
Chapter 149. Menguji Senjata Utama.
Dulu, sewaktu He Hua dan Miao Jiang menjalankan misi dari Balai Pekerjaan Umum, mereka bertemu dengan Tim Lima Falcon. Ketika itu Tim Lima Falcon hampir saja memperkosa He Hua dan Miao Jiang.
Beruntung He Hua dan Miao Jiang lolos dari Tim Lima Falcon karena memiliki Teknik khusus yang pernah Tian Zhi alami ketika mengikuti kompetisi Asyura Path di Benua Peri, berubah menjadi boneka lilin yang mengeluarkan racun pelumpuh tulang.
Namun saat di dalam wilayah Istana Surgawi, Tim Lima Falcon jelas tidak berani berbuat macam-macam karena aturannya sangat ketat, dan setiap penghuni maupun murid harus menjaga kesucian wilayah Istana Surgawi.
Sedangkan He Hua dan Miao Jiang juga tidak melaporkan perbuatan mereka berlima, sebab mereka telah mendapatkan siksaan yang telah terkena racun pelumpuh tulang selama beberapa hari.
Saat itu Tim Lima Falcon dan Dua Peri Bersaudari selalu bersitegang ketika diluar lingkungan wilayah Istana Surgawi. Tapi He Hua dan Miao Jiang selalu menghindari mereka karena kalah dalam hal kekuatan.
Dua Peri Bersaudari adalah julukan bagi He Hua dan Miao Jiang di Akademi Istana Surgawi, karena kecantikan yang unik dan wajah mereka mirip seperti saudari kandung.
"Apa ketua Wei Yan yang memerintahkan mereka?" tanya Tian Zhi kepada kekasihnya.
"Pasti ... Ini pasti keponakannya yang memberikan laporan!" jawab Miao Jiang, dan membuat Tian Zhi tersenyum penuh kemenangan saat membayangkan kemarahan Ketua Wei Yan ketika dia membunuh lagi murid-muridnya.
"Kita bereskan mereka hari ini, seperti biasa manfaatkan apa yang berguna di tubuh mereka! Hahaha!" ajak Tian Zhi dan tertawa, demikian juga dengan kekasihnya yang tersenyum sinis melihat apa yang akan terjadi pada Tim Lima Falcon.
Tian Zhi yang tertawa membuat Raja Li dan keluarganya bergidik ngeri, memang tampan saat tertawa tapi mengeluarkan niat membunuh yang pekat hingga membuat wajahnya mengerikan. Aura niat membunuh yang pekat merupakan tanda Tian Zhi telah banyak membunuh kehidupan.
Raja Li menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan untuk menenangkan hati dari rasa takutnya, dia tidak menyangka selain muda dan berkekuatan tinggi juga banyak membunuh kehidupan.
Tian Zhi yang malas terbang mengeluarkan Kapal Perang Kaisar Api Asyura. Kapal perang antar galaksi kecepatannya tidak kalah dengan kultivator setingkat Dewa Absolute.
Kapal perang melayang di atas Istana Merak. Raja Li dan keluarganya melongo saat baru pertama kali melihatnya, kini Raja Li percaya seratus persen ucapan Jenderal Utara Yun.
"Apa kalian tidak ikut!" ajakan Tian Zhi kepada Raja Li dan keluarganya.
Jelas Li Jiancheng yang paling bersemangat, dia langsung menghampiri disaat He Hua dan Miao Jiang melepaskan lengan Tian Zhi. Li Jiancheng langsung memeluk lengannya tanpa peduli dengan Miao Jiang yang berada di sebelah kiri Tian Zhi.
"Ayo!"
__ADS_1
"Huff! Cari kesempatan!" Dengus Miao Jiang dan merebut lengan Tian Zhi.
Li Jiancheng jelas tidak mau melepaskan lengan Tian Zhi, dia menjulurkan lidahnya mengejek Miao Jiang. Sebelum kedua wanita bertengkar, tubuh Tian Zhi bergetar dan menghilang, tiba-tiba telah berada di kapal perangnya.
He Hua, Miao Jiang, Li Jiancheng segera menyusul dan diikuti oleh semua orang yang ingin ikut melihat Tian Zhi yang akan membuat kekacauan di wilayah Barat. Raja Li yakin jika Tian Zhi melintasi wilayah Kerajaan Wei pasti membuat kekacauan juga.
Melihat kapal perang melayang di atas Istana Merak dengan megahnya, beberapa pejabat, pendukung Kerajaan Li, jenderal dan perwira segera menghampiri saat merasakan aura kuat dari arah Istana Merak, mereka khawatir terjadi sesuatu pada rajanya yang sedang bersama tamu yang baru dikenal.
Mereka bernafas lega saat melihat Raja Li berada di kapal perang baik-baik saja, akhirnya mereka semua juga ikut.
Swosh...
Kapal perang melesat dengan sangat cepat dan membuat semua orang terhuyung-huyung kebelakang karena tidak waspada. Tian Zhi terkekeh melihat semua orang hampir terjatuh, sengaja dia melakukan ini.
Hanya He Hua dan Miao Jiang yang posisinya tetap tidak goyah dengan kecepatan tinggi kapal perang, mereka berdua tersenyum sinis melihat Li Jiancheng dan semua wanita akan terjatuh...
