
Chapter 298. Demi Api Suci Petir Asyura.
Tian Zhi yang berada di penginapan Bunga Es, seketika membuka matanya. Demikian juga dengan Zhi Jianying yang segera bangun saat mendengar ledakan hebat di pusat Daratan Es Tengah Samudera.
"Kakak!" teriak Zhi Jianying yang tahu kakaknya dan Dewa Es Abadi meledakkan diri.
Zhi Jianying segera keluar melalui jendela dan terbang sangat cepat menuju ruang penjara bawah tanah. Sedangkan Tian Zhi tidak mencegahnya, dia hanya berdiri di depan jendela kamar sambil memegang mutiara.
Mutiara yang dipegang oleh Tian Zhi adalah energi dantian melihat Dewa Es Abadi yang sangat unik, itu adalah dantian elemen es atau Tubuh Bawaan yang langka.
Sebelumnya, Tian Zhi muncul di hadapan Dewa Es Abadi dan Dewi Salju menggunakan dua Tubuh Ganda, satu berkomunikasi dengan mereka dan yang lain bersembunyi di belakang Dewa Es Abadi untuk mengekstrak Tubuh Bawaan Elemen Es. Karena itu, Tian Zhi tidak takut mereka meledakkan diri.
Ledakan hebat dua kekuatan setingkat Dewa Absolute dirasakan di Alam Mahadewa. Daratan Es Tengah Samudera makin dingin setelah ledakan, tapi tidak sampai merambat ke lautan, hanya sebatas garis bibir pantai.
Tian Zhi menghela napas panjang dan membalikkan badan, dia keluar dari kamar untuk menemui Pak Tua, dia terkejut saat melihat lantai dasar banyak orang yang menjadi patung es. Namun, Pak Tua tidak ada diantara mereka.
Semua orang menjadi patung es karena perbuatannya yang menyerap energi elemen es. Lalu Tian Zhi menggunakan Mata Langit untuk mencari keberadaan Pak Tua.
"Siapa dia?" gumam Tian Zhi yang tidak mengenal sosok Pak Tua itu dan juga tidak menemukan keberadaannya.
Lalu Tian Zhi berjalan turun sambil melihat wajah-wajah orang yang menjadi patung es, raut wajah mereka syok dan ketakutan. Saat berada di tempat kerja Pak Tua, dia melihat dibawahnya ada pola Formasi Perlindungan.
"Ternyata dia ahli Formasi Array tingkat Dewa Leluhur tahap menengah," gumamnya setelah melihat ukiran Formasi, dia menebak jika Pak Tua meninggalkan penginapan Bunga Es sebelum membeku.
Setelah tidak menemukan jejak Pak Tua, Tian Zhi menyusul Zhi Jianying. Sesampainya di lokasi ledakan, dia melihat Zhi Jianying menangisi kepergian kakaknya. Tian Zhi berjongkok dan memeluk Zhi Jianying agar tenang.
"Pergi kamu, anak durhaka!?" bentak Zhi Jianying yang menyalahkan semua ini kepada Tian Zhi yang tidak menyelamatkan kakaknya.
"Baiklah, aku akan pergi!" jawab Tian Zhi dan segera berdiri, dia tahu Zhi Jianying sedang emosi dan membutuhkan waktu untuk sendiri. Dan, dia yang ingin menjelaskan pun akan percuma dengan kondisi kejiwaannya yang tidak stabil.
Tian Zhi berjalan naik dan berhenti sejenak untuk melihat Zhi Jianying, lalu dia ingin berbicara. Tapi, dia mengurungkan niatnya untuk berbicara. Sebelum berteleportasi, dia merasa di langit ada yang mengawasi.
Tian Zhi mendongak dan terkejut melihat dua mata merah sangat besar sedang menatapnya dengan sorot mata tajam. Namun, kedua mata itu dalam sekejap menghilang dari pandangannya.
"Yaksa!" kata Tian Zhi saat tahu siapa pemilik mata merah di langit.
