
Chapter 275. Sekte Tangan Hitam.
Akhirnya semua orang tahu siapa wanita cantik berbadan dua itu yang menyamar, ternyata pemilik Rumah Makan Peri. Namun anehnya, perut buncit tetap ada walaupun wajahnya telah berubah, kembali semua orang menatap Tian Zhi.
Zhi Jianying tersenyum melihat Tian Zhi menghela nafas berat, lalu mereka saling berpandangan.
"Ubah wajahmu, biar tidak ada kesalahpahaman! Aku tidak ingin orang beranggapan jika aku menghamili wanita tua!" sungut Tian Zhi dan membuat Zhi Yinping tertawa.
Setelah itu, Zhi Yinping berbisik kepada He Hua. Lalu He Hua berbisik kepada Miao Jiang dan seterusnya. Gelak tawa terdengar ketika semua istri Tian Zhi mengetahuinya siapa wanita tua yang hamil. Zhi Jianying merubah wajahnya yang menjadi wanita muda, entah asli atau tidak yang terpenting bukan wanita tua si pemilik Rumah Makan Peri.
Akhirnya pesta sederhana berlanjut hingga tengah malam, sampai tamu undangan satu per satu berpamitan kepada Tian Zhi untuk kembali ke tempatnya.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Tian Zhi ketika semua tamu undangan telah kembali semua.
He Hua dan semua saudarinya melihat Zhi Jianying dengan rasa keingintahuan tentang mertuanya. Tian Zhi dan Zhi Yinping jauh hari telah memberitahukan tentang Zhi Xiancai yang masih hidup.
"Dia sangat senang mendengar memiliki cucu, hanya saja dia belum bisa berkunjung karena suatu hal!" jawab Zhi Jianying yang beralasan.
Tian Zhi hanya mengangguk sebagai tanda memahami kesulitan ibunya yang selalu diawasi oleh Zhi Shirong...
Waktu berlalu dengan cepat, Xiang Ri Kui telah berusia satu tahun. Satu per satu istri Tian Zhi melahirkan, total dia memiliki 68 anak, 1 laki-laki dan 67 perempuan, anak laki-laki hanya Xiang Ri Kui seorang.
Tian Zhi menggunakan nama marga Tian kepada 67 anak perempuan, nama belakang menggunakan nama ibunya, seperti putrinya bersama Miao Jiang diberikan nama Tian Jiang, putrinya bersama Zhi Jianying diberi nama Tian Jianying dan seterusnya.
Istana Api Asyura atau istana kedua Kerajaan Guang, selalu terdengar suara tangisan bayi perempuan dan membuat suasana menjadi meriah.
Xiang Ri Kui yang berusia satu tahun selalu bolak-balik mengganggu adiknya, jika Tian Jingying diam, dia akan menganggu Tian Jiang. Jika Miao Jiang marah, Xiang Ri Kui berganti mengganggu Tian Ling.
"Kakak, jangan ganggu adikmu!" sungut Ling Ling saat Xiang Ri Kui menyuapi adiknya yang berusia empat bulan dengan kembang gula.
"Wek!! Ibu galak!" ledek Xiang Ri Kui dan segera kabur setelah berhasil menyuapi Tian Ling.
Ling Ling tersenyum dan melihat putrinya yang mulutnya belepotan kembang gula, "Ri kuiiii...!"
Xiang Ri Kui tertawa mendengar ibu Ling Ling berteriak keras, lalu dia berganti menuju ke kamar adiknya yang bernama Tian Huan. Qing Huan segera menutup pintu kamar saat tahu bocah usil berlari kecil dengan riang.
Xiang Ri Kui telah berada di depan pintu Qing Huan, lalu tangan kecilnya mengetuk pintu.
__ADS_1
"Nyonya, hamba mau membersihkan kamar!" ucapnya sambil menyamar suaranya dan meniru perkataan seperti pelayan istana.
"Tidak perlu, besok lusa saja dibersihkan!" jawab Qing Huan yang jelas tidak mau bocah usil masuk ke kamarnya.
"Nyonya, nanti hamba berikan kembang gula, ya! Tolong buka pintunya!" alasan Xiang Ri Kui yang tetap tidak mau menyerah sebelum sukses menjejalkan kembang gula di mulut adiknya.
Tian Zhi yang berada di ruang utama istana menepuk kening mendengar putranya yang selalu mengganggu adik dan ibunya. He Hua mengembangkan senyuman bahagia melihat suaminya selalu dibuat kewalahan menghadapi keaktifan Xiang Ri Kui.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!" ucap He Hua dan mengingatkan Tian Zhi tentang ingatan Xiang Tianzhi sewaktu kecil.
