
Chapter 23. Perasaan Gelisah.
Wu Ligin, Tsai Xinxin dan semua orang jelas iri dengan prestasi yang diperoleh Xiang Tianzhi, mereka saja hanya mendapatkan lencana tingkat Pemula tahap rendah, khusus kedua wanita itu mendapatkan lencana tingkat Disciple tahap rendah.
Setelah berbasa-basi agar akrab dan dipercayai semua orang, Xiang Tianzhi undur diri, dengan alasan memiliki hal yang perlu dilakukan, dan dia juga berjanji membuat Pill tingkat Grand Master. Dua penatua segera mengambilkan tanaman terbaik, dan diberikan kepada Xiang Tianzhi.
Setelah Xiang Tianzhi keluar dari ruang ujian, dua penatua tertawa bahagia tanpa peduli peserta lainnya yang belum diberikan lencana dan memutuskan hasil ujiannya. "Dengan bantuan dia, kita akan mampu bersaing dengan kota lain dan untuk mengikuti kompetisi Alkemis dalam 3 tahunan." ungkap Tsai Yelu dan tertawa lagi.
"Perintahkan Li Yenny untuk berguru pada Junior Tian!" perintah Dong Jian kepada panitia pengawas ujian, sebelum Xiang Tianzhi turun dari lantai 2, tujuannya agar Li Yenny selalu mengawasi.
Xiang Tianzhi tidak tahu, jika dirinya telah didaftarkan dalam kompetisi Alkemis yang diadakan setiap 5 tahun sekali secara diam-diam. Xiang Tianzhi mendengar panitia berbicara kepada Li Yenny, jika harus melayani dan menyiapkan segala keperluan Master Tian Zhi.
Kemudian, Xiang Tianzhi kembali ke Penginapan Musim Semi, dengan memakai jubah Alkemis dan lencana terpasang di dada kirinya, dia bersama enam wanitanya. Sepanjang perjalanan, banyak pujian terlontar dari setiap orang, dan buru-buru mendekati Xiang Tianzhi yang kini mendapatkan gelar Master Tian Zhi, gelar lebih terhormat dari bangsawan Tian.
Namun, dengan kehadiran enam wanitanya, semua orang tidak bisa mendekati dan hanya berbicara agak jauh. Setelah susah payah melewati kerumunan, akhirnya mereka sampai, dan Xiang Tianzhi menyewa tiga kamar kelas 1 untuk wanitanya.
Setelah menghajar keenam wanitanya hingga pingsan dengan senyum bahagia, Xiang Tianzhi kembali ke kamar pribadinya dan melihat Xue Mei masih tertidur, dia juga membaringkan badan dan menutup mata.
Keesokan harinya, Xue Mei terbangun terlebih dahulu dan terkejut saat dia telah tertidur selama satu hari dua malam. Lebih terkejut lagi, ketika dia telah naik satu tahap saat tertidur. Xue Mei memeluk kekasihnya, dia teringat hal indah dan nikmat melebihi apapun, dia berpikir mungkin karena kelelahan melebihi saat bertarung sehingga membuat naik level.
Tiba-tiba Xue Mei mendengar keributan diluar kamar, dan samar-samar mengenali suara pria yang marah-marah kepada istrinya. Pria itu adalah suami dari Xiang Huifen. Pria itu marah karena istri kehilangan cincin dimensi di Penginapan Musim Semi, dan memerintahkan Nobel Li Jiancheng untuk mencari pencuri tersebut.
Padahal Xiang Huifen berbohong, dia tidak kehilangan cincin dimensi, dia ingin menggunakan kekayaannya untuk memenuhi janjinya kepada Xiang Tianzhi, dia akan membeli rumah besar di Kota Donggi sekaligus mencari wanita pilihan sesuai syarat yang telah dia terima. Xiang Huifen berharap Xiang Tianzhi memberikan kenikmatan lagi hingga membuatnya pingsan.
"Xiang Huifen dan Chevalier Wu Jing Quo!" gumam Xue Mei yang terlihat dendam kepada mereka, namun dia tetap menahan diri agar tidak membangunkan kekasihnya.
Xiang Huifen dan Chevalier Wu Jing Quo adalah bawahan dari Permaisuri Yin, mereka juga yang dulu memburu Xue Mei dan Xiang Tianzhi hingga bersembunyi di Hutan Bukit Bambu.
"Kamu tidak suka dengan mereka?" tanya Xiang Tianzhi yang sudah terbangun dan merasakan sedikit niat membunuh yang sedikit keluar dari wajah Xue Mei.