"Selalu saja menggunakan tangan pihak lain untuk mengejar ku! Apa takut berhadapan denganku secara langsung?" cemoohan Tian Zhi kepada Maharaja Yaksa.
Setelah itu dia berteleportasi dan muncul di depan istana Kerajaan Guang. Saat baru tiba, Xiang Ri Kui melihatnya dan langsung berlari. Tian Zhi tertawa melihat putranya yang menyambut bersama Guo Shun.
Setelah kepergian Tian Zhi, wajah Zhi Jianying berubah menjadi sosok wanita yang lain, wajahnya sangat mirip dengan Xu Weici alias Dong Weici si ahli penyihir.
Lalu dia melihat tempat terakhir Tian Zhi berdiri sesaat yang lalu. Saat dia berdiri, perutnya yang membuncit juga tidak ada lagi, kembali seperti wanita yang tidak pernah hamil.
"Aku tunggu kamu di Alam Keabadian!" ucap Dewi Seribu Wajah.
Dia melihat ke langit, lalu membungkuk sebagai tanda penghormatan. Setelah itu tubuhnya berubah menjadi salju dan melesat ke luar angkasa untuk menuju ke Alam Keabadian.
...****************...
Tian Zhi menggendong putranya dan tangan kanan menggandeng Guo Shun yang sudah dianggap putrinya sendiri. Mereka masuk ke istana dan disambut senyuman hangat dari semua istrinya dan para petinggi kerajaan.
__ADS_1
Setelah duduk di singgasana, Tian Zhi mengeluarkan gulungan perjanjian kerjasama antara dua kerajaan, lalu memberikannya kepada Guang Liem.
Kemudian, Tian Zhi menceritakan apa saja yang terjadi selama tiga hari ini, tapi tidak menceritakan tentang Dewi Salju dan Dewa Es Abadi. Tian Zhi hanya mengatakan, jika ledakan di Daratan Es Tengah Samudera disebabkan pertarungannya dengan anggota Kuil Alam Es, tapi dengan mudah dikalahkan.
Zhi Yinping yang ikut mendengarkan, segera bertanya setelah Tian Zhi selesai berbicara, "bagaimana kondisi orangtuamu?"
"Sudah diamankan oleh Zhi Jianying!" jawab Tian Zhi yang berbohong dan membuat Zhi Yinping bernapas lega.
"Ayo kita makan malam dulu," ajak He Hua.
Tian Zhi dan keluarga besarnya makan malam bersama dengan suasana hangat, termasuk ketiga jenderal binatang yang selalu setia...
Keesokan harinya, Tian Zhi jalan-jalan bersama keluarganya dan putri angkatnya si Guo Shun. Mereka hanya dikawal oleh tiga jenderal binatang.
Saat berada di depan Paviliun Pil Langit, Tian Zhi teringat akan Dewi Alkemis yang memiliki benih Api Benturan Komet.
"Aku akan menemui Dewi Alkemis, kalian bisa lanjutkan untuk berbelanja," pamit Tian Zhi dan diijinkan oleh semua istrinya.
Tian Zhi masuk ke Paviliun Pil Langit seorang diri, dia disambut oleh Zhou Qionglin. Sedangkan He Hua memimpin saudarinya untuk melanjutkan acara berbelanja.
Sambil berjalan menuju ke ruang pribadi Dewi Alkemis di lantai lima, Zhou Qionglin bertanya, "bagaimana perkembangan kakak saya?"
"100% sembuh total!" jawab Tian Zhi.
"Bagaimana cara Anda bisa menyembuhkannya?" tanya Zhou Qionglin dengan rasa penasaran, sebab Dewi Alkemis dan banyak tabib tidak mampu menyembuhkan Zhou Liu Changhai.
Tian Zhi pun menceritakan tentang penyakit yang diderita oleh Zhou Liu Changhai. Zhou Qionglin geleng-geleng kepala saat tahu kakaknya kecanduan dan juga hiperseks.