Ya, Xiang Tianzhi sewaktu kecil memang seperti Xiang Ri Kui. Untungnya saja kenakalan Xiang Ri Kui tidak berlebihan seperti Xiang Tianzhi.
Seperti itulah hari-hari damai di Kerajaan Guang. Kini Alam Mahadewa telah banyak perubahan setelah kekalahan Kekaisaran Song dan Qing.
High King of Qing Fei memimpin wilayah Selatan dengan bijaksana dan adil, dia banyak membangun infrastruktur penting dari Kota Henjiu hingga ke tempat yang dulunya ibukota Kekaisaran Qing.
Ibukota Kekaisaran Qing diubah menjadi tempat monumen, dimana ada patung emas Tian Zhi yang berhasil mengalahkan Qing Guozhi. Disana juga dibangun akademi beladiri dan masih banyak infrastruktur penting yang bangun oleh High King of Qing Fei.
Tian Zhi juga membangun altar dimensi antar benua, Benua Dewa dan Alam Mahadewa, dia melakukan itu agar penduduk di Benua Dewa bisa datang dan tinggal di Alam Mahadewa. Selain itu, High King Kaili bisa sering datang untuk melaporkan setiap perkembangan.
"Aku akan berkeliling!" pamit Tian Zhi kepada He Hua setelah berbicara kepada pejabat istana Kerajaan Guang, hal seperti sudah biasa dia lakukan.
"Ya, kamu harus hati-hati!" pesan He Hua.
Ketiga jenderalnya sering menangkap mata-mata dari Alam Keabadian, tapi saat berhasil ditangkap selalu saja si mata-mata memilih untuk mati bunuh diri dengan menelan racun.
Kemudian, Tian Zhi mengecup kening He Hua, lalu berganti dengan Guang Liem. Setelah itu Tian Zhi berteleportasi dan muncul di Alam Keabadian.
Tian Zhi telah berada di Sekte Tangan Hitam, tempat yang dulunya adalah markas Organisasi Tangan Hitam. Dia melihat sekitarnya banyak mayat hidup yang sedang tidur di bangunan-bangunan berbentuk kubah, jumlah bangunan kubah sangatlah banyak mencapai puluhan ribu, setiap kubah berisi dua ratus lebih mayat hidup.
Selain bangunan kubah, Jiang Chen Mei memerintahkan mayat hidup untuk membuat ruang bawah tanah yang memiliki banyak lorong-lorong seperti labirin. Lorong-lorong itu digunakan untuk jalan keluar masuk bagi mayat hidup yang selalu beraksi di malam hari, hampir di seluruh Alam keabadian dibawah tanah ada lorong. Tapi, tidak semua wilayah seperti Istana Surgawi, dimana wilayahnya terlindungi Formasi.
Jiang Chen Mei sengaja menggunakan nama Tangan Hitam agar memancing Ketua Wei Yan, namun tidak sekalipun Ketua Wei Yan datang, bahkan tidak pernah ada kabarnya sama sekali, seakan-akan menghilang tertelan kegelapan malam.
Tian Zhi pernah menawari Jiang Chen Mei, agar Sekte Tangan Hitam dilindungi oleh Formasi Perlindungan, namun ditolak dengan alasan agar si Wei Yan bisa masuk tanpa adanya halangan.
Setelah melihat perkembangan Sekte Tangan Hitam, Tian Zhi berjalan menuju gedung utama. Banyak mayat hidup yang membuka mata saat ada kehadiran manusia, mereka ingin memangsa Tian Zhi, namun mayat hidup kembali memejamkan mata, saat tahu siapa Tian Zhi. Bagi mayat hidup, Tian Zhi adalah raja dan Jiang Chen Mei sebagai ratu.
Di gedung utama Sekte Tangan Hitam, banyak sekali wanita muda dari usia 14 tahun hingga 100 tahun. Mereka adalah pelayan bertugas melayani Jiang Chen Mei dan Tian Zhi. Setiap pelayan hanya mengenakan penutup dada dan bawah model rok super mini.
__ADS_1
Penjaga gedung utama sekte adalah mayat hidup jenis Fei Zong, jumlahnya ada puluhan. jenis ini tidak takut dengan sinar matahari, tidak takut api, mereka hanya takut dengan air. Di dalam gedung dijaga mayat hidup jenis Zhe Zong, jenis ini bisa dikatakan seperti kultivator, mereka hanya takut pada lawan yang memiliki elemen es dan petir, selain dua elemen itu mereka tidak takut sama sekali.
