Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 297. Meledakkan Diri.


__ADS_3

Chapter 297. Meledakkan Diri.


Tian Zhi tidak peduli apa yang sedang terjadi penginapan Bunga Es, dia hanya terfokus kepada tujuannya untuk menyerap energi elemen es. Sedangkan Zhi Jianying tidak sedikitpun terganggu dengan adanya hawa dingin ekstrem yang memenuhi kamar, dia malah tertidur pulas.


Di pusat Daratan Es Tengah Samudera, tepatnya di bawah tanah, Lu Xu Pang segera menyadari jika elemen esnya ada yang menyerap. Lalu dia meningkatkan kekuatan elemen es untuk beradu kehebatan dalam mengendalikan elemen.


Dewi Salju yang sedang bersantai sambil tiduran segera merasakan hawa dingin ekstrem menuju ke satu titik, dia segera bangkit dan duduk bersila. Kemudian kesadarannya mengikuti aliran hawa dingin yang menuju ke Kota Balok Misteri.


Saat berada di penginapan Bunga Es, Dewi Salju tersenyum melihat wajah Tian Zhi untuk pertama kalinya. Akan tetapi, senyumannya seketika menghilang saat merasakan aura Tian Zhi berbeda, walaupun dia tidak secara langsung melahirkan Tian Zhi, sebagai pemilik janin jelas mengetahui aura anaknya.


"Aura ini... Jangan-jangan, fenomena kelahiran putraku waktu itu karena faktor reinkarnasi dari Dewa Binatang yang menempati tubuh ...!" gumam Zhi Xiancai si Dewi Salju dan seketika menarik kesadaran kembali ke tubuhnya.


Tubuh Dewi Salju bergetar hebat dan meneteskan air mata. Akhirnya dia tahu fenomena kemunculan banyak binatang mitologi turun dari langit ketika Xiang Tianzhi lahir, semua ini terkait dengan Dewa Binatang.


Dia tidak menduga sama sekali jika Dewa Binatang menempati tubuh putranya. Dewi Salju menangis sambil tangan kanan memukul kasurnya, entah apa yang sedang terjadi di masa lalunya dengan Dewa Binatang, tampaknya dia sangat menyesal.


"Arghh!!"


Tiba-tiba Dewa Es Abadi berteriak kesakitan, sehingga Dewi Salju berhenti menangis, dia buru-buru keluar dari kamar untuk melihat kondisi suaminya. Sesampainya di kamar Dewa Es Abadi, Dewi Salju terkejut bukan main, dimana seluruh tubuh suaminya mulai mengeriput, tanda telah kehilangan sumber kehidupannya.


"Berhenti! Jangan keluarkan elemen es mu!" cegah Dewi Salju yang tidak ingin suaminya mati, dia ingin masuk ke ruang penjara tapi terhalang dinding Formasi Array.


"Aku... Aku tidak bisa... Ini diluar kendali ku!" ungkap Dewa Es Abadi, dia hanya bisa menahan rasa sakit dengan berteriak, sebab kedua tangan dan kaki dirantai.


Dewi Salju jelas panik, dia segera mengalirkan energi spiritual untuk melindungi suaminya. Namun, justru energinya malah ikut terhisap aliran hawa dingin yang diserap oleh Tian Zhi.


Dewi Salju juga ikut berteriak kesakitan, ketika sumber kehidupan keluar dari tubuhnya, dia tahu siapa yang melakukan ini, namun dia tetap diam tanpa sedikitpun menyebutkan nama Dewa Binatang.


"Arghh! Ampun...!" teriakan Dewi Salju yang memohon kepada Tian Zhi saat tidak mampu menahan rasa sakitnya.


Dewa Es Abadi juga terus berteriak kesakitan, dia melihat istrinya mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dia ingin menolong istrinya, tapi apalah daya dirinya juga tidak mampu.


