Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 294. Rayuan Maut Dewa Binatang.


__ADS_3

Chapter 294. Rayuan Maut Dewa Binatang.


Zhou Liu Changhai perlahan membuka matanya saat merasakan sensasi kenikmatan berkali-kali, dan juga karena kasurnya menjadi basah. Saat Tian Zhi menancapkan jarum akupuntur, dia seakan-akan sedang bermimpi bercinta dengan seseorang pria tampan.


Melihat Zhou Liu Changhai akan terbangun, Tian Zhi segera mencabut jarum akupuntur yang menancap di tubuhnya dan meletakkan di dalam kotak kayu. Kini tinggal bagian tubuh depan Zhou Liu Changhai yang harus diterapi dengan jarum akupuntur.


Zhou Liu Changhai membalikkan badan, dia terkejut melihat seorang pria tampan duduk dipinggir ranjangnya. Ketampanan pria disampingnya tidak pernah dia lihat dalam seumur hidup. Dan, pria dihadapannya inilah yang berada di dalam mimpinya.


Ya, Tian Zhi merubah wajah aslinya sewaktu menjadi Dewa Binatang, karena wajah yang sebelum telah dilihat oleh Zhou Liu Changhai. Tujuan lainnya, dia ingin mengobati Zhou Liu Changhai dalam keadaan sadar agar proses penyembuhan bisa diterapi dengan cepat dan maksimal.


"Halo! Saya Alkemis yang ingin mengenal kecantikan Permaisuri Kerajaan Air. Selain itu, saya dengar Anda dalam keadaan kurang sehat, jadi secepat mungkin saya datang untuk menemui Anda, bagaimana keadaannya sekarang?" sapa Tian Zhi dan sedikit mengeluarkan kata-kata rayuan, agar Zhou Liu Changhai bisa nyaman bersamanya, setelah berbicara, dia mengembangkan senyuman.


"Jadi pria di dalam mimpiku adalah Alkemis?" batin Zhou Liu Changhai yang kebingungan karena mimpinya menjadi nyata.


Secara tidak sengaja kedua matanya melihat ke meja yang tidak ada lagi Bunga Poppy kesayangan, dia sebenarnya ingin marah, berhubung ada Tian Zhi dia menahan emosi.


Lalu dia menarik selimut untuk menutupi kedua kaki serta kasurnya yang basah karena air surga yang keluar ketika bermimpi bercinta. Setelah itu Zhou Liu Changhai bertanya, "siapa namamu?"


"Zhi Shimo, panggil saja Shimo!" jawab Tian Zhi sambil mengulurkan tangan kanan saat memperkenalkan dirinya, dia sengaja menggunakan namanya dulu.


Zhou Liu Changhai menjabat tangan kanan Tian Zhi. Setelah melepaskan tangannya, dia bertanya, "jadi kamu yang mengobati ku ketika pingsan?"


Tian Zhi mengangguk sebagai jawaban, lalu dia bertanya sekali lagi, sebab pertanyaan sesaat yang lalu belum dijawab, "bagaimana keadaanmu?"


"Keadaanku lebih baik daripada sebelumnya. Metode apa yang kamu gunakan tadi?" jawab Zhou Liu Changhai, tubuhnya memang terasa sehat dan lebih ringan, dia ingin tahu bagaimana caranya Tian Zhi bisa memuaskan dirinya ketika pingsan, padahal dia tidak merasakan organ intimnya baru digunakan.


"Aku gunakan ini...." jawab Tian Zhi sambil membuka kotak kayu yang berisi jarum.


"Haa! Jadi benda sekecil ini memasuki tubuh ku ....!" Zhou Liu Changhai terkejut dan enggan melanjutkan perkataannya, sebab dia malu untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan ketika bermimpi.


"Iya, aku gunakan ini untuk memperlancar jaringan meridian yang tersumbat. Tinggal tubuh bagian depanmu yang belum!" jelas Tian Zhi.


Zhou Liu Changhai mengambil satu jarum akupuntur dan memeriksanya dengan rasa penasaran. "Benda sekecil ini bisa buatku bermimpi basah?" batinnya, antara tidak percaya dan bingung.


"Tapi aku sudah merasa sehat, apa perlu bagian depan juga?" alasan Zhou Liu Changhai yang malu harus menunjukkan tubuh bagian depan kepada Tian Zhi.


