Tragedi Malam Itu

Tragedi Malam Itu
Part 43


__ADS_3

Suara gemirsik daun bergesekan dengan ranting-ranting terdengar nyaring. Angin berembus pelan-pelan memberikan bumbu-bumbu terhadap keheningan yang tengah terjadi sekarang. Gabriel mengerjapkan matanya sayu-sayu menatap seorang wanita yang berperawakan seperti model itu.


Ia baru pertama kali melihat wanita yang sedang berdiri di depannya sekarang ini, namun entah mengapa ia merasa tidak suka terhadap perempuan tersebut, Alinta. Gabriel bocah yang baru saja beberapa tahun melihat dunia itu menatap Alinta dengan membunuh. Ia bersedekap dada dengan angkuhnya berdiri di depan Alinta seolah siap menantang wanita tersebut.


Sedangkan Alinta mengerutkan keningnya kala baru menyadari ada anak kecil di tengah-tengah mereka. Sejenak ia memperhatikan Gabriel seksama. Ia merasa familiar dengan wajah itu, seperti pernah melihatnya, mata itu, dan...


Mata Alinta melebar saat ia telah mengingat di mana ia pernah melihat orang yang serupa dengan Gabriel. Seakan tidak percaya dengan keadaan sekrang, ia mengarahkan pandangannya kepada Arsen menatap laki-laki yang terlihat datar tersebut dengan penuh tanya. Ia menggelengkan kepala tidak mungkin, dan ia kembali lagi melihat Gabriel. Namun ekspresi Gabriel yang benar terlihat sangat tidak menyukainya, nyata membuat Alinta berusaha mengintimidasi anak tersebut.


Tapi, bukannya ia berhasil memberikan rasa takut terhadap Gabriel, namun ia yang merasa terintimidasi oleh anak itu. Sial memang. Sedangkan Nisa yang baru menyadari siapa perempuan itu, menundukkan kepala. Ia ingat siapa perempuan itu, dia adalah tunangan Arsen. Nisa berusaha menstabalikan perasaan ini, ia juga tidak tahu mengapa, saat mengingat siapa Alinta dadanya sangat terasa sesak sekali.


Tanpa disadari orang, wanita itu berusaha menguatkan batinnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan perasaannya ini, saat tahu Alinta adalah tunangan dari Arsen, tiba-tiba ia merasa tidak rela. Padahal apa urusannya jika Alinta dengan Arsen adalah sepasang tunangan yang satu langkah lagi akan menuju kepelaminan.


Tidak Nisa, tidak. Kamu bukan siapa-siapa, jadi jangan berpikir yang macam-macam. Bukan kah itu adalah suatu berita yang bagus, jadi kamu tidak perlu repot menjauh dari Arsen, yah ini pasti salah. Batin Nisa menampik kasar sesuatu yang menelusup di hatinya.


"Pa siapa sih tante ini, mukanya mirip badut. Merusak pemandangan aja, padahal Iel kan lagi senang hali ini. Tiba-tiba tante ini datang, Iel jadi bad mood," adunya kepada Arsen, dan tidak lupa pula ia menyelipkan kata yang sangat menyinggung sekali perasaan Alinta.


Alinta tidak terima saat ia direndahkan oleh seorang bocah. Wajahnya memerah yang melambangkan jika perempuan itu sedang tersulut amarah. Di bawah sana tangannya mengeras, dengan usaha ia tersenyum.


"Berani sekali kamu anak kecil membilangku mirip badut," desis Alinta, selangkah ia maju ingin memberikan pelajaran kepada anak umur lima tahun itu.


Sama sekali tidak ada rasa takut di mata Gabriel saat Alinta mendekat ke arahnya. Anak itu malah memberikan tantangan, siap berduel dengan Alinta.


Saat Alinta ingin mengayunkan tangannya dengan maksud mendorong anak itu, Gabriel berucap yang membuat Alinta tersentak dan terdiam. Wajahnya langsung beku di tempat.


"Tante tidak tau ya, jika kita ingin menyakiti orang lain hukumnya berdosa. Nanti tante bisa masuk nelaka, telus dipanggang sama malaikat Malik." Alinta mengerjap, whatt? Apa ini mimpi? Baru pertama kali ada orang yang berani menceramahinya, dan apalagi orang itu hanyalah seorang bocah ingusan.


