
Chapter 120. Penyamaran Terbongkar.
Tian Zhi telah masuk ke dalam cincin dimensi bersama Xinxin dan Yun Yun, dia sengaja tidak meminta kedua wanita yang akan menjadi kekasihnya membuka mata.
Secara maksimal Tian Zhi mengeluarkan aroma afrodisiak. Seketika kedua wanita itu mengendus aroma harum yang mereka kenali dan membuka matanya dengan menjauhi Tian Zhi. Mereka menatap tajam Tian Zhi.
Sebagai seorang pembunuh bayaran, mereka berdua telah terlatih dalam menangani pengaruh aroma afrodisiak yang juga menjadi andalan mereka untuk membius targetnya, disaat target lengah mereka berdua langsung membunuhnya.
Namun kedua wanita itu terlambat menetralisir aroma afrodisiak yang telah memasuki tubuhnya. Wajah Xinxin dan Yun Yun menjadi memerah dan nafas mulai terengah-engah dengan tetap melihat wajah Tian Zhi. Kedua mata wanita itu menjadi lembut dan penuh gairah, mereka berjalan mendekati Tian Zhi dengan melepaskan pakaiannya tanpa disadari.
Tian Zhi terkejut saat melihat wajah kedua wanita itu telah berubah, si Xinxin menjadi He Hua dan si Yun Yun menjadi Miao Jiang. Penyamaran mereka terbongkar karena aroma afrodisiak menetralisir Pil Perubahan Wajah.
Karena sudah lama tidak merasakan hubungan intim, Tian Zhi tidak memperdulikan siapa mereka, apalagi wajah mereka berdua sangat cantik dengan tubuh yang proporsional. He Hua mencium bibir Tian Zhi, sedangkan Miao Jiang memeluk sambil melepaskan pakaian Tian Zhi.
Segera Tian Zhi membawa mereka ke dalam kamar pribadinya.
He Hua yang tidak sabaran merebahkan dirinya di tempat tidur sambil membuka kedua pahanya untuk mempersilahkan tongkat Tian Zhi untuk masuk, dimana lembah surganya telah basah dan siap dihajar.
Perlahan Tian Zhi menempatkan kepala tongkat pada bibir lembah surga He Hua yang bersih tanpa rambut dan berwarna merah muda, tembem dan membuat siapapun menjadi lapar ingin segera melahapnya, lubangnya tampaknya sempit dan seperti belum pernah dimasuki tongkat.
Tian Zhi merasa heran, dia pikir He Hua sudah tidak gadis lagi sebagai seorang pembunuh bayaran, karena penasaran apakah He Hua masih gadis atau tidak, dia segera memasukkan kepala tongkat secara berlahan.
"Hmm! " He Hua merasakan kenikmatan saat lembah surganya diterobos tongkat yang begitu besar dan panjang, namun dia sedikit meringis saat selaput kesuciannya terkoyak.
Tian Zhi segera mencium bibir He Hua agar tidak kesakitan, tapi justru kedua kaki He Hua melingkar di pinggang Tian Zhi dan menekannya agar terus bergerak.
Diberikan ijin untuk bergerak setelah menghancurkan kesucian He Hua, Tian Zhi segera membenamkan tongkatnya dengan lembut, dia menjadi mencintai He Hua dan perasaan yang aneh seakan-akan terbebas, dan tidak ingin melepaskan He Hua lagi, apalagi He Hua ternyata masih gadis...
Tidak tahan melihat pemandangan yang begitu membangkitkan kewanitaannya, Miao Jiang segera memegang kepala Tian Zhi dan mencium bibirnya, sambil meminta Tian Zhi untuk memainkan buah kenyalnya.
“Oh.… oh… mm … Tian…. mm… aduh….” suara He Hua makin membuat Tian Zhi bersemangat, terus memajukan dan mundur pinggulnya. Walau He Hua merasakan perih pada lembah surganya yang masih sempit, dia ingin Tian Zhi mempercepat hentakan-nya.
Jari-jari Tian Zhi mulai ikut ambil bagian untuk masuk ke dalam liang Miao Jiang setelah puas memainkan buah kenyalnya, sementara itu lidah mereka masih saling beradu.
__ADS_1
"Ah … Tian… aku nggak tahan Tian…. aduh…!" suara He Hua makin tak terkendali dan tangannya mulai menjambak rambut Tian Zhi dengan keras sementara itu otot-otot kedua kakinya mulai menegang.