Ketika mereka berdua berteriak kesakitan, tiba-tiba muncul seseorang yang mereka berdua kenali. Mereka syok dan ketakutan melihat sosok Dewa Binatang yang selalu menjadi mimpi buruk.


"Lama kita tidak bertemu!" sapa Tian Zhi yang merubah wujudnya menjadi asli Dewa Binatang, dia mengembangkan senyuman hangat melihat dua pasangan yang tampilannya menjadi orang tua.


Tian Zhi berhenti menyerap sumber kehidupan Dewa Es Abadi dan Dewi Salju sebelum mereka mati. Dewi Salju seketika ambruk karena tubuhnya sangat lemas, dia meneteskan air mata penyesalan.


Kemudian Tian Zhi menghampiri Dewi Salju dan berjongkok di depannya, lalu dia berkata, "Kun Ashi memang sombong karena faktor sosial, tapi dia apa adanya... Hatinya tulus mencintaiku ... Sedangkan kamu, baik hati, pantang menyerah dan tegar, namun sikapmu itu palsu. Padahal kita...," katanya, dia sengaja berhenti berbicara sambil melihat Dewa Es Abadi yang sedang menatapnya.


"Kita sudah tidur berkali-kali dan dia berkata tulus mencintai ku...," ungkapnya kepada Dewa Es Abadi, lalu dia kembali melihat Zhi Xiancai, "bagaimana ceritanya kamu bisa menjadi pasangan Dao dengan pria lemah ini dan pengecut!" lanjutnya dan mengejutkan Dewa Es Abadi.

__ADS_1


Dewa Es Abadi akhirnya tahu kenapa dia tidak pernah bisa membuat istrinya puas dalam berhubungan intim. "Dasar wanita murahan!" bentaknya kepada Dewi Salju.


Dewi Salju tidak mampu berkata-kata, sebab apa yang dikatakan oleh Tian Zhi benar. Dia hanya bisa menangis sambil menunduk. Dewa Es Abadi terus memaki-maki istrinya.


Tangan kanan Tian Zhi mampu menembus dinding Formasi Perlindungan dan memegang dagu Dewi Salju, lalu dia berkata, "Zhi Xiancai, terima kasih telah melahirkan Xiang Tianzhi sehingga aku bisa terlahir kembali!"


Dewi Salju sedikit terkejut sambil menatap wajah Tian Zhi, lalu dia memejamkan mata tanpa sedikitpun mengucapkan sepatah kata, karena apapun yang dikatakan tidak akan berarti apa-apa.


"Hidup ini sungguh lucu, ya ...!" ejek Tian Zhi dengan nasib yang dialami oleh Zhi Xiancai, "kalau mau, aku ingin tahu cerita tentang kalian setelah kita berpisah di Kota Lima Menara Bintang waktu itu?" lanjutnya yang ingin tahu setelah Konferensi Tianwu berakhir.


Sayangnya, Dewi Salju tetap membisu dan Tian Zhi tidak marah, malahan dia mencium keningnya. Dewi Salju makin berderai air mata dengan kelembutan Tian Zhi yang lama tidak dirasakannya.


Lalu Tian Zhi berdiri dan berjalan mendekati Lu Xu Pang yang langsung berhenti memaki-maki Zhi Xiancai. Dia ketakutan saat teringat akan siksaan Dewa Binatang ketika menjadi peserta Konferensi Tianwu.


"Aku sudah bermusuhan dengan Maharaja Yaksa, membunuhmu pun tidak menjadi masalah! Apa permintaan terakhir mu?" kata Tian Zhi saat berhenti di depan Lu Xu Pang.


Lu Xu Pang tersenyum sinis, lalu dia melirik sekilas istrinya yang masih menangis dan kembali melihat Tian Zhi. "Bunuh aku tanpa rasa sakit. Tapi sebelum itu, bagaimana caranya bisa membunuh jiwa mu?" pintanya.


