Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 40


__ADS_3

Arsen keluar dari dalam kamarnya. Pakaian laki-laki itu terlihat rapi seperti di pagi-pagi biasanya. Ia berjalan penuh dengan wibawa menuju ruang makan. Saat telah mencapai meja makan, dia mengernyitkan alis tanda tidak mengerti kenapa orang tuanya menatap ia begitu tajam. Laki-laki itu melirik sang ayah lalu menarik napas dalam.


Ia menarik kursi yang berada di samping meja makan hingga mengeluarkan decitan yang cukup keras.


"What happened?" Tanya Arsen seraya melirik orangtuanya penuh pertanyaan.


Laki-laki itu mengambil piring yang ada di sana lalu menambahkan nasi di dalam piringnya. Ia mengambil lauk-lauk yang tersaji di atas meja itu dan meletakkan di dalam piring yang sudah terdapat nasi.


Sedangkan Ariana serta Davit tidak berhenti mengamati Arsen begitu intens. Wajah mereka sukar sekali untuk dijelaskan. Hingga Arsen yang tak kunjung melihat perubahan wajah tidak tenang sang orangtua pun meletakkan kembali sendok yang ada di tangannya.


Ia bersedekap dada dan melirik tajam orangtuanya. "Kenapa kalian terus mengamati wajah ku? Apakah makanan yang ada di atas meja tidak semenarik wajah tampan ku ini kah?"


Davit menghela napas dan tersenyum tipis kepada anaknya. Sedangkan di dalam pikiran pria itu sedang terjadi perang hebat. Di dalam hatinya masih mengalami keraguan, apakah yang diucapkan oleh Ariana bahwa Arsen telah mengetahui bahwa dia bukan Alex benar adanya? Ia ingin bertanya tapi, ia takut pertanyaannya ini akan membawa Arsen pada titik kecurigaan terhadap dirinya.


" Alex, do you know Arsen?"


Mendengar pertanyaan dari Davit tidak membuat Arsen menjadi gugup. Laki-laki itu terlihat tenang-tenang saja. Ia hanya tersenyum simpul kepada sang ayah.


"Yes he is my twin sister. Bukan begitu pa?" Davit terdiam kala Arsen mengatakan itu. Namun, diam yang ia tampakkan sekarang bukan berarti ia telah merasa lega. Tapi, masih ada secuil rasa curiga yang terbesit di dalam hatinya. Dan perasaan itu ia usahakan tutupi dengan senyuman ringan.


"Apakah kau tidak ada meliliki rasa curiga sedikit pun dengan kami? Dan apakah kau tidak merasa penasaran dengan masa lalu mu?" Tanya Ariana yang akhirnya berbicara. Mulutnya gatal sekali ingin menanyakan hal itu. Ia tau resiko apa yang akan ia dapatkan. Arsen pasti merasakan ada keanehan atas pertanyaannya.


"Kenapa mom menanyakan itu. Emang ada apa dengan masa lalu ku?" 


" Ah, nothing, honey. Mom just wants to ask. Bagaimana dengan perusahaan semuanya baik-baik saja kan?"


"Hm."


Arsen memasukkan makanan yang sudah tersuguh di hadapannya ke dalam mulut. Ia mengunyah begitu hikmat dan meresapi setiap kelezatan yang terdapat pada makanan itu. Saat merasakan sesuatu yang kering di tenggorokannya laki-laki itu mengambil air dan menegaknya.


Laki-laki itu terdiam. Pasti Sarga sebelum datang ke kantornya, laki-laki gila itu sempat singgah ke rumahnya. Dasar brengsek, pasti Sarga memberitahukan semuanya kepada Ariana. Laki-laki itu memang  menyusahkan saja, entah mengapa dia dulu bisa dekat dengan laki-laki itu. Andai jika ia tau bahwa Sarga memiliki kelainan mungkin ia akan lebih dulu menjauh dari parasit itu.


"Alex! Papa nanti siang akan ke kantor mu, ada hal penting yang harus aku bicarakan kepada mu."


Laki-laki itu mengangkat kepala dan memandang Davit dengan ekspresi datar. Ia mengambil tas kerjanya dan beranjak dari sana. Sebelum ia pergi dari ruang makan itu,  Arsen meraih gelas yang berisikan air susu, meminumnya sedikit.


"Terserah mu saja. Tanpa kau harus bilang pun pa, aku tetap mengizinkan mu."

__ADS_1


Kemudian Arsen meninggalkan ruangan itu dan orang-orang yang ada di sana menghela napas berat. Ariana dan Davit saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap punggung Arsen yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan mereka.


Davit mendengus. Tatapannya tetap terarah pada jejak yang Arsen lalui. Sesaat kemudian Davit memandang Ariana yang duduk di sampingnya. Dan tatapan itu dibalas oleh Ariana dengan alis kanan yang terangkat.


"Kenapa?"


"Apakah kau yakin dengan ucapan mu pagi tadi?"


