
Angin malam berembus sepoi-sepoi, suasana malam yang penuh dengan kesunyian membuat siapa-pun bisa merasakan hawa dingin yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Nisa melirik ke samping, ia menatap laki-laki itu dengan canggung. Sebuah rasa tak nyaman satu mobil dengan Arsen datang menghampirinya.
Tangannya di bawah sana saling bertautan dan meremas. Ia memejamkan mata dan bersandar pada kursi mobil. Beberapa kali wanita itu terlihat gelisah kala merasakan dingin yang begitu menembus kulitnya sampai ke tualng.
Nisa pulang diantar oleh Arsen, karena laki-laki tersebut tadi memaksa ingin mengantarnya. Dengan terpaksa Nisa mengizinkan laki-laki itu mengantarkan dirinya sampai ke kontrakan.
Saat ini Nisa duduk di samping Arsen yang sedang menyetir mobil. Nisa membuka matanya lalu melirik jam tangan yang tidak terlalu mahal tersebut, ia berdecak kesal karena ternyata waktu telah menunjukkan pukul 00:05 WIB. Sebelumnya ia tidak pernah tidur sampai jam segini.
Ia menguap akibat rasa kantuk menerjangnya. Dengan susah payah ia menahan matanya agar tak terpejam, ia tak bisa membiarkan tertidur di dalam mobil Arsen apalagi ia tengah berdua dengan laki-laki itu, entar bisa ajakan ada yang ketiganya.
Nisa memeluk tubuhnya sendiri untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya. Baru saja ia merasakan sedikit tenang, tiba-tiba saja Arsen menghentikan mobilnya. Hingga kepalanya hampir membentur depan mobil. Nisa menarik napas, Arsen sepertinya mengajak dirinya mati sama-sama.
"Ada apa?" Tanya Nisa melirik laki-laki itu penuh tanya. Jelas aneh baginya karena laki-laki tersebut menghentikan mobilnya di jalanan yang sunyi.
Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan Nisa. Ia memandang depan cukup lama sebelum menatap Nisa dingin. Nisa merasakan sesuatu yang aneh pada diri Arsen, ia berusaha tenang dan makin memeluk tubuhnya seerat-eratnya.
Laki-laki tersebut menarik napas. Lalu kemudian ia membuka jas nya, Nisa tercekat melihat apa yang dilakukan Arsen. Namun, sedetik kemudian ia bernapas tertahan, karena laki-laki itu mengenakan jas milik pria itu pada tubuhnya yang mungil agar perempuan tersebut tak merasakan kedinginan lagi.
"I-ini," tunjuk Nisa seraya menyentuh jas yang dibalutkan ke tubuhnya.
Arsen tak menjawab namun sebelum ia menancap gas kembali, laki-laki tersebut sempat melirik Nisa. Ketika melihat wanita yang ada di sampingnya sudah membaik tak seburuk tadi, ia menghidupkan mesin mobilnya lalu membelah jalan raya.
Nisa terperangah di tempat, ia terdiam menitis sepi malam. Nisa sedikit tersenyum sembari menatap jas yang diberikan Arsen kepada tubuhnya, sesudahnya ia melirik pada Arsen yang sedang fokus menyetir. Wajah laki-laki tersebut sungguh menggoyahkan imam, bulu-bulu disekitar rahang tegasnya menambah ketampanan dari Arsen.
Sebelum perempuan tersebut menutup matanya, ia menyempatkan untuk memandang Arsen. Lalu kemudian ia mengatupkan kedua matanya hingga tak lama dengkuran yang berasal dari perempuan itu terdengar.
__ADS_1
Arsen yang mendengar suara dengkuran Nisa pun lantas melirik wanita tersebut. Ia menatap lama Nisa lalu menarik napas, terlihat sekali wajah lelah di muka wanita itu.
Waktu terus berputar, mobil terus melaju. Suara semilir angin berhembus, suara ranting pohon saling bertabrakan terdengar akibat lambaian dedahanan yang diterpa angin. Dia laki-laki bernama Arsen yang sedari tadi hanya mengabaikan Nisa pun sedikit menatap Nisa, ia menepikan mobilnya di jalan raya.
Setelahnya ia bersandar pada tempat duduk mobil, lantas melirik seorang wanita yang sedang dibawa oleh mimpi itu. Cukup lama ia memandang wajah itu, tanpa laki-laki itu sadari sebuah bulir yang lama tertahan akhirnya keluar dengan deras.
