Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 233. Menaklukkan Dewi Seribu Wajah.


__ADS_3

Chapter 233. Menaklukkan Dewi Seribu Wajah.


Mendengar pengakuan Dewi Seribu Wajah, Tian Zhi tidak terlalu terkejut, sebab kejadian seperti ini pernah dia alami sewaktu di Benua Awan Timur.


Setelah Dewi Seribu Wajah membeberkan tujuannya, dia merubah wajahnya lagi. Kini wajahnya tampak usia 35 tahun, rambut panjang berwarna putih, kulitnya berwarna putih pucat.


Tian Zhi yang memperhatikan dua kali perubahan wajahnya, satu hal yang tidak bisa diubah oleh Dewi Seribu Wajah, yaitu warna pupil matanya yang berwarna kebiruan.


"Jika kamu punya kemampuan mengalahkan aku... jangan banyak bicara, maju!" tantang Tian Zhi yang tidak takut dengan Dewi Seribu Wajah walaupun kalah dalam basis kultivasi.


Dewi Seribu Wajah tersenyum, lalu dia melambaikan tangannya yang mengeluarkan elemen es. Seketika banyak pedang es bermunculan di depannya, dengan melambaikan tangannya sekali lagi, pedang es melesat ke arah Tian Zhi dengan cepat.


Tian Zhi tidak tinggal diam, mengendalikan Api Suci Petir Asyura untuk beradu kekuatan. Suara guntur memekakkan telinga ketika berbenturan dengan pedang es.


Pedang es hancur berkeping-keping dan berubah menjadi ribuan jarum es, kembali Dewi Seribu Wajah melambaikan tangannya untuk mengendalikan ribuan jarum.


Tian Zhi sedikit terkejut melihat pedang es menjadi ribuan jarum, lalu dia segera berubah menjadi angin sebelum ribuan jarum es mengenainya. Ribuan jarum es seketika menguap ketika tidak mengenai sasaran.


Giliran Dewi Seribu Wajah yang terkejut lawannya menghilang di depan mata. Namun dia tidak panik, dari dahinya mengeluarkan cahaya dan segera membuat Domain energi yang melingkupi pusat Daratan Es Tengah Samudera, dia ingin mengurung Tian Zhi agar tidak kabur.


"Mau bersembunyi terus pria tampan!" goda Dewi Seribu Wajah sambil merasakan gerakan di dalam Domain pribadinya. Dengan Domain pribadinya, dia bisa membedakan suara gemuruh angin, salju dan petir, serta pergerakan sekecil apapun di dalamnya.


Cedarrr... Cedarrr...


Petir menghujani Domain energi milik Dewi Seribu Wajah dan membuatnya bergetar. Dewi Seribu Wajah terlihat mengerutkan alisnya, ketika sambaran petir membuat kepalanya sedikit merasa pusing.


Tian Zhi yang berada sejauh lima ratus meter dari Dewi Seribu Wajah hanya tersenyum sambil mengendalikan Api Suci Petir Asyura untuk menghancurkan Domain energi.


"Sampai berapa lama kamu bisa mempertahankan domain energi mu!" batinnya dan kembali menyerang.


Petir terus-menerus menyambar domain energi dan membuat Dewi Seribu Wajah menjadi pucat, biarpun begitu dia masih mempertahankan Domain pribadinya, dimana dia memperkecil Domain pribadinya agar bisa cepat menemukan Tian Zhi.


Tian Zhi pun mengikuti pergerakan domain energi yang makin mengecil dan jaraknya makin dekat dengan Dewi Seribu Wajah.


Dewi Seribu Wajah meningkatkan kekuatan elemen es agar menemukan tempat persembunyian Tian Zhi. Akhirnya dia merasakan hawa panas dari Api Asyura di belakang dan membalikkan badannya.


"Sampai berapa lama kamu bertahan, Nenek!" Tian Zhi sengaja memanggil Dewi Seribu Wajah dengan sebutan nenek, dikarenakan usianya yang telah mencapai ratusan tahun.


"Bocah tengik, keluar kamu!?" bentak Dewi Seribu Wajah dengan menatap tajam kearah Tian Zhi yang masih menjadi angin, lalu dia segera mengendalikan domain energi untuk mengurung Tian Zhi.

__ADS_1


Akhirnya domain energi berhasil mengurung Tian Zhi, kini ukurannya sebesar balon udara yang memiliki diameter lingkaran tiga meter. Kemudian, Dewi Seribu Wajah menyegel domain energinya agar Tian Zhi tidak lolos.


Seketika awan hitam menghilang dan keadaan Daratan Es Tengah Samudera kembali seperti semula, hanya ada badai salju. Sedangkan Tian Zhi hanya tersenyum tipis, dia tidak khawatir telah terkurung.


"Hahaha!!" tawa Dewi Seribu Wajah yang berhasil menangkap Tian Zhi, dia merasa bangga dengan kehebatannya.


