Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 37


__ADS_3

Warning: Konflik berat. Jika tidak tahan harap menjauh dan jangan tinggalkan komentar jahat.


.


.


.


.


Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi seorang Anisa. Tidak ada waktu istirahat baginya untuk sekedar merenggangkan otot-otot tubuhnya yang tegang. Semua dilalui dengan kekesalan tidak ada senang di matanya. Cukup membosankan duduk dan terus mempelajari bahasa Jepang dan meneliti berkas-berkas yang akan ditandatangani oleh Arsen.


Perutnya terasa lapar, sebab seharian ini ia belum ada memakan apa-pun. Padahal waktu istirahat bagi karyawan telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tapi entah mengapa ia tidak dibiarkan bosnya keluar dari ruangan, kata Arsen bahya sedang mengancam dan takut ia akan kenapa-napa. Jika ia kenapa-napa kenapa laki-laki itu peduli, bukan kah itu adalah suatu berita yang bagus bagi Arsen, jadi pria itu tak perlu repot-repot menyiksanya dalam diam.


Kepala Nisa ingin  pecah memikirkan semua itu, mana lagi berkas masih banyak di meja kerja, bahasa jepang baru 1% ia kuasai, dan perutnya yang merasa lapar. Mungkin sedetik lagi ia akan pingsan di sini.


Saat Nisa hendak mengambil berkas berikutnya, suara dari arah pintu terdengar seperti ada orang yang membukanya. Ia meletakkan kembali berkas yang baru saja ia sentuh, matanya mengamati orang itu yang sebentar lagi akan masuk.


Arsen melangkah masuk kedalam sana, namun tangan kananya terlihat tidak kosong, satu plastik hitam ia tenteng dan diletakkan di meja Nisa.


Nisa mengernyit melihat Arsen memberikannya ssesuatu, lantas ia mendongak menatap orang itu yang ternyata telah berjalan ke kursi kerja milik pria tersebut.


"Ini apa pak?"


"Kalau mau tau ya dibuka, kalau dibiarkan saja sampai kamu pingsan di sana tidak akan tau apa isinya," pungkas Arsen yang cukup membuat Nisa mengercutkan bibirnya.


Nisa mengambil plastik tersebut dan membukanya. Ia terdiam kala melihat apa yang ada di dalam sana, untuk memastikan ia mendongak menatap Arsen yang sudah masuk kedalam dunia kerja. 


"Maksud nasi padang ini apa pak?"


Arsen menghela napas sejenak, lalu kemudian menatap Nisa. Apakah perempuan tersebut belum mengerti juga apa maksud ia memberikan nasi padang itu.


"Kamu biarkan saja dia sampai basi."


"Loh pak, kan sayang dibiarkan sampai basi. Lebih baik dimakan saja."


"Kalau tau fungsinya untuk dimakan kenapa nanya? Dasar wanita bodoh, seumur-umur aku belum pernah melihat wanita seperti kamu. Untung saja kamu itu mirip Ica," ujar Arsen keras dan tanpa disadari olehnya bahwa telah mengucapkan kata yang ia rahasiakan selama ini.


Nisa bergeming ditempat, wajahnya terlihat sedang merasakan sedih yang amat dalam. Mengapa Arsen begitu tega mengatakannya bodoh? Atau apakah ia memang bodoh? Namun satu hal yang terasa asing di telinga Nisa yaitu kata atau bisa disebut dengan nama orang yaitu ICA.


Sebelumnya ia tidak pernah mendengar nama Ica baik dimana pun. Tapi, kenapa ia tiba-tiba merasa familiar dengan nama itu. Sakit kepalanya kembali kambuh saat ia berusaha mengingat dimana ia pernah mendengar nama Ica itu.


Akhhh


Nisa memijat kepalnaya pelan-pelan untuk mengurangi rasa sakit. Erangan dari Nisa, di dengar oleh Arsen. Laki-laki itu segera menghampiri Nisa dan memandang wanita itu lamat-lamat dan bercampur kesal. Arsen baru menyadari apa kesalahan yang telah ia lakukan, ia menyumpahi mulutnya sendiri yang sudah mengatakan nama Ica.


"Kenapa kamu?" Arsen berusaha setengah mati agar berpura-pura tak peduli dengan Nisa.


"Kepala saya sakit pak."

__ADS_1


"Bodoh kamu."


"Hah?" Nisa berusaha menatap Arsen di depannya. "Maksudnya?"


"Yah jelas kepala kamu sakit jika kamu belum mengisi apa-apa kepada tubuh mu untuk menambah stamina."


Wanita itu berpikir sejanak, lalu menarik napas panjang. Perkataan Arsen tadi ada benarnya juga. Tapi, yang menjadi pertanyaan mengapa Arsen terlihat peduli dengannya, padahal laki-laki itu baru saja mengatakan ia bodoh.


