. Dan mereka pun berangkat. Di dalam mobil Gabriel melambaikan tangannya kepada sang Bunda tanda perpisahan.

__ADS_1


Nisa tersenyum, tangannya tak luput untuk mengusap perutnya yang terdapat calon buah hatinya dengan Arsen yang siap lahiran. Betapa bahagianya ia saat ini, semuanya terasa mimpi, namun mimpi indah. Benar kata pepatah yang mengatakan bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian, dan Nisa pun sudah membuktikan kebenaran kata pepatah itu.


"Semoga kamu dapat diterima banyak orang ya sayang!" Nisa berucap kepada perutnya.


Ketika mobil Arsen benar-benar jauh, Nisa pun kembali masuk untuk melakukan tugas rumah tangganya. Meski Arsen telah membayar pembantu, tetap saja Nisa ingin mengerjakan apa-apa yang ia bisa di dalam rumahnya. Tangannya gatal sekali jika tidak mengerjakan apa-pun. Dia memang tidak bekerja lagi dengan Arsen karena lelaki itu melarangnya dan mencari pengganti Nisa yang berjenis kelamin laki-laki atas dasar perintahnya yang tidak ingin asisten Arsen seorang perempuan.


Saat kakinya menyentuh lantai ruang tengah Nisa pun tak sengaja menginjak lantai yang lagi dipel dan masih sangat licin, hingga ia pun terpeleset dan jatuh menghantam lantai dengan keras.


"Auuuuu."


"Nyonya!!!" Teriak pembantu yang mengepel lantai tersebut yang baru saja datang dari toilet.


Ia langsung berlari ke arah Nisa. Nisa terus merintih kesakitan, perutnya sangat mulas dan benar-benar perih, hingga air mata pun tak terbendung lagi. Ia menangis sekuat-kuatnya untuk melampiaskan rasa sakit yang dialaminya.


"Hiks-hiks, Bi sakit. Tolong!" Nisa memegang perutnya yang teramat sakit, napasnya tersengal-sengal, peluh memenuhi dahi dan lehernya.


Ketika pembantu itu telah berdiri di depan Nisa, ia langsung dibuat syok dengan apa yang dilihatnya. Karena tidak dapat menahan keterkejutannya lantas pembantu itu langsung berteriak.


"Astaghfirullah a-air ketuban dan da-darah," teriak pembantu itu sambil menutup mulut kala melihat air ketuban dan darah yang mengalir di Pangkal paha Nisa.


"A-apa?" Di tengah kesadarannya Nisa masih dapat mendengar apa yang diucapkan oleh pembantu itu. "Bi to-tolong telepon Tu-an."


"Baik Nyonya." Dengan rasa cemas yang menyelimuti sang pembantu ia pun berlari ke arah telepon rumah yang berada tak jauh dari situ.


________


Tbc


Info: Karena Novel ini bentar lagi Ending maka aku mau tanya ke kalian mau sad ending? Atau happy ending? Dan satu lagi, aku bakal adain Q&A. Bagi kalian yang mau nanya bisa dikirim ke kolom komentar, grup chat atau WA.


WA: 085363182268


Bakal dijawab jika sudah banyak pertanyaannya. Nggak ada yang nanya, maka Q&A batal ya.


Arsen



Nisa



Gabriel


__ADS_1


__ADS_2