Ariana memperbaiki rambutnya yang terlihat berantakan, lalu meletakkannya di depan dada. Ariana juga masih dalam mode bingung, ia tidak dapat menerjemahkan setiap kata per kata yang Arsen ucapkan. Perempuan itu masih dalam masa sulit, ia ingin percaya dengan ucapan Sarga yang mengatakan jikalau Arsen telah mengetahui bahwa dia bukanlah Alex. Tapi, melihat ketenangan di mata Arsen barusan membuat rasa percaya itu goyah dan luluh menjadi sebuah ragu.


"Entahlah aku juga kurang yakin. Tapi melihat Arsen tadi, membuat ku sedikit berpikir. Bisa saja Sarga sengaja mengatakan itu agar kita masuk ke dalam perangkap yang telah dia buat," ucap Ariana sambil menampilkan raut berpikirnya.


"Ku rasa memang begitu, tapi sudahlah sayang, aku akan berusaha mencari tahu semuanya. Kau tenang saja, Arsen pasti belum mengetahui semuanya. Aku akan menelepon orang kepercayaan ku untuk menyelidiki itu." Davit mengedutkan kedua sela bibirnya. Bianaran mata laki-laki itu terlihat betul sedang menenangkan Ariana yang sudah dilanda kegelisahan.


"Kau janji kan? Kau mengetahui sendiri kan bahwa Arsen tidak pernah menyukai Alinta, jika ia tau siapa Alinta pasti Arsen tidak ingin lagi melanjutkan pertunangannya dengan Alinta. Sampai kapan pun aku tidak pernah rela jika Arsen tidak menikah dengan Alinta."


"Yeah. I promise."


_________


Sebuah mobil SUV melaju kencang di tengah keramaian, terkadang ada orang yang berdecak kagum saat mobil itu lewat tepat di depan mata mereka, jika dilihat dari nomor flatnya saja, banyak orang mengetahui mobil siapa kah itu. Sang pengendara yang sudah tidak asing lagi namanya di telinga masyarakat, yaitu seorang Arsen Wijaya Altas. Seorang pengusaha muda yang terkenal akan kecerdasannya serta tak-tik strategi dalam dunia ekonomi yang bisa diacungkan jempol. Ketegasan yang dimiliki oleh Arsen seperti sudah menjadi karakter di dalam diri pria itu, tak ayal terkadang orang-orang bisa ketakutan melihat wajah datar nan dingin itu sedang menatap mata mereka.


Bisa dikatakan tumben sekali kota Jakarta pada hari ini tidak ada kemacetan yang bisa menyebabkan antrean kendaraan yang begitu panjang. Tapi sudahlah, ia tidak memusingkan hal itu. Bukan kah itu suatu perkara yang bagus?


"Ku harap kota Jakarta akan terus seperti ini," gumam Arsen sembari menyetir.


Namun, tidak tahu mengapa tiba-tiba sebuah wajah seorang bocah laki-laki yang selalu menggemaskan di sepanjang harinya datang menyelinap tanpa permisi ke dalam kepalanya. Arsen yang mengingat wajah Gabriel yang mampu membuatnya tenang pun tersungging. Ah, mengapa tiba-tiba ia merindukan Gabriel ya?


Arsen langsung membelok ke kiri saat menemukan persimpangan. Padahal asal kalian ketahui, jalan yang sedang ia lalui ini bukanlah sebuah jalan menuju ke kantornya. Entah setan apa yang membawanya membelok ke kiri, yang notabenya adalah jalan menuju ke kontrakan Nisa.


Setengah perjalanan laki-laki itu baru menyadari apa yang telah ia lakukan. Arsen langsung menepikan mobilnya dan berhenti.


"Arsen kau memang gila, kenapa harus ke rumah si Nisa, yang ada nanti wanita itu akan bertanya yang macam-macam." Arsen prutasi, ia menatap ke sekeliling jalanan, salah satu bangunan dari sekian banyak deretan gedung-gedung yang berjejer di tepi jalan mampu menarik perhatiannya. "Bukan kah Gabriel menyukai Pizza?"


Sedetik kemudian pria tampan itu tersenyum, ia tau alasan apa yang harus ia lakukan untuk datang berkunjung ke rumah Nisa agar tidak diketahui bahwa dia tengah merindukan Gabriel, yah walau sekaligus dengan ibunya  juga. Arsen keluar dari mobil dan menghampiri toko Pizza yang ada di seberang jalan. Otomatis laki-laki itu harus menyebrang dahulu melawan arus lalu lintas, namun itu bukan lah suatu masalah bagi laki-laki itu.  Demi menuntaskan rasa rindunya ia rela berbuat apa-pun, jadi menyebrang jalan dengan kendaraan selalu melaju kencang dan sangat membahayakan nyawa itu baginya hanyalah sebuah tantangan yang sangat enteng.


"Mbak pesan Pizza dua loyang, dibungkus." Setelah mengungkapkan keinginannya, Arsen duduk di salah satu kursi yang tersedia di dalam toko ini. 