Dengan susah payah ia menarik napas akibat hingus di hidungnya. Ia benci kembali menjadi dirinya yang seperti dulu. Laki-laki yang cengeng, dan selalu mengalah dalam segi apa-pun. Dia telah merebut segala kebahagiaan Arsen, dia yang mengubah senyuman Arsen menjadi raut masam, dia yang sudah membuat ia kehilangan orang yang disayanginya. Arsen sungguh sangat membenci seseorang DIA? Ia malas sekali ingin menyebut siapa DIA itu sebenarnya.
Arsen mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Nisa. Dengan penuh perasaan ia mengecup puncak kepala Nisa dengan hikmat. Air mata yang dari tadi keluar pun menetes tepat di pipi Nisa.
"Maafkan aku Ica," pintanya dengan lirih dan mengusap kepala Nisa. "Aku selalu bodoh dan lemahkan Ca? Aku hanya berani dekat dengan mau saat kau tak menyadarinya. Dosaku denganmu sudah cukup terlalu banyak, aku membenci diriku yang selalu tak bisa menjauhkan bayang-bayang dirimu di kepalaku."
"Maafkan aku selalu bersikap dingin dengan mu. Asal kau tau Ca! aku melakukannya demi kamu, agar DIA tak bisa menyakiti kamu lagi dan menemukan mu. Andai kau masih ingat siapa aku."
Arsen menghapus air matanya sebelum ketahuan oleh Nisa. Ia menjalankan kembali mobil tersebut meninggalkan tempat ia berhenti sejenak tadi. Sepanjang perjalanan ia memandangi wajah Nisa, rasa rindu jelas terpancar di mata laki-laki itu.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba pintu kontrakan dibuka, yang pertama kali ia lihat adalah seorang bocah laki-laki dengan wajah khas bangun tidur membukakannya pintu. Anak itu beberapa kali mengerjap gemas. Lalu melirik Arsen yang tengah tersenyum.
"Om Arsen! Om ngapain ke sini, itu bunda kan?" Tanyanya sambil menunjuk Nisa yang di dalam gendongan Arsen.
__ADS_1
"Iya ini bunda dimana kamar bundamu?"
"Bunda tidur ya Om?"
"Iya."
Gabriel yang mendapatkan jawaban tersebut lantas langsung menunjukkan dimana kamar Nisa. Anak itu melangkah memimpin perjalanan, sedangkan Arsen mengekor dari belakang.
"Ini Om kamarnya." Arsen ber oh ria, lalu membawa wanita itu masuk kedalam kamar yang tak sebesar kamar Arsen, mungkin kamarnya empat kali lipat lebih besar dari pada kamar ini.
Arsen merebahkan Nisa di atas kasur yang tidak terlalu empuk itu. Lalu menarik selimut untuk menjaga tubuh Nisa agar tak kedinginan. Setelahnya Arsen ingin keluar dan berpamitan dengan Gabriel terlebih dahulu.
"Om mau kemana?"
"Om mau pulang Iel," kata Arsen sesabar mungkin.
"Nggak usah Om. Om di sini aja tidur bareng bunda sama Iel, Iel ingin rasain tidur dengan keluarga lengkap, kaya teman-teman Iel. Ayo om Arsen sini baring dekat Iel." Anak itu naik ke ranjang dan berbaring di samping Nisa.
"Tapi om nggak bisa Iel."
Sesaat kemudian mata Gabriel memerah, ia seperti ingin menangis, ketika permintaannya yang menjadi sebuah cita-cita itu ditolak oleh Arsen. Laki-laki tersebut yang melihat perubahan Gabriel kontan langsung mengiyakan saja kemauan anak itu.
Jika ini berdosa maka ia rela menanggung semua dosa-dosa tersebut. Ia ingin Nisa dan Iel bahagia, walaupun dirinya yang harus terluka. Kalian jangan salah mengira, Arsen dan Nisa pernah memiliki cerita, sebuah cerita yang sangat sakit sekali untuk diceritakan. Namun rasa ingin menjaga rahasia besar itu sirna kala malam itu terjadi, malam yang menghancurkan semuanya dan malam yang membuat Gabriel ada.
_________
__ADS_1
TBC