Tian Zhi tertawa mendengar permintaan Lu Xu Pang yang konyol, setelah berhenti tertawa dia berkata, "jika kamu mampu memusnahkan Alam Jagat Raya, maka aku juga akan mati. Sampai hal ini kepada si Yaksa."


Sontak Lu Xu Pang terkejut dengan jawaban Tian Zhi, dia tidak menyangka jika komunikasi telepati dengan Maharaja Yaksa diketahui. Untuk menghilangkan keterkejutannya, dia tertawa terbahak-bahak.


Ya, pertanyaan dari Lu Xu Pang didikte oleh Maharaja Yaksa, sebab jiwa Dewa Binatang sulit dibunuh. Oleh sebab itu, Maharaja Yaksa menggunakan Lu Xu Pang untuk menyelidiki kelebihan Zhi Shimo yang makin misterius.


Tian Zhi sedikit terkejut dan membalikkan badannya untuk melihat Zhi Xiancai. Dia berjalan mendekatinya dan berjongkok.


"Aku tidak marah maupun kecewa dengan apa yang kamu lakukan, karena aku tahu posisimu. Hanya saja, aku lebih suka keterbukaan daripada kepalsuan...," ucap Tian Zhi dan berhenti sejenak.


"Karena hubungan masa lalu diantara kita, aku beri dua pilihan... Pertama, aku bisa mengampunimu dengan syarat, kamu bunuh dia. Jika kamu mau melakukannya, aku akan menjadikan kamu pasangan Dao dan membawamu kesuatu tempat yang tidak akan terpisah dariku lagi. Jika tidak mau, pilihan kedua sesuai permintaanmu tadi. Jadi, pilih yang mana?" imbuhnya.


Dewi Salju jelas terkejut dengan ucapan Tian Zhi yang memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya. Namun, pilihan ini juga membingungkan, suaminya atau kekasih masa lalu yang harus dia pilih?


Dewa Es Abadi menertawakan perkataan Tian Zhi, dia sudah menebak apa yang akan dipilih oleh istrinya, sebab selama ini hubungan mereka seperti elemen es, dingin tanpa adanya kehangatan dalam berumahtangga.


"Bunuh saja aku dan hiduplah selamanya sebagai seorang pelacur!" teriak Dewa Es Abadi.


Dewi Salju menatap tajam ke arah Dewa Es Abadi, perkataannya sudah terlalu sering didengarnya. Lalu dia melihat Tian Zhi dan berkata, "Formasi Array di sini terhubung dengan Zhi Shirong, apapun yang terjadi dia mengetahuinya."


Tian Zhi mengangguk paham. Dari perkataan Dewi Salju, dia memilih untuk membunuh Dewa Es Abadi, asal Zhi Shirong tidak mengetahuinya. Dewi Salju masih memikirkan kedua orangtuanya yang disandera.


Dewa Es Abadi juga paham dengan ucapan Dewi Salju, dia segera berbicara dengan kata-kata pedas, "memiliki wanita cantik memang membanggakan, dan aku menerimanya walaupun bekas orang lain!"

__ADS_1


"Puaskan hinaan mu sebelum ajal menjemput!" sahut Dewi Salju yang tidak lagi menahan dirinya yang selalu dihina semenjak pernikahan mereka.


Awalnya Dewa Es Abadi tidak bersikap seperti ini walaupun Dewi Salju tidak lagi suci. Tapi, sikap Dewi Salju yang dingin dan selalu membandingkan dengan Dewa Binatang membuat Dewa Es Abadi berubah. Apalagi, saat tahu jika Dewi Salju hamil bukan karenanya.


Saat itu mereka berdua belum mengetahui jika kehamilan ini hasil ujicoba yang dibuat oleh Zhi Shirong dan Zhi Mingyu yang ingin menciptakan garis darah Kasta Kaisar.


Tian Zhi menggeser tubuhnya agar dua pasangan saling melihat dan membentak, lalu dia bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya, dia sengaja membiarkan mereka saling membenci sebelum membunuh Dewa Es Abadi.