"Kamu masih merasakan sehat 50%, belum sepenuhnya. Jika tidak ditangani dengan benar, kamu akan mengalami hal sama seperti yang sudah-sudah. Apa kamu senang kecanduan Bunga Poppy dan tanaman Cannabis?" sekali lagi Tian Zhi menjelaskan agar Zhou Liu Changhai mengerti.


Zhou Liu Changhai menatap wajah Tian Zhi, lalu dia menunduk sambil berpikir. Sebenarnya, dia tidak ingin mimpinya menjadi nyata dan itu akan sangat memalukan baginya, malu jika Tian Zhi mengetahui sifat aslinya dalam berhubungan intim. Selain itu, dia juga tidak ingin mengalami hidup yang tersiksa seperti sebelumnya.


"Baiklah jika ini yang terbaik bagiku! Tapi, aku harap kamu jangan memberitahukan kepada siapapun, ini rahasia kita berdua!" keputusan Zhou Liu Changhai yang ingin sehat total.

__ADS_1


"Tenang saja! Semua Alkemis dan tabib selalu menjaga rahasia pasiennya. Silakan berbaring, apapun yang kamu rasakan nanti, jangan ditahan-tahan, luapkan sifat aslimu!" pinta Tian Zhi, lalu dia mengeluarkan dua butir pil, Pil Penyembuh dan Pemulih Energi.


"Konsumsi ini dulu agar stamina dan vitalitas kembali pulih!" jelasnya.


Zhou Liu Changhai menerima pemberian Tian Zhi dan sedikit terkejut mengetahui kualitas pil untuknya adalah yang terbaik. Setelah menelan dua butir pil sekaligus, fisik Zhou Liu Changhai kembali pulih seperti sediakala sebelum sakit.


"Memang benar kamu cantik!" pujian Tian Zhi yang ingin memberikan semangat hidup kepada Zhou Liu Changhai.


Zhou Liu Changhai tersipu malu dengan menundukkan kepalanya. Pujian Tian Zhi sebenarnya sudah sering didengar, namun ucapan Tian Zhi yang tulus membuatnya berbeda dengan pria manapun.


"Bisakah kamu keluar dulu? Aku ingin membersihkan diri dan tempat ini terlebih dahulu!" pinta Zhou Liu Changhai yang malu melihat ranjang yang basah dan berantakan, termasuk kamarnya.


"Tentu...." Tian Zhi keluar dari kamar, dia menunggu di ruang santai dan duduk di meja yang sebelumnya ada biji Bunga Poppy.


...****************...


Di luar kamar pribadi milik Zhou Liu Changhai, Dewa Air berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar istrinya. Ada rasa khawatir dengan kondisi istrinya yang dimanfaatkan oleh Tian Zhi. Namun dia membuang pikiran negatif terhadap Tian Zhi, sebab Tian Zhi memiliki banyak istri dan tidak mungkin memanfaatkan Zhou Liu Changhai.


"Kenapa tidak ada suara apapun?" gumam Dewa Air yang biasanya mendengar suara istrinya marah-marah jika didekati oleh tabib dan Alkemis, "mungkin Kaisar Tian membuatnya pingsan agar mudah ditangani!" batinnya yang berusaha berpikir positif.


Lalu datang enam orang, tiga pria dan pasangannya, mereka adalah adik kandung Dewa Air, Yu Jie adik ketiga, Yu Kian adik keempat dan Yu Yaoshi adik kelima. Dewi Samudera adalah saudara tertua dan Dewa Air adiknya.


Dewa Air dan ketiga adiknya yang meracuni Dewi Samudera. Setelah itu, mereka bekerjasama dengan Dewa Surya dan Dewa Iblis untuk mengalahkan Dewi Samudera. Tujuan untuk menguasai lautan dan Kerajaan Air, sedangkan Dewa Surya menginginkan Artefak Alami yang dimiliki oleh Dewi Samudera.


Ketiga pria itu menertawakan kakaknya yang terlihat gelisah karena kondisi Zhou Liu Changhai.


"Kakak, kamu masih saja kamu peduli dengan dia, masih banyak wanita cantik melebihinya, untuk apa menghabiskan banyak biaya untuk kesembuhannya!" tegur Yu Jie.