"Eh! Kamu sudah bangun!" Xue Mei kaget dengan suara kekasihnya, "iya, mereka salah satu bawahannya Permaisuri Yin!" lanjutnya dengan menahan amarah.
"Jangan kuatir, aku sudah memiliki rencana untuk menghancurkan mereka dari dalam!" ungkap Xiang Tianzhi dengan senyum misterius.
Xue Mei mengunci alisnya dan penasaran apa yang akan dilakukan Xiang Tianzhi kepada musuh mereka. "Apa yang akan kamu lakukan? Jangan ceroboh!" tanyanya dan mengingatkan Xiang Tianzhi sekali lagi.
"Tenang saja, mereka akan hancur dengan sendirinya ... Aku hanya sedikit menyiram sedikit minyak dalam rumah tangga mereka!" jawab Xiang Tianzhi yang membuat Xue Mei kebingungan.
"Hmm! Apapun yang kamu lakukan aku selalu mendukung ... Asal untuk saat ini ... Kita jangan terlalu menonjolkan diri!" tutur Xue Mei, dia tidak ingin rencana mereka diketahui oleh siapapun sebelum memiliki kekuatan yang mumpuni.
__ADS_1
"Baik, Sayang!" goda Xiang Tianzhi dengan memegang buah kenyal Xue Mei.
"Huff!" dengus Xue Mei dan buru-buru bangun agar tidak dibuat pingsan lagi.
Xiang Tianzhi terkekeh dan menyusul Xue Mei yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga! Kamu tidak mengikuti ujian!" Xue Mei baru teringat jika kemarin seharusnya Xiang Tianzhi menguji ujian Alkemis, dia sangat panik dengan buru-buru keluar dari bathtub.
Namun, Xiang Tianzhi menahannya dan memangku Xue Mei. "Jangan kuatir, aku telah selesai mengikuti ujian," kata Xiang Tianzhi.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi!" protes Xue Mei dengan cemberut telah terlanjur panik.
"Kamu tidak bertanya!" jawab Xiang Tianzhi sambil memainkan gunung kembar kanan Xue Mei.
"Mm! Ti--tingkat apa?" tanya Xue Mei sambil menahan rasa nikmat, ketika lembah surga diterobos tongkat kekasihnya.
Xiang Tianzhi mengeluarkan lencana tingkat Master dan berbicara setelahnya, sambil menghentakkan tongkatnya di lembah surga milik Xue Mei. Mendengar itu Xue Mei sangat gembira, dan ingin memuaskan kekasihnya karena prestasi, dia juga tidak mau kalah dengan keenam wanita, setelah Xiang Tianzhi berkata jujur jika memiliki enam wanita.
Xue Mei awalnya akan marah, marah karena dia cemburu. Namun, dia juga memahami dirinya sendiri yang tidak akan bisa melayani keperkasaan Xiang Tianzhi saat bercinta.
Kemudian, mereka berdua keluar dari kamar mandi, setelah Xue Mei menyerah dan tidak mau pingsan lagi, selain itu mereka masih banyak yang perlu dilakukan.
"Aku ikut kalau begitu!" ujar Xiang Tianzhi yang malas sendirian di Kota Donggi.
"Jangan dulu kamu menemuinya, nanti saat namamu sudah dikenal banyak orang!" tolak Xue Mei dan membuat Xiang Tianzhi heran dan berganti penasaran.
"Kenapa harus begitu?"
"Hmm!! Dia orang yang malas bertemu dengan seseorang yang tidak dia kenali dan dia juga memandang prestasi. Daripada aku marah karena dia menghinamu, lebih baik kamu tidak ikut!" jelas Xue Mei.
Xiang Tianzhi memainkan bibirnya ke kanan dan ke kiri, tanda dia sedang berpikir akan ucapan Xue Mei. Xue Mei telah selesai menyisir dan mengikat rambutnya, kemudian dia berjalan mendekati Xiang Tianzhi.
"Ini... agar kamu tidak bosan saat menungguku, dan kamu jangan kuatir, sore hari aku sudah kembali!" Xue Mei memberikan kartu platinum kepada Xiang Tianzhi.
Xiang Tianzhi menerimanya dan menyimpan di cincin dimensi pemberian dari Paviliun Pill Surga. "Rencana mau ke kota mana?" tanya Xiang Tianzhi yang tampak engga membiarkan Xue Mei pergi sendiri.