Setelah mendengar ucapan dari  Gabriel tadi, yang mampu membuat Alinta kehabisan kata-kata. Ia mendengus kesal, tatapannya sangat mudah diterjemahkan bahwa dia sedang dalam mode tidak baik. Demi menjaga image nya, Alinta berdiri dengan angkuh, mengibaskan rambutnya.


Arsen menggelengkan kepala ketika melihat pemandangan yang menjijikkan. Dikira perempuan itu, ia akan tertarik. Cih!! Sama sekali ia tidak tertarik, walau satu detik.


Arsen melirik Alinta dengan pandangan mengejek, walaupun umpatannya terhadap Alinta tidak tersampaikan, tapi dengan ucapan Gabriel tadi cukup mewakili apa yang sudah lama ingin disampaikannya.


"Apa kau tidak dengar Alinta apa yang telah dikatakan anak ku, kau hanya merusak pemandangan saja berdiri di depan kami. Tolong minggir aku dan anak ku ingin pergi ke toko ice cream, jangan halangi jalan kami."


Kaget. Itulah yang tengah dirasakan Alinta. Dadanya bergemuruh, ternyata dugaannya benar. Tapi bagaimana bisa? Alinta menatap Nisa yang setengah menunduk,  wanita itu tidak berani melihat wajah Alinta.


Sedetik kemudian, terdengar tawa Alinta yang pecah membuat semua orang di sana menatap wanita itu heran.

__ADS_1


"Wow ternyata zaman sekarang ****** juga berhijab. Dasar munafik, jangan sok alim kalau nyatanya tak lebih dari seorang *******. Dan parahnya lagi sampai memiliki anak. Ini adalah sebuah berita yang sangat lezat. Bagaimana jika Ibu mu tau kau memiliki seorang anak, Alex. Aku tidak bisa membayangkan ekspresinya."


Tangan Arsen mengepal, urat-uratnya mengeras mendengar ucapan Alinta. Laki-laki itu langsung menatap sengit Alinta seolah memberikan peringatan kepada wanita itu.


"Sudah ku katakan, kau itu hanya merusak pemandangan, kebahagiaan anak ku hancur,  gara-gara kau. Dan satu lagi jangan sok tau dengan hubungan kami." Arsen meraih tangan anak itu dan membawanya menjauh dari Alinta. "Minggir."


Alinta tak kunjung menjauh, wanita itu memandang ketiga orang yang  di depannya tajam. Ia berjalan mendekat kepada Nisa, sekilas ia melihat wajah itu, kala menyadari kecantikan Nisa yang melebihi dirinya, membuat emosi wanita tersebut tidak bisa ditahan lagi.


"Berani sekali kau merusak hubungan kami, dasar murahan. Orang rendah seperti mu tidak pantas menjadi bagian keluarga Wijaya Altas."


Plakkkk


Dengan keras Alinta menampar wajah Nisa. Nisa tertoleh ke samping akibat keras dan derasnya tamparan tersebut, hingga rasa panas menjalar menjelajahi permukaan Wajah bak proslen itu.


Gabriel serta Arsen yang menyaksikan perlakuan kasar Alinta kepada Nisa langsung mengeras. Gabriel menangis kala melihat ibunya dianiaya, ia tidak terima melihat ibunya merasa sakit. Lantas bocah itu langsung mendorong Alinta cukup keras. Tidak mau kalah dengan sang anak Arsen menatap Alinta yang sedang ketakutan lalu memberikan tamparan yang lebih keras kepada wanita itu.


"Berani sekali kau menampar Nisa ku."


Setelah memberikan tamparan, Arsen terkekeh, bibirnya menyeringai. Kemudian ia mengambil sesuatu dibalik saku celananya, yaitu pisau lipat. Pisau lipat tersebut tidak pernah absen di saku celananya. Ia selalu membawa benda tajam itu kemana pun ia pergi.


"Mau kemana kau hah," ucapnya devil. "Karena kau telah berani melukai Nisa ku, maka kau akan mendapatkan dua kali lipat lebih sakit darinya."


"Alex stop, aku tidak sengaja."


"Apa kau bilang? Tidak sengaja?" Arsen terkekeh, "jangan pernah mencari alasan yang tidak masuk akal."


