Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 50 Flashback 1


__ADS_3

Flashback on


Amerika Serikat


Di suatu siang yang terang dan dan terasa hangat di musim panas ini membuat banyak orang menghabiskan waktu mereka dengan pergi ke pantai. Banyak para orang tua membawa anak mereka ke pantai yang sering dikunjungi oleh masyarakat di Amerika yaitu pantai Piedras Blanca yang terletak di kota California.


Sapuan ombak membuat pasir-pasir pantai terbawa arus air biru yang jernih. Terlihat dari kejauhan terdapat tiga orang anak yang umurnya diperkirakan sekitar 6 tahun lebih, sedang bermain kejar-kejaran. Tampak mereka begitu menikmati permainan tersebut, hingga suara gelak tawa terdengar merdu dari mulut ketiga anak itu.


Tiga diantara anak itu salah satunya adalah seorang perempuan. Anak perempuan itu begitu cantik ketika sorot matahari mengenai kepalanya, pantulan sinar matahari di wajah bak proslen itu bersinar sehingga membuat banyak decak kagum orang. Senyumnya merekah kala melihat kedua sahabatnya yang jenis kelaminnya laki-laki itu sedang memperhatikan dirinya dengan penuh senyuman.


"Ka Sarga! Ka Arsen!  Ayo kejar Ica lagi!" Serunya dengan penuh semangat, setelahnya anak perempuan itu tertawa dan berlari saat kedua anak laki-laki itu kembali mengejarnya.


Ica nama anak itu, terus berlari hingga sampailah ia pada bibir pantai yang sedikit dalam. Ica semakin berjalan ke tengah dengan penuh tawa cerianya, anak itu sangat riang saat matanya tak sengaja melihat dari jauh ada gelombang kecil menghampirinya. Ia tidak menjauh, namun justru bocah pemberani itu menunggu ombak tersebut.


Sedangkan di belakangnya, Sarga serta Arsen hampir mencapainya. Tak lama mereka tersenyum ketika telah berhasil menangkap Ica yang sedang asik menikmati semilir angin pantai dan menunggu ombak kecil itu menerpa dirinya.


"Nah Ica berhasil Arsen tangkap," ucapnya membuat Ica refleks berbalik.


"Sekarang Ica kalah kan." Itu adalah suara Sarga, Ica yang mendengar ucapan Sarga barusan mengercutkan bibirnya sehingga terlihat sangat mengemaskan di mata Arsen. Lantas anak laki-laki itu mencubit pipi gembul Ica.


"Auuu! Ka Arsen sakit tau," lenguh anak tersebut seraya memukul Arsen dengan lemah.


Pukulan lemah dari Ica membuat anak perempuan  itu langsung diejek oleh Arsen.


"Ya ampun ternyata tenaga Ica lemah. Iya kan Ga?"


Sarga mengangguk membenarkan ucapan Arsen. Ica yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya, namun pada saat anak itu menatap lurus ke hamparan air laut, matanya langsung melebar kala mendapatkan gelombang yang ia lihat dari kejauhan itu ternyata sudah dekat di hadapannya yang satu detik lagi akan menerpanya dan dengan ukuran gelombang itu lebih besar dari pada dilihatnya tadi.


Ica yang mengetahui jika itu sangat berbahaya bagi keselamatan Sarga dan Arsen, langsung mendorong kedua anak laki-laki itu menjauh dari bibir pantai. Sangat disayangkan sekali, meski ia telah menyelamatkan mereka berdua, namun tidak dengan dirinya. Ica harus merelakan dirinya demi keselamatan orang lain. Maka anak itu lah yang disapu ombak hingga ke tengah-tengah lautan.


Sarga dan Arsen yang melihat Ica ditarik arus laut langsung memekik. Kepala anak itu tenggelam timbul, tangannya melambai-lambai di udara meminta pertolongan. Ia merasakan kesadarannya semakin berkurang, hidung dan mulutnya tanpa bisa ia cegah dimasuki oleh air.


"Icaaaa!!!!!" Teriak Arsen dan Sarga bersamaan.