__ADS_1


Sembari menunggu, laki-laki itu mengeluarkan benda pipih dari balik saku jasnya. Dia memainkan benda itu dengan raut serius, seperti sedang menunjukkan kepada pelanggan toko ini bahwa ia adalah seorang laki-laki yang serius.


"Mas ini pesanannya." Seorang pelayan yang bekerja di toko itu menyerahkan Pizza yang dipesan oleh Arsen tadi.


"Terimakasih." Arsen membayar pesananyan itu dengan uang kes, setelahnya ia langsung mengambil Pizza yang diserahkan oleh pelayan itu dengan sikap angkuh yang selalu ia tunjukkan di tempat umum. Hampir seluruh orang yang tak mengenal dengan dekat siapa Arsen, menganggap laki-laki itu tidak bisa tersenyum dan sombong.


Arsen kembali masuk ke dalam mobil, laki-laki itu menghidupkan mesin mobilnya dan membawa mobil itu ke tempat kontrakan Nisa yang sudah menjadi wadah menetap perempuan itu selama ini.


Detik per detik telah terlewati dan menyisakan sebuah masa lalu, Arsen laki-laki itu telah sampai di depan halaman kontrakan yang di diami oleh Nisa. Sebuah rasa tak yakin dan ingin memutar balik mobilnya pun timbul di benak laki-laki itu. Tapi baru saja ia menyentuh setir, seorang anak laki-laki datang dari arah depan.


Arsen mengangkat alis nya saat melihat Gabriel tidak dalam masa baik-baik saja. Wajah dan hidung anak itu merah, di matanya pun terdapat sebuah genangan yang selalu meluncur membasahi wajah mungil Gabriel. Namun, ada satu objek yang menarik perhatiannya, yaitu di belakang anak itu terdapat sekumpulan anak-anak sebaya dengan Gabriel yang sedang berteriak hingga kalimat yang diteriakkan oleh segerombolan anak-anak tersebut membuat Gabriel makin menitikkan air mata.


"Gabriel papannya nggak ada!! Huuuuuu!! Dasar anak halu, kata mama aku, papa kamu itu tidak akan pernah kembali lagi!!!...."


"Kata mama aku juga, kamu itu anak haram. Jadi papa kamu itu nggak ada!!!"


"Dan kamu jangan sok-sokan akan dibelikan papa mu mainan yang banyak sama papa kamu. Buktinya aja papa Gabriel nggak pulang-pulang, iya nggak teman-teman?"


"Iya. Ha ha ha," jawab mereka kompak dan tertawa mengejek.


Gabriel yang mendengar hinaan teman-teman nya pun menghentikan langkah kakinya. Ia memejamkan mata membiarkan aliran air mata terus berjatuhan. Anak itu sudah merasa sakit hati betul dengan teman-teman nya yang setiap hari tidak pernah absen menghinanya, bahkan bukan hanya para anak-anak saja yang selalu mengatainya tapi para orangtua juga sering kali ikut adil menghinanya.  


Anak itu berbalik badan dan menatap anak-anak seusianya dengan tampang mengerikan. Namun, usaha Gabriel untuk menggertak para anak-anak itu tidak berhasil. Bukan takut yang mereka dapatkan tapi malah tawa yang membuat Gabriel sedikit menekuk wajahnya.


"Kalian semua jahat!!! Kata mama, Iel punya papa kok, tapi papa lagi kelja jauh jadi tidak bisa datang nemuin Iel!!!" Teriak Gabriel tidak terima saat teman-teman nya menyebut ia tidak memiliki ayah.


"Ha ha ha. Liat dia, masih saja mau membela diri. Ha ha ha." Tawa mereka pecah kala wajah Gabriel yang merengut terpampang jelas di mata mereka.


Sedangkan Arsen yang berada di dalam mobil dan tentunya sudah menonton semuanya itu menjadi geram. Yang menambah kekesalan Arsen ialah, padahal tak jauh dari rombongan anak-anak itu terdapat para orangtua yang berdiri di sana. Tapi mereka malah melihatkan saja, dan parahnya lagi mereka terlihat juga ikut mengejek Gabriel.


Tak tahan melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya itu, Arsen keluar dengan ekspresi yang sangat-sangat marah. Setiap langkah kakinya seperti guncangan yang siap meruntuhkan apa-pun yang ada ada di bumi. Para orang-orang yang ada di sana menatap Arsen dengan penuh minat yang siap menerkam Arsen kapan pun.


Betapa terkejutnya para mahluk hidup yang berdiri tak jauh saat melihat Arsen menghampiri Gabriel dan memeluk anak itu dengan cukup lama. Tapi, bukan itu yang menambah keterkejutan mereka. Namun, sebuah perkataan yang mampu membuat khalayak yang ada di sana langsung ketakutan dan menghampiri anak mereka masing-masing dan membawanya pulang.


"Asal kalian semua ketahui, saya adalah ayahnya Gabriel Ahmad!!!"


_______

__ADS_1


TBC


Memang tidak sempurna, tapi tidak ada salahnya memberi Like dan comen


__ADS_2