
Warning: 21+ Ada adegan kekerasan
Krettt
Decitan pintu terdengar dari arah luar. Seseorang masuk ke dalam ruangan gelap yang minim cahaya tanpa ada penerangan itu. Kala terdengar langkah kakinya, sontak orang-orang yang ada di sana menatap ke arah seseorang tersebut. Semuanya menunduk hormat ketika orang itu melewati mereka. Kakinya berhenti melangkah ketika ia telah berdiri di hadapan seorang laki-laki paruh baya dan tangannya terikat di kursi, mulutnya di sumpal, wajahnya penuh darah.
Bau anyir sangat menyengat dari arah orang itu. Sedangkan laki-laki jakung yang baru masuk itu menyeringai. Ia membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan orang itu. Tangannya melayang menyetuh rahang laki-laki yang tidak berdaya di depannya lalu membuka sumpalan kain di mulutnya. Sebuah senyuman miring senada dengan kegelapan.
Setelah ia merasa puas memperhatikan wajah orang tersebut, ia pun menyentak wajah orang itu dengan kasar, hingga laki-laki yang umurnya sekitar empat puluhan tersebut tertunduk, untuk sekedar mengangkat wajahnya saja ia kesulitan.
"Mengapa kau menggelapkan uang di perusahaan ku?" Suara berat itu bersuara, dari nada bicarannya saja mampu membuat orang merasa terintimidasi.
Tidak ada satu patah kata pun terucap di mulut orang tersebut ketika ditanyai oleh laki-laki yang memiliki nama lengkap Arsen Wijaya Altas. Laki-laki itu tidak merespon, barang dengan bergerak sedikit saja. Arsen menggeram, ia tidak bisa jika perkataannya tidak dijawab. Lantas laki-laki itu menarik napas panjang dan meraih dagu laki-laki tersebut, mencengkrannya kuat hingga suara ringisan pun terdengar.
Arsen tersenyum saat indera pendengarnya menangkap suara desahan kesakitan. Sekali lagi ia mengamati orang di depannya.
"Kata ku katakan, mengapa kau menggelapkan uang perusahaan? Jangan harap kau teman ku, aku akan mengampuni dosa-dosa mu wahai pak tua."
Karena kesal ucapannya tak kunjung dijawab, Arsen melepaskan cengkramannya, setelah itu ia tersenyum miring.
"Jika kau tidak ingin mengatakan kepada ku, baiklah aku akan memberikan mu sebuah kejutan," ucap Arsen tidak main-main. Meski orang itu tau, kejutan yang dimaksud Arsen adalah sesuatu yang buruk, namun sama sekali ia tidak membuka suaranya.
"Sebelum ku berikan kejutan itu kepada mu, aku ingin bertanya. Mengapa kau korupsi di perusahaan ku?"
Sekali lagi, laki-laki itu tak menjawab. Mungkin dengan menyiksa laki-laki di depannya ini tidak akan dapat membuat orang itu bersuara, namun Arsen yakin dengan kejutan yang akan diberikannya kepada menejer di perusahaanya tersebut dapat membuat laki-laki yang berpura-pura bisu itu akan bersuara dan memohon-mohon kepadanya.
"Sungguh tidak ku sangka, kau akan menghianati kepercayaan ayah ku kepada mu. Ini kah balasan yang kau berikan kepada kami, setelah beberapa tahun yang lalu kau mengemis-ngemis kebaikan keluarga ku, lalu aku dan ayah ku berusaha mengkhasiani diri mu. Tapi apa sekarang? Kau membuat sesuatu yang putih bernoda hitam. Jika ayah ku tau kau melakukan itu kepada perusahaannya, aku tidak menjamin keselamatan mu, mungkin kau akan habis di tangannya."
Sebuah lelehan air mata jatuh dari netra laki-laki yang terikat itu. Ia tengah mengingat kebaikan keluarga Altas kepadanya, walau penyesalan telah ia rasakan, tapi sama sekali ia tidak mengucapkan apa alasannya menjadi koruptor di perusahaan sahabatnya.