Arsen yang paling panik saat melihat Nisa semakin diseret arus. Tanpa disadari anak itu air matanya telah meleleh saat melihat sahabat perempuan yang paling disayanginya dalam masa kritis dan darurat.


"Sarga kita harus mencari bantuan orang lain. Ayo kita berpencar..." ajak Arsen dan langsung berlari mencari orang dewasa untuk menolong Ica.


Sarga tidak langsung melaksanakan perintah Arsen. Ia terdiam menatap punggung Arsen, ia dapat melihat temannya itu sangat khawatir terhadap Ica. Mata anak itu terlihat sedih, ia melirik Ica ke lautan yang terlihat berusaha bertahan di batang kayu yang hanyut di dekat pantai tersebut.


"Kau terlihat sangat khawatir Sen!" Lirihnya dengan nada serak, "sedangkan aku celaka, aku tidak pernah melihat mu sekhawatir seperti itu kepada ku. Benar dugaan ku kau menyukai Ica," gumam anak tersebut.


Setelah puas bermonolog sendiri, Sarga baru berlari mencari bantuan untuk menyelamatkan Nisa.


"Pak! Pak! Pak! Tolong teman saya yang hanyut di sana pak," ucap Arsen memohon sembari menunjuk ke arah Nisa yang tidak tahan lagi menjeda keadaan dengan bertahan di dekat sepotong kayu kecil.


"Baik dek. Adek tidak usah khawatir sebab kami adalah seorang penyelam, kami pasti akan menyelamatkan teman adek."


Orang itu bersama teman-temannya menatap ke arah Nisa, laki-laki tersebut langsung dengan sigap berlari ke arah pantai. Arsen dapat bernapas dengan lega ketika ia mendapatkan orang yang tepat untuk menolong sahabatnya, dikiranya tadi ini akan menjadi moment terakhirnya dengan orang yang paling disayanginya di dunia ini.


"Nisa kamu pasti bisa."


Arsen berlari menghampiri orang-orang yang telah berkerumunan untuk menyaksikan tim penyelam menyelamatkan Nisa. Ia menerobos kerumunan tersebut untuk berdiri di barisan paling depan, anak cowok itu berdiri di samping Sarga yang telah lebih dulu sampai.


"Semoga saja Ica selamat ya Allah."


Sarga yang mendengar nada Arsen yang penuh dengan permohonan pun melirik ke samping. Ada tetapan sedikit tidak rela melihat Arsen yang begitu perhatian dengan Ica, lalu ia kembali menatap Ica yang sedang diusahakan para penyelam untuk membawa anak gadis itu ke tepi pantai.


Ia menatap malas ketika Ica berhasil dinaikkan ke tepi pantai dan dibopong ke hamparan tanah untuk dilakukan penolongan lebih lanjut.

__ADS_1


"Semoga saja Ica tidak dapat diselamatkan," ucap Sarga pelan nyaris tidak terdengar oleh pendengaran normal.


Arsen yang tidak sengaja mendengar gumaman tak jelas Sarga itupun mengernyit.


"Apa yang telah kau katakan tadi?"


"Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa."


"Kau yakin. Aku jelas mendengar kau mengucapkan sesuatu, Sarga aku tidak ingin mendengar jika ada kebohongan."


"Terserah kau percaya atau tidak. Aku tidak peduli, jelas aku tidak ada mengatakan apa-apa." Sarga dengan cuek meninggalkan Arsen.


Arsen mendengus melihat temannya itu. Namun ia tidak ambil pusing dengan hal itu, ia sudah biasa dengan sikap Sarga yang selalu begitu. Entahlah ia tidak tahu mengapa Sarga selalu sensitif melihatnya jika ia dekat dengan Ica.


Laki-laki itu menghampiri Ica yang telah terbaring di atas tanah berpasir tersebut. Ia berjongkok di samping Ica, kemudian tangannya tersebut menyentuh pipi Ica. Saat tangannya bersentuh langsung dengan halusnya pipi Ica dapat ia rasakan getaran jantung yang tidak stabil di dadanya.


"Teman adek harus diberikan napas buatan untuk menyelamatkan nyawanya." Arsen langsung menjauhkan tangannya dari pipi Ica, lalu kemudian menatap orang yang memberikan suara tersebut.