Panjang lebar Tian Zhi bercerita dan juga menjelaskan tentang kondisi yang dialami oleh Zhou Liu Changhai. Zhou Qionglin selalu mengangguk sebagai respon.
Dan, apa yang dikatakan oleh Tian Zhi memang benar, semua penyakit berawal dari pikiran yang negatif. Dengan mengulang pikiran negatif yang sama, maka dampak buruk akan segera terjadi.
Tidak terasa mereka berdua telah berada di lantai lima. Lalu Zhou Qionglin masuk ke dalam ruang pribadi Dewi Alkemis dan diikuti oleh Tian Zhi.
Sayangnya, Dewi Alkemis sedang sibuk meramu pil. Zhou Qionglin mempersilahkan Tian Zhi untuk duduk terlebih dahulu sambil menunggu Dewi Alkemis selesai. Dia juga duduk disampingnya.
"Apa yang terjadi dengan Dewa Air setelah adiknya mati dengan sia-sia?" tanya Zhou Qionglin yang ingin tahu.
"Aku tidak tahu! Yang penting, aku sudah selesai memenuhi janjiku dan juga bukan penyebab kematian mereka. Jika tidak terima, dengan senang hati aku ambil ahli Kerajaan Air?" jawab Tian Zhi dengan entengnya.
"Ya, walaupun nantinya pekerjaan akan bertambah, tapi itu tidak masalah. Guang Liem mampu menanganinya." Sambungnya.
"Anda benar! Yang penting, kakak saya telah terbebas dari penderitanya!" dukung Zhou Qionglin.
"Apa kamu sudah punya suami?" tanya Tian Zhi yang berbasa-basi.
Wajah Zhou Qionglin yang tadinya ceria langsung berubah saat ditanya, lalu dia menjawab dengan nada ketus, "apa pentingnya pria jika hanya menjadi beban? Memangnya wanita tidak bisa seperti pria, justru pria yang tidak bisa seperti wanita!"
Tian Zhi tertawa ringan, dia tidak marah sebagai seorang pria, sebab apa yang dikatakan oleh Zhou Qionglin memang benar. Apalagi sebagai seorang kultivator, hal tentang perasaan tidak terlalu utama.
Bagi kultivator, meningkatkan kekuatan dan profesi adalah yang utama, dua hal itu saja banyak menghabiskan waktu. Sedangkan untuk masalah pasangan, jika sejalan, nyaman dan saling menguntungkan, tidak ada salahnya jika dijadikan teman seperjalanan hidup. Karena itu, banyak kultivator hidup melajang sampai batas kemampuannya dalam berkultivasi.
__ADS_1
"Saya akan menemuinya dulu," kata Zhou Qionglin yang enggan jika Tian Zhi terus berbicara tentang perasaan.
Tian Zhi tersenyum dan membaringkan tubuhnya di kursi. Dia menikmati hari-hari yang tenang, karena beberapa tahun lagi situasinya akan berubah. Dia pun tertidur.
Akhirnya Dewi Alkemis telah selesai meramu pil, dia bergegas menemui Tian Zhi, karena dia tahu tujuan Tian Zhi menemuinya. Saat masuk ke dalam ruang pribadinya, dia melihat Tian Zhi sedang tertidur pulas.
Dewi Alkemis mengambil kursi dan duduk disamping Tian Zhi, dia melihat wajah Tian Zhi yang begitu menenangkan hati. Zhou Qionglin juga ikut duduk dan melihat wajah Tian Zhi yang penuh dengan aura seseorang penguasa tunggal.
"Dia tidak tampan namun mengagumkan!" penilaian Dewi Alkemis, hatinya terasa ingin terus bersama Tian Zhi, perasaan yang tidak pernah dialami selama ini.
"Untuk benih Api Benturan Komet, apa yang kamu inginkan?" tanpa membuka mata, Tian Zhi yang tiba-tiba bertanya.