"Walaupun aku tidak bisa melihatmu, tapi aku masih bisa merasakan dirimu," katanya, sambil menggerakkan tangan kanan untuk mengendalikan domain energi agar semakin kecil.


Akhirnya domain energi menjadi seukuran bola sepak dan terbentuk seperti kristal energi, yang mana didalamnya tampak seperti kabut asap. Kemudian, Dewi Seribu Wajah memegangnya dengan senyuman bahagia.


Lalu dia turun di Istana Es yang telah mencair, ternyata dibawahnya ada sebuah pintu baja, tempat rahasia kedua. Dewi Seribu Wajah membuka pintu baja dan terlihat anak tangga yang menurun. Sebelum masuk ke dalam ruang bawah tanah, dia membuat dinding es tebal untuk melindungi ruang rahasianya.


Sambil bernyanyi, Dewi Seribu Wajah turun ke ruang rahasia sedalam tujuh meter. Dinding ruang bawah tanah itu terbuat dari es dan menyimpan banyak barang berharga milik Dewa Es Abadi dan Dewi Salju.


Tian Zhi yang berada di dalam bola kristal melihat sekitarnya, dia melihat lukisan Dewa Es Abadi bersama Dewi Salju dan Dewi Seribu Wajah, lalu dia terkejut saat membaca nama kedua wanita itu yang bermarga Zhi. Dewi Seribu Wajah bernama Zhi Jianying, sedangkan Dewi Salju bernama Zhi Xiancai.


"Apakah mereka ada hubungannya dengan Xiang Tianzhi?" batin Tian Zhi yang menerka-nerka asal usul Dewi Salju dan Dewi Seribu Wajah.


Tian Zhi berusaha mengingat ingatan Xiang Tianzhi untuk mendapatkan petunjuk, namun dia hanya mengingat cerita dari Xue Mei dan Xue Ling. Lalu dia melihat Zhi Jianying yang membaringkan tubuh sambil memegang bola kristal dan meletakkan di dadanya.


"Apakah kamu mau mendengarkan ceritaku?" tanya Zhi Jianying sambil melihat bola kristal, namun tetap tidak mampu melihat Tian Zhi.


Zhi Jianying tertawa kecil, sambil memejamkan mata dia bercerita.


"Sebenarnya Dewa Es Abadi dan Dewi Salju tidak mati, mereka aku kurung di Lembah Es Abadi ...,"


"Kenapa kamu kurung mereka?" sela Tian Zhi saat Zhi Jianying baru mulai bercerita.


"Sayang jika harus mati dengan sia-sia, aku kurung mereka agar bisa memberikan kekuatan secara bertahap!" jawab Zhi Jianying.


Mendengar pengakuan Zhi Jianying, Tian Zhi tidak terkejut, sebab dia telah menebak niat Zhi Jianying setelah menangkap dirinya, dikurung dan diperas kekuatannya secara bertahap. Lokasi Lembab Es Abadi berada dibawah ruang bawah tanah, oleh Zhi Jianying sengaja ditimbun banyak salju agar tidak mudah diketemukan siapapun.


"Apakah cerita tentang pertarungan dua Dewa pemilik elemen es hanya karangan mu saja?"


"Benar. Sebelum mereka bertarung, aku telah membuat jebakan dan mengiring mereka berdua agar bertarung di tempat yang telah aku tentukan...," jawab Zhi Jianying dan melanjutkan ceritanya.


Dewa Es Abadi yang sangat mencintai istrinya, jelas tidak tega melukai Dewi Salju dan berusaha menghindar serta menyeimbangkan kekuatannya. Namun berbeda dengan Dewi Salju, dia yang murka berusaha membunuhnya.


Titik ketika mereka berdua telah terluka parah, Dewi Seribu Wajah mengaktifkan jebakan yang berbentuk jeruji besi dan Formasi. Dewa Es Abadi dan Dewi Salju jelas marah telah ditipu oleh Dewi Seribu Wajah, mereka tidak menyangka saudara kandung tega menghasutnya. Namun semua sudah terlanjur dan telah masuk ke dalam jebakan.

__ADS_1


Akan tetapi, sebagai seorang suami, Dewa Es Abadi berusaha untuk melepaskan istrinya dari kurungan, dia menggunakan energi terakhirnya untuk mengeluarkan Dewi Salju dari kurungan.


"... Kakak ku berhasil kabur dan entah kemana perginya. Tapi setelah delapan bulan menghilang, dia kembali lagi untuk melepaskan suaminya... Entah dibodohkan karena cinta atau memang dasarnya bodoh, aku yang sudah menyerap sebagian kekuatan Dewa Es Abadi, jelas dia bukan tandingan ku!"


Dan pada akhirnya, Dewi Salju dikalahkan oleh adiknya sendiri, lalu dia dikurung bersama suaminya si Dewa Es Abadi. Sama seperti Dewa Es Abadi, Dewi Seribu Wajah menyerap kekuatan kakak kandungnya secara bertahap.