"Jadi siapa yang harus memberikannya napas buatan?" Tanya Arsen sembari menatap tajam orang itu, "tidak kau kan yang memberikannya? Aku tidak rela jika kau yang memberikan napas buatan untuknya."


"Jadi siapa yang akan memberikan napas buatanya, jika tidak ditangani dengan cepat mungkin akan terjadi sesuatu kepadanya?"


"Biar aku saja yang memberikan napas buatannya!"


Sontak seluruh orang yang berkumpul di sana langsung menatap Sarga. Wajah anak laki-laki berusia 7 tahun itu terlihat sangat serius, sama sekali tidak ada keraguan di matanya.


Arsen langsung berdiri dan menghampiri Sarga dengan wajahnya yang ditekuk, "tidak. Aku tidak setuju jika kau yang memberikan napas buatan untuk Ica, biar aku saja yang memberikannya."


Anak laki-laki itu langsung mendekati Ica, tanpa ragu dan malu di wajahnya saat mendekatkan bibir ke bibir Nisa dan memberikan napas kehidupan untuk anak perempuan kecil itu. Satu detik kemudian bibir mereka resmi bersatu, dan Arsen dengan usaha memberikan napas kepada Nisa.


Sedangkan di sisi lain Sarga yang melihat itu dengan jarak yang sangat dekat, wajahnya berubah panas, ia mengepalkan tangannya dengan erat. Ekspresi tidak sukanya atas pemandangan itu semakin bertambah saat ia melihat Ica sadar dari pingsannya dan langsung memeluk Arsen sambil menangis.


"Husyut... Ica nggak boleh nangis, ka Arsen ada di samping Ica, dan akan selalu ada untuk selamanya." Tanpa sadar Arsen telah mengucapkan janjinya dengan sungguh-sungguh di lapangan terbuka.


"Ka Arsen janji," tanya Ica sembari membuka kelopak matanya untuk memastikan keseriusan ucapan Arsen barusan.


"Ka Arsen janji."


"Tidak bisa kah kalian menghentikan drama menjijikkan ini. Arsen lebih baik kau bawa pulang Ica sebelum kau diamuk tante Desi."


Arsen dan Ica menatap Sarga yang sedang jengkel dengan kedekatan mereka. Mereka tersenyum dan menatap geli Sarga yang sedang salah tingkah sendiri.


________


Di pagi hari yang cerah dan aroma khas pagi masih tercium, sekelompok anak kecil telah berkumpul di taman yang menjadi tempat bermain mereka.


"Ica kau suka bunga apa?" Tanya Sarga kepada Nisa dengan malu-malu.


Nisa menatap Sarga yang duduk di sampingnya. Ia tersenyum saat ditanya bunga kesukaannya, lantas anak itu menunjuk ke arah taman yang banyak ditumbuhi bunga melati putih.


"Aku suka bunga itu. Bentuknya cantik, warnanya indah. Harumnya semerbak banget. Pokoknya Ica suka sama bunga itu, selain itu juga Ica merasa bunga melati melambangkan kesucian melalui warnanya yang putih dan sangat dihargai melalui bentuknya dan wanginya, mereka memiliki daya tarik sendiri untuk membuat banyak orang tertarik dengannya. Ica ingin jadi seperti bunga melati."


Sarga menatap bunga melati itu, selanjutnya sebuah kedutan di kedua sisi bibir anak itu tertarik.


"Jadi kau menyukai bunga melati? Baiklah karena aku telah mengetahui bunga kesukaan mu, maka aku pergi dahulu." Sarga dengan cepat bagaikan hembusan angin langsung berlari meninggalkan Ica yang sedang berteriak menyerunya.


"Ka Sarga mau ngapain!!! Kok lari?"


Anak laki-laki itu berlari ke sebuah pohon besar yang terdapat di taman itu. Ia menghampiri orang yang telah menunggunya di balik pohon tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana? Kau mendapatkan apa yang menjadi bunga favorit Ica?"


"Ya aku mendapatkannya. Ica sangat menyukai bunga melati yang berada di ujung taman," jelas Sarga kepada orang yang telah memerintahkannya untuk mencari tau bunga kesukaan Ica.