Tampaknya tidak berapa lama lagi He Hua akan mengalami puncak surga ketujuh untuk pertama kalinya. Sementara itu samar-samar Tian Zhi merasakan lembah surga Miao Jiang seperti mengigit jarinya, tanda juga akan mencapai puncak kenikmatan, Tian Zhi membenamkan jari tengah makin masuk dan terkejut saat merasa ada penghalang.
Tak ingin dirusak oleh jarinya, Tian Zhi menarik lagi jarinya dan memainkan biji sebesar ujung kelingking, Miao Jiang merapatkan kedua pahanya saat dirinya segera mencapai puncak.
"Tian … Tian … mm… aku nggak tahan lagi… aku mau keluar…. mm…. ah…ah…," akhirnya seluruh tubuh He Hua menegang selama beberapa saat dan kemudian terkulai lemas.
Kulitnya yang putih tampak berubah agak memerah, He Hua mengalami puncak kenikmatan duniawi untuk pertama kalinya. Dia tergolek lemas dengan mata terpejam dan mulut terbuka sementara itu lembah surganya yang merah seperti daging mentah tampak masih berdenyut-denyut mengeluarkan sisa-sisa kenikmatan.
Tian Zhi perlahan-lahan mulai membaringkan Miao Jiang tanpa melepaskan ciuman, setelah beberapa saat lalu terbuai oleh kenikmatan surga dunia, lalu Miao Jiang membuka lebar kedua pahanya dan memperlihatkan lembah surganya yang ditumbuhi sedikit rambut berbentuk segitiga dan sangat terawat.
Melihat milik Miao Jiang yang menantang, Tian Zhi yang belum mencapai puncak segera memainkan kepala tongkatnya di bibir lembah surganya, dan melihat wajah Miao Jiang tampak tidak sabaran ingin merasakan tongkatnya. Walaupun Miao Jiang baru saja merasakan puncak dunia kenikmatan, dia ingin seperti He Hua yang masih mengatur nafas setelah terpuaskan.
“Ah...! Cepat masukan…! " mohon Miao Jiang yang mana Tian Zhi mempermainkan lembah surganya.
Akhir Tian Zhi perlahan-lahan membuka lembah surga Miao Jiang dengan jarinya sehingga bibirnya membelah dan menampakkan lubangnya yang bisa mengundang keganasan setiap lelaki.
Dengan perlahan-lahan Tian Zhi menuntun kepala tongkatnya untuk menuju lubang kenikmatan milik Miao Jiang yang sudah siap menanti sejak tadi, dan… bless… dengan sekali sentakan ringan tongkat masuk ke dalam lembah surganya dan berhenti saat terhalang kesucian Miao Jiang, lalu Tian Zhi segera menerobos dengan secara berlahan dan berhenti setelah berhasil menghancurkan kesucian Miao Jiang.
Rupanya He Hua sudah pulih dan mendekati Tian Zhi untuk meminta ciuman. Tian Zhi tersenyum nakal dan segera mencium He Hua sambil dua jari tangan kiri memainkan lembah surganya.
"Aduh...!! Xiang… tongkatnya sampai ke ujung… enak banget….mm… terus sayang… tusuk yang kuat sayang… aku suka…. mm… mm…. Hmm ...” Miao Jiang berbicara tak karuan seperti He Hua saat akan mencapai puncak, tampaknya Miao Jiang akan segera menikmati nikmatnya surga dunia untuk kedua kalinya.
Suara hentakan beradunya tongkat dengan lembah surga Miao Jiang dan suara berderit ranjang yang bergoyang menyertai gelora hubungan intim mereka bertiga yang ganas.
Tidak berselang lama Miao Jiang mencapai puncak lagi dengan ditandai tubuhnya yang melengkung dan lembah surganya yang berdenyut-denyut, dan seketika dia lemas.
Tian Zhi yang belum puas segera mendorong tubuh He Hua dan tanpa memberikan kesempatan He Hua mengatur posisi, Tian Zhi menindih dan mencium bibirnya, lalu tongkatnya langsung menerobos secara berlahan karena masih sempit.
Tidak berselang lama...
"Ah ... mm… aku keluar lagii….. aduh … Enak banget…… argh…!"