"Kota Linfen, aku akan menemui Marquis Zhou Fan, kamu ingat dia, kan?" jawab Xue Mei dan bertanya balik.
Xiang Tianzhi mengingat ingatan pemilik tubuh aslinya, dan mengangguk pelan, tanda jika dia masih mengingat Zhou Fan.
__ADS_1
Marquis Zhou Fan adalah seorang pensiunan jenderal Kerajaan Xiang, dan Kota Linfen adalah hadiah pemberian Raja Xiang akan kesetiaannya mengabdi selama 700 tahun. Sayangnya, Xiang Tianzhi hanya mengingat sebatas itu, dan sejarah Marquis Zhou Fan dia tidak mengingatnya.
"Seingat-ku, kekuatannya kan berada pada tingkat Great Ascension tahap 8, apa tidak lebih baik aku menjadi pengawal mu saja!" desak Xiang Tianzhi yang tidak ingin meninggalkan Xue Mei bernegosiasi sendiri.
"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri!" sekali lagi Xue Mei menolaknya dengan tegas, "lebih baik kamu segera selesai tugasmu untuk meramu pill." lanjutnya dan mengingatkan tugas sebagai Alkemis.
Xiang Tianzhi dengan berat hati melepaskan Xue Mei dan mengeluarkan tungku untuk memulai membuat pill, wajahnya jelas enggan ditinggal oleh Xue Mei. Xue Mei tersenyum dan buru-buru mencium Xiang Tianzhi agar tidak kecewa.
"Kamu hati-hati dan jangan paksa dia jika tidak mau mendukung rencana kita!" pesan Xiang Tianzhi.
"Aku mengerti, dan kamu jangan kuatir!" jawab Xue Mei dengan percaya diri.
Xiang Tianzhi melihat punggung Xue Mei dan menghilang setelah menutup pintu kamar. Baru saja memanaskan tungku, Xiang Tianzhi merasakan perasaan gelisah di hatinya setelah kepergian Xue Mei. Dengan tergesa-gesa, dia mengurungkan niat meramu pill dengan menyimpan tungku, lalu dia keluar dari kamarnya untuk mengikuti Xue Mei.
"Kota Anyi!" gumam Xiang Tianzhi setelah baru keluar dari pintu penginapan.
Xiang Tianzhi melihat punggung Xue Mei di pintu gerbang kearah selatan, arah menuju ibukota Kerajaan Xiang, dan searah dengan Kota Anyi. Kemudian, Xiang Tianzhi menyamar dengan wajah yang tidak pernah dilihat oleh Xue Mei, pria paruh baya usia 40 tahun, lalu dia mengikuti Xue Mei yang sudah keluar dari gerbang Kota Donggi.
Setelah jauh dari pengawasan penjaga gerbang Kota Donggi, Xue Mei segera terbang hingga ketinggian diatas awan dengan sangat cepat, dan Xiang Tianzhi yang berjarak 500 meter mengikuti dengan terbang lebih rendah agar tidak diketahui oleh Xue Mei.
Setelah menghabiskan waktu dua dupa dengan kecepatan tinggi, akhirnya masuk di wilayah Kota Anyi. Xiang Tianzhi heran melihat arah Xue Mei yang berbelok ke kanan, dan tidak langsung ke tempat kediaman Marquis Zhou Fan. Dengan hati yang makin penasaran, Xiang Tianzhi terus mengikuti.
Setelah waktu tidak sampai menghabiskan satu dupa, Xue Mei berhenti dan melihat kebelakang, ke kiri dan ke kanan, tampaknya dia selalu waspada. Tidak jauh dari tempat Xue Mei yang masih melayang, ada sebuah tempat yang masih wilayah milik Marquis Zhou Fan, sebuah lembah yang memiliki air terjun. Tempat itu memang milik pribadi Marquis Zhou Fan, tempat khusus dia untuk beristirahat tanpa ganggu siapapun.
Xue Mei segera terbang kembali, ketika dirinya merasa aman dan tidak ada yang mengikutinya, dia menuju pondok bambu milik Marquis Zhou Fan, Xiang Tianzhi yang sembunyi di dalam awan segera mengikuti.
"Seingat-ku, Marquis Zhou Fan tidak pernah mau bertemu dengan siapapun saat berada di domain pribadinya!" gumam Xiang Tianzhi yang meluncur ke bawah dan mengikuti Xue Mei dari darat, sambil sembunyi dibawah lebatnya pepohonan.
__ADS_1