Fei Zong yang melihat Tian Zhi segera membungkuk dan kembali berdiri tegak setelah rajanya lewat. Tian Zhi melihat sekilas logo Istana Surgawi yang tersemat di dada Zhe Zong, sudah ditebak asal mereka.
Saat berada di pintu gedung utama, Tian Zhi disambut hangat oleh para pelayan, mereka begitu manja dengan memegang lengan kanan dan kiri, lalu diantar menemui Jiang Chen Mei yang berada di lantai empat.
Saat berada di lantai empat, Tian Zhi melihat Jiang Chen Mei menikmati hidupnya, dimana para pelayan merawat tubuhnya, sebagian pelayan memijat kaki dan tangannya.
"Ratu, Sang Raja datang!" bisik Kepala pelayan kepada Jiang Chen Mei
Jiang Chen Mei segera berdiri, dia langsung melompat dan memeluk Tian Zhi, dia berkata dengan manja, "lama sekali kamu tidak datang!"
Tian Zhi tertawa ringan dan menggendongnya seperti seorang putri kerajaan, lalu menuju kursi yang dibuat seperti tempat tidur. "Di Alam Mahadewa masih banyak hal yang perlu dibenahi, selain itu istriku juga melahirkan!" ucapnya dengan jujur.
"Apa malam ini kita mulai rencananya?" tanya Jiang Chen Mei setelah duduk.
"Iya, aku ingin segera menjadikan Lu Bai dan dua sahabatnya menggantikan posisi Dewa Bintang!" jawab Tian Zhi dan tidur dengan kepala bertumpu pada paha Jiang Chen Mei.
Tian Zhi dan Jiang Chen Mei berencana menghancurkan pertahanan pertama Istana Surgawi, agar mayat hidup bisa masuk dan menguasai pertahanan pertama. Rencana ini sudah lama diagendakan, namun Tian Zhi selalu menunda dikarenakan istrinya yang akan melahirkan.
Jiang Chen Mei melambaikan tangan kanannya agar para pelayan keluar dari lantai empat. Setelah tidak ada siapapun, Jiang Chen Mei segera mencium bibir Tian Zhi...
Setelah berkultivasi ganda sampai hari menjelang malam, Tian Zhi dan Jiang Chen Mei keluar dari gedung utama. Jiang Chen Mei mengangkat tangan kanan dan semua mayat hidup segera keluar dari bangunan kubah.
"Serang pertahanan pertama melalui lorong!" perintah Jiang Chen Mei.
Segera mayat hidup kembali ke dalam bangunan kubah. Ternyata didalamnya ada lorong yang tertutupi kayu, mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah dan mengikuti lorong kearah wilayah Istana Surgawi.
Sedangkan Tian Zhi memeluk pinggang Jiang Chen Mei, lalu dia berubah menjadi udara dan berteleportasi...
Tian Zhi bersama Jiang Chen Mei melayang di atas wilayah Istana Surgawi yang terlindung Formasi besar. Dikarenakan Formasi Perlindungan tingkat Kaisar Surgawi tahap menengah, mayat hidup kesulitan menembus pertahanan pertama.
Di balik tembok pertahanan pertama, banyak didirikan tenda-tenda bagi murid Akademi Istana Surgawi, pasukan dan kultivator, jumlahnya sangat banyak, perkiraan Tian Zhi mencapai angka satu juta lebih.
"Mereka menganggap mayat hidup sebagai bahan latihan," kata Jiang Chen Mei.
"Tidak untuk hari ini! Apakah kamu sudah siap?" sahut Tian Zhi dan bertanya.
"Tunggu satu batang dupa!" jawab Jiang Chen Mei yang menunggu pasukan mayat hidup telah berada pada posisinya masing-masing.
__ADS_1
Tian Zhi hanya mengangguk dan melihat dua sosok yang dikenali saat berada di Kota Qingshan, mereka adalah Naga Air dan Naga Api. Naga Api dan Naga Air baru tiba dan mendarat di atas tembok pertahanan pertama, tampaknya bersiap untuk melawan mayat hidup. Lalu keluar banyak murid akademi yang keluar dari tendanya masing-masing.
Para murid segera berdiri di atas tembok pertahanan, mereka berjajar rapi dan mengeluarkan senjata Busur, lalu disusul para prajurit Istana Surgawi dan para kultivator.