"Kau yakin dia menyukai bunga melati itu?"


"Ya aku yakin Arsen, dia sendiri yang mengatakannya kepada ku."


Arsen menepuk pundak Sarga dengan senyuman tak kunjung henti di wajahnya.


"Terima kasih kau telah mau membantu ku."


Sarga tersenyum masam dari kejauhan sambil menyaksikan dengan mata telanjangnya Arsen memetik bunga melati tersebut, lalu menyerahkan bunga tersebut kepada Ica. Hatinya membara menyaksikan itu, ia sendiri yang salah yang mau dimanfaatkan Arsen untuk menanyakan bunga kesukaan Ica.


Bagaikan ada cubitan-cubitn kecil di dadanya saat harus melihat pemandangan yang sangat romantis untuk anak seusia mereka melakukan hal tersebut. Ia tidak tahan lagi harus melihat itu, jelas ia yang selalu ada di samping Arsen saat laki-laki itu berada di masa sulit, kini laki-laki itu telah bahagia dan ia dicampakkan begitu saja. Ia tidak rela, ia harus bertindak sesuatu.


Sarga mendekati mereka lalu mengambil bunga melati di tangan Ica yang diberikan oleh Arsen, kemudian ia menginjaknya hingga bunga itu benar-benar tidak berbentuk lagi.


"Apa-apaan maksudmu Sarga," geram Arsen sembari melayangkan tinjunya ke Sarga sehingga anak itu jatuh tersungkur.


Ica yang melihat kejadian itu langsung menghalau Arsen saat anak laki-laki itu kembali ingin meninju Sarga.


"Ka Arsen tolong hentikan. Kasihan ka Sarga."


"Ica jangan halangi aku. Aku ingin memberikannya pelajaran karena telah lancang merusak bunga melati itu," ucap Arsen dengan napas memburu.


"Ka kan masih banyak lagi bunga melatinya di sana."


Belum sempat Arsen berkata, namun secara tiba-tiba ia ditinjau balik Sarga sehingga membuat Ica yang melihat itu pun menangis.


"Kak...." Lirihnya sambil terisak.


Namun kedua anak laki-laki yang sama-sama telah terbakar kemarahan itu tidak mempedulikan tangisan Ica. Mereka melanjutkan kegiatan baku hantam tersebut hingga finalnya Arsen lah yang menang, sedangkan Sarga jatuh tersungkur dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.


"Kak hentikan," kata Nisa dengan nadanya sedikit penuh harapah. 


"Kenapa kau menginjak bunga itu?"


"Aku tidak suka melihat kau dekat dengan Nisa. Sen tidak pernah kau merasa jika selama ini aku sering tersakiti dengan kedekatan mu itu bersama Ica."


"Maksud mu?"


"Asal kau tau, aku rela menahan rasa sakit ku saat kau bercerita tentang Ica di depan ku, aku yang selalu ada di samping mu saat kau membutuhkan sesuatu. Tapi apa balasan mu untukku? Sen aku mencintai mu," aku Sarga.


Sontak Ica dan Arsen langsung melotot mendengar pengakuan Sarga. Arsen tersenyum mematikan lalu kembali memukul wajah Sarga dengan kuat.


"Kau memang sinting Sarga. Lebih baik kau tidak usah berteman dengan kami lagi, tempat terbaik mu adalah rumah sakit jiwa. Ku rasa kau perlu mengobati penyakit menyimpang mu itu." Ucap Arsen dengan tatapan remeh kepada Sarga, "Ica lebih baik kita pergi dari sini."


"Tapi kak...." Ica terdiam kaku saat Arsen dengan cepatnya membawa ia pergi dari sana.


"Awas kau Ica!!!! Aku akan membuat mu menderita seumur hidup mu....."


________


Tbc


Flashbacknya belum selesai ya teman-teman.


Like dan comen.

__ADS_1


Jika kalian bertanya kok up nya lama? Kan saya sudah bilang jika novel ini hiatus, namun saya ingin membuat kalian tidak terlampau penasaran dengan novel ini, maka sesekali saya akan up.


__ADS_2