Dewi Seribu Wajah tetap membuat mereka hidup agar bisa terus memberikannya kekuatan. Mereka berdua diibaratkan seperti sapi perah, digemukkan lalu dipanen susunya.


"Apakah kamu tidak tahu apa yang dilakukan oleh Dewi Salju selama dalam pelarian? Bagaimana dengan Keluarga Besar Zhi, apakah mereka tidak mencari kalian? Lalu dengan pihak keluarga Dewa Es Abadi, apa keluarganya tidak mencarinya?" selidik Tian Zhi dengan banyak pertanyaan setelah Zhi Jianying selesai bercerita.


Zhi Jingying tertawa, lalu dia tidur miring dan meletakkan bola kristal dihadapannya.


"Kami sudah dewasa, lalu buat apa keluarga mencari kita? Lagian, kristal kehidupan mereka baik-baik saja, jadi keluarga menganggap kita sehat dan tidak ada masalah!" jelasnya, lalu dia menguap dan kembali memejamkan mata, dia sebenarnya kelelahan telah banyak mengeluarkan energi besar untuk mengalahkan Tian Zhi.


Zhi Jianying pun tertidur dan tidak khawatir jika Tian Zhi akan kabur. Akhirnya Tian Zhi mengerti kenapa Zhi Jianying tidak sedikitpun takut keluarganya akan mencari keberadaan Dewa Es Abadi dan Dewi Salju.


"Sebentar lagi akan ada pertemuan Keluarga Besar Zhi, apa kamu tidak menghadiri pertemuan keluarga?" tanyanya, namun Zhi Jianying tidak menjawab.


Mengetahui jika Zhi Jianying tertidur, Tian Zhi mengeluarkan aroma feromon afrodisiak secara maksimal dan memenuhi bola kristal domain energi. Lalu tanpa diketahui oleh Zhi Jianying yang sedang tertidur, dia mengeluarkan senjata yang lama tidak digunakan, yaitu Pedang Semesta - Artefak Alami.


Tian Zhi menusuk dinding bola kristal secara perlahan agar tidak membuat Zhi Jianying terbangun. Pedang Semesta perlahan menebus dinding bola kristal dengan mudah, setelah berhasil membuat lubang, dia kembali menusuk di tempat lain hingga bola kristal domain energi memiliki banyak lubang seukuran jarum.


Banyaknya lubang memicu retakan pada dinding bola kristal dan aroma feromon afrodisiak pun menyerukan keluar dengan cepat. Zhi Jianying yang tertidur belum menyadari telah menghirup banyak aroma wangi dari afrodisiak, nafasnya mulai memburu, keringat dingin bercucuran diwajahnya, tapi dia tetap tidak terbangun.


Zhi Jianying seakan-akan sedang bermimpi bercinta dengan Tian Zhi, dia pun menikmati percintaan sepasang kekasih. Sedangkan Tian Zhi telah keluar dari bola kristal dan kembali mengeluarkan aroma feromon afrodisiak secara maksimal hingga ruang bawah tanah seperti kabut energi.


Melihat Zhi Jianying yang dalam tidurnya sedang bercinta, Tian Zhi melepaskan pakaiannya, lalu menanggalkan pakaian milik Zhi Jianying hingga tidak ada lagi kain yang melekat di tubuhnya, dia berniat untuk menyerap energi Yin.


Tian Zhi menatap tubuh Zhi Jianying yang putih mulus dan terawat, buah kenyal berukuran 36B dengan bijinya berwarna merah muda. Tian Zhi pun memainkan biji buah kenyal bagian kiri dan sebelah kanan dia nikmati dengan lidah.


Baru Zhi Jianying terbangun dan syok melihat Tian Zhi telah menindihnya. Namun, dia terlambat mengantisipasi aroma feromon afrodisiak yang telah mempengaruhinya seperti binatang betina pada masa kawin.


Zhi Jianying pun mengikuti naluri kewanitaannya yang terpicu karena aroma feromon afrodisiak, dia membalikkan tubuh Tian Zhi dan dengan ganas menempatkan pantatnya di atas tongkat besar yang telah berdiri maksimal. Karena gua surganya telah basah, kepala tongkat dengan mudah masuk dan membuat Zhi Shimo melenguh panjang.


Darah segar keluar dari gua surganya, bukan karena masih suci, melainkan terlalu besar tongkat milik Tian Zhi. Zhi Jianying menahan rasa sakit yang bercampur kenikmatan, gua surganya segera melahap tongkat besar dan panjang hingga rahim terasa sesak.


Tian Zhi tidak tinggal diam, dia mengalirkan aroma feromon afrodisiak ke dalam rahim Zhi Yinping agar cepat mencapai puncak kenikmatan.


"Ohh...!!" teriakan Zhi Jianying yang mencapai puncak kenikmatan ketika dia merasakan tongkat Tian Zhi seperti membengkak di dalam rahimnya.

__ADS_1


__ADS_2