Arsen mengangkat tangannya bersiap memberikan sebuah goresan di wajah Alinta yang sudah dialiri darah bekas tamparan nya tadi. Namun, baru saja ujung pisaunnya menyentuh wajah penuh polesan itu, sebuah suara membuatnya berhenti dan menatap orang itu.


"Alex hentikan, dia tidak bersalah. Aku yang salah, Alinta itu tunangan kamu, wajar dia cemburu kepada ku. Siapa yang tidak sakit hati melihat tunangannya sendiri memiliki anak dari wanita lain. Jika aku berada di posisi Alinta, aku juga merasakan hal yang sama." Marah Nisa, air matanya jatuh. Dengan segenap rasa ia menyeka air bening dan asin itu. Sungguh ini bukanlah impiannya menjadi seorang perusak hubungan orang lain.


Arsen memandang Nisa tidak setuju. "Apa kau tidak bisa melihat apa yang telah dilakukannya kepada mu. Dan kau masih mau membelanya?"


"Dia melakukan itu kepada ku, karena memang aku pantas mendapatkannya," ucap Nisa lirih, ada luka yang terdapat di setiap katanya.


"Kau ini kenapa?" Arsen berusaha tidak menghiraukan permintaan Nisa. Ia akan tetap menggores wajah Alinta meski Nisa telah melarangnya.


Sebuah goresan panjang di wajah Alinta, berhasil membuat senyum Arsen mengembang bangga. Namun, tidak dengan Nisa. Wanita itu semakin membenci Arsen, ia menutup mata Gabriel agar anak nya tidak melihat perbuatan keji Arsen yang terang-terangan ia lakukan di depan umum, bahkan banyak orang yang menatap ke arah mereka dan tidak lupa pula merekamnya.

__ADS_1


Nisa yakin pasti akan ada masalah baru lagi yang akan menyeret namanya. Arsen memang pantas ia sebut dengan ********.


"Brengsek kamu Lex, aku benci dengan mu," ucap Nisa yang sengaja menyebut Arsen dengan sebutan Alex, sebab ia tau laki-laki itu sedang berperan menjadi Alex berpura-pura menjadi seorang laki-laki yang hilang ingatan. "Iel mari kita pulang," ajak Nisa lantas menarik Gabriel.


Anak itu menahan tangannya. Dan hal itu menciptakan lipatan kerut kening Nisa. "Nda, Iel nggak mau pulang sebelum jadikan tante jahat itu somai bun."


"Apa kau tidak mendengarnya?" Tanya Arsen kepada Nisa, jelas tangannya gatal sekali masih ingin memberikan luka di wajah Alinta lebih dalam lagi.


"Bun Iel mau beri pelajaran tante jahat ini yang sudah berani pukul wajah bunda," rengek yang tidak dihiraukan Nisa.


Nisa memandang Arsen, lalu ia kembali menatap Gabriel, sebuah senyuman ayang terlihat terpaksa terpancar di wajahnya.


"Iel tidak boleh balas dendam, Allah tidak suka dengan orang yang pendendam. Yaudah kita pulang aja."


Nisa membawa Gabriel manja dari sana. Ia sama sekali tidak menatap Arsen saat pergi dari sana.


Arsen hanya bisa terdiam kala melihat Nisa dan Gabriel pergi meninggalkannya, ia memandang Alinta penyebab hancurnya kebahagiaanya hari ini. Wanita itu terisak meratapi wajahnya yang dirusak oleh Arsen, mirisnya lagi laki-laki itu melakukannya di tempat yang terbuka.


Tiba-tiba terdengar sebuah dering ponsel dari dalam saku celananya. Arsen mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.


"Ada apa?"


"...."


"Baiklah sebentar lagi aku akan ke sana."


Arsen memasukkan kembali Handphonnya ke dalam kantong celana, saat sambungan telepon telah terputus. Ia memandang Alinta sebelum pergi, ekspresi jijik ditunjukkannya. Ia tidak peduli dengan wanita itu, mau dia masuk rumah sakit atau bahkan mengadu kepada orang tuanya.


_______


TBC


Like dan comen


Buat kalian yang mau bilang chapter ini membosankan bilang aja, karena aku juga mengakuinya.


Lanjutnya insyaallah akan dilanjutkan sore ini setelah pulang pramuka jika tidak ada halangan.

__ADS_1


__ADS_2