Luasnya Benua Venus tidak berarti apa-apa bagi kapal perang karena kecepatan tinggi. Akhirnya wilayah Kerajaan Wei terlihat. Raja Li segera berbicara, "itu wilayah Kerajaan Wei."
Lalu Tian Zhi mengunci istana Kerajaan Wei yang jaraknya sangat jauh, dia ingin menguji seberapa jauh jarak tembak meriam. Suara "Bang... Bang" sebanyak dua puluh kali terdengar ketika target telah terkunci.
Di kejauhan suara ledakan menggema di ibukota Kerajaan Wei tepatnya di pusat istananya. Kebetulan saat ini malam hari, terlihat jelas ledakan berwarna merah api.
Raja Li dan rombongannya melongo mengetahui kehebatan kapal perang milik tamunya. Raja Li mengelus dadanya, beruntung dia tidak menjadi musuh Tian Zhi.
Semua orang melihat pusat pemerintahan menjadi kobaran api, padahal baru sekali serangan dua puluh meriam. Tian Zhi tersenyum puas melihat kemampuan jarak tembak meriam kapal perangnya.
Kapal perang meninggalkan wilayah Kerajaan Wei. Saat melintas jelas terlihat banyak penduduk Kerajaan Wei dan membuat ketakutan. Perwira Kerajaan Wei dan prajurit berusaha mengejarnya tapi kecepatan tinggi kapal perang tidak bisa mereka ikuti.
Tian Zhi dan kekasihnya berada di dalam pusat kendali kapal perang, mereka melihat kearah Tim Lima Falcon. Tim Lima Falcon tidak terbang lambat maupun cepat, tampak sedang mencari titik pusat sumber cahaya hijau yang keluar.
"Kalian menggunakan senjata utama atau mengandalkan kekuatan untuk mengalahkan mereka?" tanya Tian Zhi kepada kekasihnya.
Sebenarnya Tian Zhi ingin mengetahui kemampuan senjata utama kapal perangnya, tapi dia ingin mengetahui keinginan kekasihnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Gunakan senjata utama saja!" Celetuk Li Jiancheng yang ingin tahu kehebatan senjata utama.
He Hua dan Miao Jiang makin kesal melihat Li Jiancheng yang sok akrab dan serba tahu, padahal baru saja bertemu. Tapi karena harga dirinya tidak mau jatuh hanya masalah sepele, kedua wanita itu kembali fokus pada Tim Lima Falcon.
"Coba gunakan senjata utama!" jawab He Hua.
Li Jiancheng mencibir He Hua di dalam hatinya, "sok cantik! Tetapi ucapku tetap diikuti!" Sambil menyilangkan tangan di dadanya dan mendekati Tian Zhi yang berada di depan panel kontrol kapal perang.
Tian Zhi yang melihat Li Jiancheng menyilangkan tangan di dadanya, terlihat dada ukurannya semakin jelas, ternyata ukurannya 36C. He Hua dan Miao Jiang mencubit pinggang kekasihnya, mereka tidak suka Tian Zhi melihat dada Li Jiancheng.
"Apa kurang puas dengan milikku!" protes He Hua kepada Tian Zhi dengan komunikasi telepatinya, sorot matanya tajam menatap Tian Zhi dan ikut menyilangkan tangan di dadanya, ingin menunjukkan jika dia juga tidak kalah dengan Li Jiancheng.
Tian Zhi tidak menjawab, dia berpura-pura kembali fokus melihat kedepan, padahal di dalam hatinya, "mengairahkan dada mu!"
Miao Jiang juga melakukan hal yang sama, lalu dia berkomunikasi dengan telepatinya, "aku bisa buat kamu gemuk dengan milikku. Apa masih kurang aku mencintaimu!"
Tian Zhi hampir saja terbatuk-batuk mendengar suara Miao Jiang, dia melirik dada kekasihnya dan menelan salivannya, di dalam hatinya kembali berkata, "tentu aku akan gemuk jika kamu sapi!"
Raja Li dan lainnya tersenyum melihat kelakuanku muda mudi di depan mereka. Persaingan seperti ini membuat hidup semakin berwarna.
"Aku yang menebak atau kalian?" tawaran Tian Zhi yang sengaja agar kekasihnya tidak selalu mengintimidasi.
"Biar aku yang melakukannya!" sahut He Hua sebelum Li Jiancheng berbicara.
Segera He Hua membuka penutup panel senjata utama, lalu melihat Tim Lima Falcon yang telah terkunci.
He Hua menekan tombol di panel kontrol senjata utama. Seketika kepala Naga yang berada di depan anjungan kapal perang membuka mata dan mengeluarkan meriam.
Bang...
Suara tembakan meriam keluar dari mulut Naga. Melesat bola besar berwarna kebiruan menuju target yang telah terkunci.
Tim Lima Falcon yang merasakan aura kuat segera membalikkan badan dan seketika syok, saat melihat serangan bola energi melesat sangat cepat yang sudah dekat dengannya, dan suara "Boommm..." ketika serangan senjata utama mengenai Tim Lima Falcon yang tidak sempat kabur maupun mempersiapkan diri menggunakan perisai energi.
__ADS_1