__ADS_1
Akhirnya He Hua juga merasakan puncak kenikmatan duniawi untuk kedua kalinya. Tian Zhi yang belum sekalipun keluar, dia tidak memberikan kesempatan He Hua menikmati sensasi indahnya surga dunia, dia menghentak pinggulnya makin kencang.
Waktu berlalu hingga delapan waktu dupa dan Tian Zhi membuat kedua wanitanya kewalahan, dia juga secara berlahan mengurangi aroma afrodisiak hingga tidak menggunakannya lagi, sebab He Hua dan Miao Jiang telah dia miliki untuk selamanya.
Dua hari berlalu, Tian Zhi membuat kedua wanita yang baru bangun terus dihajar tanpa henti dan membuat kedua wanitanya menjadi takluk. Kini mereka bertiga beristirahat sejenak setelah dua hari bergumul.
"Kenapa kalian menyamar? Dan apa tujuan kalian yang sebenarnya? " tanya Tian Zhi sambil memeluk kedua wanitanya.
He Hua dan Miao Jiang menghela nafas berat dan untuk mengatur bahasa yang tepat. Kemudian, He Hua berbicara:
"Sebenarnya sejenak pertama kali melihatmu aku memiliki perasaan, yang entah seperti mengenalmu sejak lama, padahal baru bertemu. Karena itu aku selalu menarik perhatianmu untuk mengenal perasaan ku lebih dalam. Selain itu ..., "
He Hua berhenti berbicara saat jawaban penting akan dia katakan, lanjutnya:
"Kami mendapatkan misi untuk menemukan Batu Keabadian... Menurut informasi dari Master Yan, kamu telah memiliki tiga dari tujuh Batu Keabadian dan tugas kami berdua untuk membuatmu takluk, sehingga kamu menyerahkan tiga Batu Keabadian..., "
Perasaan He Hua, Miao Jiang juga sama seperti yang dirasakan oleh Tian Zhi.
Mereka tidak tahu jika dimasa lalu sebelum bereinkarnasi adalah pasangan suami istri, He Hua adalah Yang Hua dan Miao Jiang adalah Yang Xiaoping, sedangkan Tian Zhi sendiri adalah Excel Shimo si Dewa Binatang.
Ingatan mereka bertiga telah dihilangkan oleh si Yuke tangan kanan Dewi Cahaya, tapi si Yuke tidak bisa menghilang Alam bawah sadar yang masih menyimpan kenangan, sehingga mereka bertiga bisa merasakan getaran ikatan batin.
Dewi Cahaya adalah penguasa Alam Semesta Aurora yang bernama Yuna alias Ratu Yuna Aurora, seseorang putri dari penguasa Alam Semesta Arcadia.
He Hua dan Miao Jiang mendapatkan tugas dari Master Yan untuk mengumpulkan tujuh Batu Keabadian dengan segala cara, dia juga mengetahui jika Tian Zhi memiliki tiga Batu Keabadian.
Master Yan ingin sekali turun tangan untuk merebut paksa Batu Keabadian, tapi dia kuatir jika Tian Zhi menyebarkan batu tersebut hingga akan menyulitkan dirinya untuk melacak keberadaan Batu Keabadian, sebab itu dia menggunakan metode secara pendekatan kepada Tian Zhi.
He Hua dan Miao Jiang tidak tahu sejatinya Master Yan, sebab selalu menutup wajahnya dengan Topeng Emas. Mereka hanya tahu jika Master Yan adalah pendiri Organisasi Tangan Hitam sekaligus pemimpinnya.
"Mulai detik ini, hidup dan mati kita selalu bersama. Untuk saat ini, kalian tetap melakukan sesuai rencana Master Yan, karena saat ini kita masih lemah untuk melawannya. Aku sendiri juga akan tetap menjadi seorang pembunuh agar tidak menimbulkan kecurigaan Master Yan, " kata Tian Zhi setelah He Hua dan Miao Jiang saling berganti berbicara, dia merencanakan untuk memanfaatkan Organisasi Tangan Hitam agar bisa mencapai puncak secepat mungkin.
"Iya, aku juga berpikiran begitu! " jawab Miao Jiang sambil memainkan tongkat Tian Zhi yang masih berdiri kokoh.
__ADS_1
"Aku akan membuat laporan palsu, jika kamu sulit untuk ditundukkan hatinya dan mengharuskan kita untuk bersabar daripada kehilangan Batu Keabadian! " ujar He Hua yang menambahkan rencana mereka bertiga.