"Kenapa bapak peduli?"


"Saya tidak ada peduli dengan kamu. Kamu saja mungkin merasa kegeeran. Sudahlah saya harus bekerja lagi. Ingat dua jam lagi kita ada meeting dengan perusahaan Cakranagara, siapkan semua kebutuhan untuk meeting dan jangan sampai ada yang ketinggalan."


"Baik pak." Nisa menarik napas, lalu mengambil nasi padang pemberian Arsen.


Wanita itu memakannya di sana. Sekali suapan perutnya mulai terasa lebih enakkan dari pada sebelumnya. Ia memakan nasi padang itu begitu hikmat dan selalu merasakan setiap kunyahannya.


"Alhamdulillah," ucap Nisa ketika telah selesai memakan nasi padang tersebut sampai satu butir pun tidak bersisa.


Nisa meraih air mineral yang juga diberikan Arsen. Ia menegaknya hingga tandas, lalu meletakkan di dalam plastik bersama bungkus nasi padang. Ia beranjak dari tempatnya lalu berjalan ke arah tong sampah. Nisa membuang sampah-sampah tersebut ke tempat itu.


Setelahnya ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, tarikan napas terdengar dari perempuan itu. Nisa melirik Arsen yang terlihat serius, ia ingin keluar dari ruangan ini, lagi pula jam istirahat masih lama. Tapi, apakah Arsen mengizinkannya. Ia berpikir sebentar apakah ia meminta izin terlebih dahulu? Lebih baik ia keluar saja, hatinya merasa tidak enak ingin mengganggu aktivitas Arsen.


Nisa keluar dari ruangan dan berjalan menuruni lantai-lantai dengan bantuan lift. Ia bernapas lega kala telah sampai ke lantai yang menjadi objek perjalanannya.


Langkah demi langkah ia arungi hingga sampailah ia pada ruangan tempat khusus untuk OB dan OG. Nisa menyapa semua orang yang berada di dalam sana dengan sebuah senyuman. Mata nya mengedari setiap jengkal ruangan, namun apa yang tengah ia cari tidak ada di sana.


"Maaf OG yang bernama Ibel di mana?" Sontak seluruh orang yang ada di sana menatap kepada Nisa. Nisa tersenyum kikuk merasa tak enak saat seluruh orang menatap ke arahnya.


"Iya. Aku juga melihatnya, Ibel tadi memang ketempat menjer keuangan." Tambah seorang laki-laki serti baru berumur 18 tahunan.


"Oh terimakasih infonya. Jika saya boleh tau diama letak ruangan menejer keuangan."


Mendengar penuturan Nisa membuat semua orang menahan tawa mereka. Nisa cengengesan sebab sepertinya hanya ia yang ada di perusahaan ini tidak mengetahui dimana ruangan menjer keuangan. Ia akui memang tidak mengetahui dimana-mana saja letak ruangan-ruangan penting yang ada di perusahaan ini. Yang Nisa hanya ketahui hanyalah ruangan direktur beserta ruangan OG dan OB. Miris sekali bukan dirinya?


"Ruangan menejer keuangan ada dilantai 10 mbak."


"Terimakasih infonya."


Nisa keluar dan berjalan menuju lift. Langkahnya terlihat santai seperti tidak ada beban. Karena ia sedang asik dengan kesataiannya hingga ia tak sengaja menabrak seseorang. Nisa hampir saja terhuyung jika tidak ditarik oleh orang itu.


"Ah terimakasih tuan," Nisa memandang orang itu yang seperti sedang terpaku. Laki-laki tersebut sangat tampan sama seperti Arsen, hingga membuat Nisa juga diam mematung.


Cukup lama mata mereka berpandangan-pandangan sebelum seringaian jelas tercetak di wajah orang itu  yang menyadarkan Nisa. Nisa tersenyum kikuk dan segera mengingat tujuan utamanya.


"Maaf tuan sepertinya saya sedang terburu-buru." Laki-laki itu tak menjawab tetapi ia hanya memandang Nisa lekat-lekat dan bergeming di tempatnya.


Meskipun Nisa telah hilang dibalik tembok, orang itu tak henti menatap Nisa. Ia tersenyum penuh arti kepada Nisa namun disenyuamannya juga terdapat sebuah smirk yang tidak dapat dipecahkan apa maksudnya.


Sedangkan Nisa yang baru saja keluar dari lift langsung melenggang dan membuka sedikit pintu rungan menejer keuangan tersebut sembari mengintip. Ia baru tau bahwa seorang menjer keuangan adalah perempuan. Nisa berdecak kagum ketika melihat kecantikan paras yang dimiliki perempuan itu.