Arsen berdiri tegap sembari mengamati orang tersebut. Ia tau jika laki-laki itu merasa menyesal, namun sama sekali prinsipnya tidak runtuh untuk memberikan kejutan kepada laki-laki itu.
Setelah tadi ia mendapatkan telepon dari Dive, jika dalang korupsi di perusahaannya telah tertangkap, ia langsung meluncur ke lokasi penyenderaan sang korupsi. Jujur Arsen cukup terkejut saat Dive menyebut nama Riko Admiral yang menjadi dalang korupsi di perusahaannya, ia tidak pernah menyangka orang yang bisa dikatakan sangat dekat sekali dengannya itu merupakan dalang dari masalah di perusahaannya.
"Apa kau mau kejutan dari ku?" Tanya Arsen yang sama tidak ada tanggapan, "baiklah jika itu mau mu."
Arsen berbalik memandang anak buahnya yang berbaris rapi di belakangnya serta di sampingnya. Ia menatap Dive agar laki-laki itu membawa masuk kejutan yang akan ia berikan kepada Riko.
Seakan mengerti dengan tatapan Arsen, Dive berjalan keluar beriringan dengan salah satu pengawal. Tidak perlu menunggu lama, Dive telah kembali, namun ia datang tidak hanya berdua saja bersama dengan pengawalnya. Tapi melainkan dengan seorang wanita yang seumuran dengan Riko, dan seorang perempuan sekitaran 23 tahunan.
__ADS_1
Dua wanita itu memberontak dan berusaha melepaskan kekangan tangan Dive serta pengawalnya, air mata tidak pernah berhenti mengalir, tangisan pecah menghiasi ruangan hening itu. Suara rintihan dan jeritan menggema di setiap sudut.
Arsen merasa puas kala melihat kejutan Riko telah sampai. Ia mendekat kepada kedua perempuan tersebut, mata keduanya ditutup oleh kain hitam. Seksama ia mengamati kedua wanita beda usia, setelahnya ia kembali menatap Riko. Laki-laki itu terlihat pucat saat melihat anak dan istrinya disekap oleh anak buah Arsen.
Riko berusaha melepaskan ikatan tangannya, ia meringis melihat istri dan anaknya tidak henti-hentinya menangis, kedua perempuan yang paling berharga di hidup Riko itu ketakutan. Dan ia dapat merasakan itu.
"Brengsek kauuuu!!!! Berani sekali kau menyekap anak dan istri ku, yang bersalah aku bukan mereka. Aku bersumpah mereka tidak terlibat dengan kasus korupsi itu, jadi lepaskan mereka. Terserah kau mau bunuh aku atau menyiksa ku, tapi jangan dengan anak istri ku." Orang itu berteriak sekencang mungkin, ia berusaha melepaskan lilitan tali yang mengikatnya, hingga saking ganas nya laki-laki itu berusaha sampai kursinya hilang kesimbangan dan terjatuh. Tapi tetap saja ia terus memberontak dan berteriak.
Kedua wanita yang baru saja dibawa masuk itu, tangisannya semakin menjadi-jadi setelah mendengar pengakuan yang mengejutkan. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya menjadi seorang koruptor. Apalagi saat ia mendengar suara benda jatuh yang merupakan kursi tempat laki-laki itu duduk terjungkal.
Sedangkan Arsen berdiri sambil tersenyum, seakan pemandangan yang ia lihat sekarang ini merupakan tontonan yang menarik baginya. Sama sekali tidak ada niatan untuk menghentikan drama yang sedang berlangsung secara live di matanya.
"Arsen ku mohon lepaskan mereka," lirih Riko bersamaan dengan keluarnya air bening dari matanya.
Mendengar permohonan dari Riko cukup membuat puas Arsen. Ia menampilkan senyuaman evil, sembari berjalan ke arah Riko yang telah terbaring di lantai tapi dalam keadaan terikat di kursi.
Ia berjongkok seraya meraih dagu Riko lalu mengangkatnya agar menatap matanya.
"Apa kau masih tidak mau mengaku apa sebab kau korupsi?"