Walaupun Tian Zhi tertidur pulas, kesadarannya terus aktif dan mengetahui kehadiran mereka berdua.
Dewi Alkemis tersipu malu namun hanya sesaat, lalu dia menjawab, "Anda menginginkan benih Api Benturan Komet dan saya membutuhkan benih Api Suci Petir Asyura. Bagaimana jika kita barter saja?"
Sambil tetap memejamkan mata, Tian Zhi tersenyum tipis, lalu dia berkata, "tidak sebanding. Apalagi, milikku bukan lagi benih, tapi sudah menjadi tunas. Apa yang akan kamu tambahkan?"
Seketika bola mata Dewi Alkemis berbinar-binar, dia tahu maksud perkataan Tian Zhi. Dengan benih menjadi tunas, maka dia tidak perlu susah payah untuk menyatu dengan Api Suci Petir Asyura.
"Anda punya berapa tunas?" sela Zhou Qionglin yang juga menginginkan Api Suci Petir Asyura.
Tian Zhi menjentikkan jarinya, lalu muncul dua tunas Api Suci Petir Asyura yang bercabang di ujung jarinya. Bentuknya seperti seekor ular kecil yang meliuk-liuk, tubuhnya berapi-api dan mengeluarkan serat listrik.
Seketika ruangan menjadi terdistorsi, suhu panasnya membuat Dewi Alkemis dan Zhou Qionglin buru-buru menjauhi. Untung saja Tian Zhi mengendalikan tunas Api Suci Petir Asyura agar tidak membakar Paviliun Pil Langit.
Dibalik topengnya, Dewi Alkemis mengembangkan senyuman bahagia melihat tunas tersebut. Demikian pula dengan Zhou Qionglin, dimana hatinya berdebar-debar ingin memiliki tunas Api Suci Petir Asyura.
"Apa yang Anda inginkan, cepat katakan!" tanya Dewi Alkemis dengan tidak sabaran.
Tian Zhi membuka mata, lalu dia duduk sambil menatap wajah kedua wanita di depannya. Lalu dia menjawab, "jadilah pasangan Dao ku!"
Jawaban Tian Zhi seketika membuat wajah kedua wanita itu berubah cemberut. Lalu melihat Tian Zhi menyimpan tunas Api Suci Petir Asyura. Dewi Alkemis segera berpikir dengan cepat sebelum Tian Zhi berubah pikiran, demikian juga dengan Zhou Qionglin.
"Saya tidak suka terikat, tapi...," kata Dewi Alkemis yang kebingungan harus menggunakan bahasa apa yang tepat untuk mengungkapkan hasil pemikirannya.
"Saya juga sama!" sahut Zhou Qionglin.
Tian Zhi paham dengan perkataan Dewi Alkemis, lalu dia menjawab, "sampai aku pergi ke Alam Keabadian, kalian berdua akan menjadi teman dalam ranjang. Kita tidak perlu terikat secara emosional. Bagaimana?"
Tian Zhi ingin Dewi Alkemis dan Zhou Qionglin menjadi mitra berkultivasi ganda selama tiga tahun ke depan, dia bertujuan agar mereka berdua menjadi tunduk kepada Kerajaan Guang, semua ini dia lakukan demi Keluarga Besar Guang.
Dewi Alkemis dan Zhou Qionglin saling berpandangan, mereka mengangguk sebagai respon terhadap ucapan Tian Zhi.
"Baiklah, kita menerimanya!" jawab Dewi Alkemis yang telah bertekad untuk mendapatkan tunas Api Suci Petir Asyura.
Tian Zhi tersenyum kemenangan, lalu dia berkata, "buka topeng mu dan kalian duduk dipangkuan ku."
Sebagai laki-laki, Tian Zhi tidak akan menyerah sebelum berhasil menaklukkan hati wanita. Dan an akhirnya, dia berhasil memiliki dua wanita cantik nan berbakat.
Bersambung.
__ADS_1