__ADS_1


Matanya kembali meredup saat ia tak mendapatkan Ibel di dalam sana, padahal niatnya ingin bertemu Ibel adalah untuk meminta maaf sebab Nisa tahu betul bahwa Ibel sedang marah kepadanya.


"Lebih baik aku kembali lagi ke ruangan sebelum Arsen menyadari aku tidak ada di sana."


Nisa melangkah penuh kekecewaan, ia berjalan meninggalkan ruangan itu. Wajahnya tertunduk seperti sedang meratapi nasib, hawa dingin dari AC menambah penderitaan dari Nisa, karena perempuan itu tidak terbiasa betul dengan namanya AC, sebab suhu dingin yang begitu tinggi bisa membuatnya terserang Flu.


Tiba-tiba Nisa merasakan ada sebuah tangan yang menariknya dan membawa dirinya masuk kedalam lift. Nisa berusaha melepaskan tarikan tangan orang itu, namun usahanya sama sekali tidak berbuah manis.


"Kenapa pak?"


"Pakai nanya lagi, kenapa kamu keluar tanpa seizin saya hah? Ternyata sudah berani kamu." Marah Arsen dan menyudutkan Nisa hingga belakang wanita itu menyentuh dinding lift.


"Ma-maaf pak."


"Maaf, maaf, sudah basi kata itu di telinga saya. Apa kamu tuli, hingga tidak mendengar larangan saya untuk tidak keluar dari ruangan. Asal kamu tau jika saya telat sedikit saja, kamu akan berada dalam bahaya." Arsen susah payah menahan api yang meluap-luap di dasar hatinya. Ketika mengingat Sarga yang ia temui tadi dan membisikkan jika dia akan membunuh orang yang mirip sekali dengan Ica darinya. Dan dari situ pula Arsen dapat menyimpulkan bahwa Sarga telah bertemu Nisa.


Tangan Arsen mengepal di bawah, ingin sekali ia meninju wajah seenak jidatnya Sarga. Namun apa dayanya saat Sarga kembali ingin menghancurkan hidupnya Arsen hanya bisa diam. Bayangan laki-laki itu mengucapkan ingin membunuh Nisa pun terlintas kembali. Tangannya semula ia kepal semakin ia kepalkan hingga urat-uratnya terlihat.


"Bapak ngelantur, jelas-jelas saya masih dalam keadaan Baik-baik saja. Tidak ada bahaya yang ingin mengancam saya, bapak itu sengaja ngarang-ngarang cerita agar bapak punya alasan untuk mearah-marahi saya serta menyiksa saya. Apa bapak tidak puas telah memberikan saya penderitaan yang sudah cukup banyak. Pak saya ini wanita," suara Nisa meninggi seolah sedang membentak Arsen.


Laki-laki itu naik pitam ketika Nisa telah berani membentak-bentaknya. Tangan yang terkepal pun ia layangkan ke wajah Nisa. Hingga Nisa hampir saja terjatuh. 


Pandangannya lemah kala Arsen memberikannya sebuah tinjuan yang amat keras. Di sini bukan hanya batinnya saja yang tersiksa namun fisiknya juga ikut tersiksa. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata perempuan tersebut. Ia tak menyangka kisah hidupnya serumit ini.


"Ada hak apa bapak memukul saya?"


"Ma-mafkan aku Ica," lirih Arsen seraya melirik tangannya yang telah memukul wajah perempuan itu sampai membiru.


"I-Ica," beo Nisa. Sauaranya bergetar saat mengulang kata itu. Tiba-tiba ia merasakan pusing di kepalanya, seperti sedang memaksakan mengingat sesuatu.


Sebuah serpihan memori terus membayanginya, seperti ada bagian kejadian masa lalu yang ia lupakan, dan kini serpihan itu berusaha mengingatkannya kepada masa lalu tersebut.


"Kamu telah membunuh suami saya anak sialan."


"Bukan, bu-kan aku yang membunuhnya, tetapi dia tadi yang menembak kepalanya sendiri," lirih seorang bocah sambil mendekap tubuhnya.


"Berani sekali kamu berbohong Ica!!!" Wanita yang penuh dengan polesan mek-up itu berdiri dari tempatnya lalu menghampiri bocah manis itu.


Satu tamparan mendarat mulus di pipi anak perempuan tersebut hingga anak itu tersungkur di lantai sambil menahan isakkannya. 


"Bu-kan Ica yang membunuhnya," kata anak itu dan terus mengulang-ulang kalimat tersebut.


"Tembak anak itu," perintah sang wanita kepada anak buahnya.


Dorrr


"Tidak. Bukan Akuuu!!!!," teriak Nisa histeris. Pandangan mata wanita itu semakin samar-samar dan....


Brakkk

__ADS_1


________


TBC


__ADS_2