Pria itu tidak menjawab tapi hanya menatap mata Arsen membunuh. Dan perlakuan yang ditujukan Riko tersebut membuat Arsen terkekeh, nada tawanya sangat seram jika orang tau apa maksud tawanya itu.
"Dive!!!"
"Satu."
"Dua."
"Ti..."
"Jangan tembak mereka, aku akan memberitahu mu tapi jangan kau bunuh mereka."
"Dive turunkan." Dive menurunkan pistolnya.
"Jadi mengapa kau menggelapkan uang perusahaan?"
Laki-laki itu menarik napas. Tampak ia terlihat sangat gugup saat membuka mulutnya. "Aku di suruh Alinta, ia akan membunuh keluarga ku jika aku tidak menuruti perintahnya. Tapi jika aku mau menurutinya maka aku akan mendapatkan uang."
Wajah Arsen terlihat mengeras, tangannya terkepal. Ia menarik satu sudut bibirnya membentuk sebuah sudut miring, ternyata dugaanya selama ini benar. Dari perjodohannya dengan wanita itu, keluarga Marcus hanya ingin mengambil hartanya dengan secara halus.
__ADS_1
"Alinta!!!" Geram Arsen, giginya terdengar bergesekan. Ia memandang Riko sengit, "berikan aku pistol mu."
Dengan lugas Dive memberikan pistol yang ada di tangannya itu dan dilemparkan kepada Arsen yang terlihat sudah sangat lihai menangkap dengan tepat.
Arsen mengacungkan pistol tersebut tepat di depan Riko. Tidak lama terdengar sebuah tembakan saat Arsen manarik pelatuk pistol itu tepat di kepala Riko.
"PAPA!!!"
"RIKO!!!!"
Suara tangisan dan jeritan terdengar saat tembakan itu melayang di hadapan korbannya hingga sang korban pun mati menggenaskan setelah tertembak oleh pistol Dive beberapa kali. Darah mengaliri dari kepala, otak terlihat keluar dari batok kepala laki-laki itu, wajahnya tidak terlihat selain warna darah yang bersimbah.
"Buka penutup matanya," perintah Arsen agar membuka penutup mata kedua perempuan itu.
Saat mata keduanya telah dapat melihat dengan normal, sang anak dan ibu langsung berlari mendekat kepada laki-laki yang mereka sayangi. Mereka menangis tidak henti-hentinya meratapi tubuh yang tidak bernyawa lagi.
"Brengsek kau, tunggu pembalasan ku," ucap anak perempuan Riko.
"Aku benci dengan kalian, tidak bisa kah kau memaafkan kesalahan suami ku," lanjut sang ibu.
Arsen hanya memutar bola mata malas saat makian terdengar untuknya.
"Dive bereskan semuanya agar tidak tercium oleh polisi. Jika sampai ketahuan oleh polisi maka kau yang akan aku salahkan," peringat Arsen.
"Baik." Dive menatap anak buahnya, "kalian semua bereskan dan buat gedung ini seperti semula. Dan kau bawa kedua perempuan itu dan jual mereka." Perintahnya.
Saat kedua perempuan itu dipisahkan dari jazat Riko, mereka mengais kencang apalagi ketika mendengar mereka akan dijual.
"Kau memang jahat." Kata sang anak sambil menarik hingusnya.
Arsen tidak menghiraukan ucapan perempuan tersebut, ia memandang Dive lalu berkata. "Besok pagi kau harus sudah membawa Alinta ke hadapanku."
Setelahnya Arsen keluar dengan baju bersimbah darah, mungkin ia akan mengganti pakaiannya terlebih dahulu agar orang yang melihatnya tidak curiga.
"Bawa dia." Sang pengawal pun menyeret paksa anak dan ibu tersebut keluar dari sana.
"Lepaskan aku. Aku akan bersumpah suatu hari nanti aku akan membalas perbuatan kalian kepada ayah ku."
"Diam kau gadis kecil," bentak pengawal tersebut disertai dengan pukulan di wajah wanita itu.
__ADS_1
________
TBC