"Kamu sendiri kenapa mengikuti ku, bukannya kembali ke kuil... Sekarang, kenapa kamu menyalahkan aku? Hah!?" bentak Dewi Salju.


Dewa Es Abadi tertawa, setelah itu dia membalas ucapan Dewi Salju, "jika kamu sejak awal berkata jujur, aku jelas tidak akan mau menikah mu!"


"Apa hak mu mengetahui apapun tentang ku... Apapun yang terjadi padaku bukan urusanmu!" sahut Dewi Salju dengan nada ketus.


Tian Zhi yang mendengar dua pasangan saling membentak hanya geleng-geleng kepala, lalu dia menggerakkan jari telunjuknya menulis suatu pola di udara.


Tanpa sepengetahuan mereka, dia menggunakan kemampuan dari Sacral Stone dan Throat Stone, yaitu untuk menciptakan ilusi dan memanipulasi pikiran. Tujuan Tian Zhi menggunakan dua kemampuan Batu Keabadian untuk mengelabuhi Zhi Shirong.


Setelah selesai membuat ilusi pikiran tanpa diketahui mereka berdua, Tian Zhi mendekati Dewi Salju yang terengah-engah karena kelelahan membentak Dewa Es Abadi dengan sisa-sisa energinya. Tian Zhi melihat Dewi Salju yang menjadi tua karena sumber kehidupannya dia serap.


Saat berada di depan Dewi Salju, Tian Zhi menepuk dinding Formasi Perlindungan. Dinding Formasi Perlindungan memudar hingga membentuk lingkaran oval. Sontak Dewi Salju terkejut melihatnya, demikian juga dengan Dewa Es Abadi yang langsung diam.


Lalu Tian Zhi berkata kepada Dewi Salju, "sudah aman! Masuk dan bunuh dia!"


Dengan sekuat tenaga, Dewi Salju berjalan menuju ke arah Dewa Es Abadi. Dewa Es Abadi sangat ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari ikatan rantai, namun dia yang menjadi tua tidak sanggup menggerakkan rantai.


"Dasar istri tak tahu di untung!" bentak Dewa Es Abadi dengan sorot mata tajam menatap tajam kearah Dewi Salju yang berjalan terseok-seok.


Namun, Dewi Salju tidak menggubris perkataan Dewa Es Abadi. Sedangkan Tian Zhi kembali bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di dada, dia ingin tahu apa Dewi Salju tega membunuh Dewa Es Abadi.


"Jangan khawatir, aku akan membunuhmu dengan cepat!" ucap Dewi Salju dan mengeluarkan senjata pedang dari cincin dimensinya.


"Jika aku mati, kamu juga harus mati!" sahut Dewa Es Abadi!"


Tian Zhi terkejut melihat perut mereka berdua tiba-tiba membuncit. Anehnya, keterkejutannya menjadi senyuman, dia tahu mereka berdua akan meledakkan dirinya.


Lalu Dewi Salju dan Dewa Es Abadi melihat Tian Zhi yang bersandar di dinding sebelum meledakkan dirinya. Dewi Salju berkat, "maaf, aku tidak memilih kamu. Sejelek apapun dia, dia tetaplah suamiku."


Dewa Es Abadi tertawa bahagia, walaupun dia tidak mampu mengalahkan Dewa Binatang, merebut kekasihnya adalah hal yang membahagiakan.


"Ya, tidak masalah! Setidaknya aku yang pertama!" jawab Tian Zhi, lalu mengembangkan senyuman hangat, dan seketika membuat Dewa Es Abadi terdiam.

__ADS_1


Boom...


Ledakan hebat ketika dua orang meledakkan diri dengan sisa-sisa energinya. Ruang bawah tanah langsung runtuh dan tubuh Tian Zhi berubah menjadi asap lalu menghilang.


__ADS_2