Dewa Air tidak menanggapi ucapan Yu Jie, sebab sudah terlalu sering mendengar hal yang sama. Dia duduk di kursi yang telah disediakan oleh pelayan istana dan menghadap pintu kamar istrinya.


Yu Kian mendekati Dewa Air, lalu dia berbisik, "Kakak, dia kan Alkemis tingkat Celestial Supreme, bagaimana jika kita gunakan racun untuk mengendalikannya. Dengan dia kita kendalikan, kekayaan kita akan bertambah dan sekaligus menguasai Alam Mahadewa!"


Spontan Dewa Air melihat adiknya, lalu dia berbicara dengan nada tinggi, "gila kamu! Kejahatan ...," dia berhenti bicara untuk melihat sekitarnya, setelah aman kembali melanjutkan perkataannya dengan suara lirih, "sejarah masa lalu... Apa tidak kalian renungkan? Lihat, setelah kakak kita mati, bukannya Kerajaan Air makin berjaya, malahan menjadi budak penguasa lain. Jika kita melakukan hal yang sama, kerajaan ini tidak akan berumur panjang. Kakak kita tidak sama seperti Kaisar Tian, dia lebih kuat dan ahli Alkemis. Ingat itu!"


Dewa Air menegur keras adik-adik yang serakah, dia menatap tajam Yu Kian dan yang lainnya. Dia tidak ingin lagi terprovokasi oleh adik-adiknya, hingga menyebabkan kematian Dewi Samudera.


Dulu sewaktu Dewi Samudera menjadi penguasa, Kerajaan Air sangat disegani, rakyat makmur dan sejahtera. Namun, setelah kekuasaan di pegang oleh adik-adiknya, kondisinya berubah total, Dewa Air dan ketiga adiknya menjadi cemoohan banyak orang, dan hanya dianggap sebagai dunia ketiga alias miskin dan lemah.


"Ya sudah, kalau kamu takut! Biar kita bertiga yang melakukannya, cukup kamu menutup mata apapun yang terjadi!" sahut Yu Kian dan mengajak istri serta adiknya meninggalkan Dewa Air.


Dewa Air menghela napas berat dan mengacak-acak rambutnya, dia tidak tahu harus berkata apa mengetahui kebusukan adik-adiknya.

__ADS_1


"Hidup kalian tidak akan lama jika berniat buruk kepada Yang Mulia Kaisar Tian!" gumam Dewa Air setelah tidak melihat adiknya, lalu dia bertepuk tangan sekali.


Setelah Dewa Air bertepuk tangan, datang seorang pria tua, dia adalah penasehat kerajaan dan ahli startegi, namanya Yu Jeiru.


"Yang Mulia!" sapa Yu Jeiru.


"Apakah kamu dengar rencana mereka?" tanya Dewa Air.


"Mendengar dengan jelas, Yang Mulia."


"Segera amankan aset penting kerajaan beserta generasi muda dan orang tua. Ingat, jangan sampai ketiga adikku tahu!" perintah Dewa Air.


"Laksanakan, Yang Mulia."


Tanpa banyak bicara dan sudah mengerti, Yu Jeiru segera bertindak cepat sesuai perintah. Setelah Yu Jeiru keluar dari istana, Dewa Air melihat pintu kamar istrinya sejenak, lalu dia menyusulnya Yu Jeiru.


...****************...


Tian Zhi yang kebetulan sedang menunggu Zhou Liu Changhai selesai membersihkan diri, dia mendengar serta melihat Dewa Air dan adik-adiknya.


"Dari dulu hingga yang akan datang, sehebat apapun kalian membuat rencana, tetap akan kalah dengan orang yang memiliki kekuatan," gumam Tian Zhi.


Apa yang dikatakan oleh Tian Zhi memang benar, sekaya apapun seseorang, dia akan kalah dengan orang yang tidak peduli. Sepintar apapun seseorang, akan kalah dengan orang yang kaya. Tetapi, orang yang memiliki kekuatan, walaupun bodoh, jika marah mampu membunuh siapapun. Semakin bodoh semakin berbahaya, apalagi kuat dan cerdas...


Pintu kamar terbuka, lalu keluar Zhou Liu Changhai yang kini penampilannya jauh berbeda dari sebelumnya, kali ini lebih cantik dan seksi. Tian Zhi tersenyum melihat Zhou Liu Changhai merias wajah, lalu dia berjalan mendekati Zhou Liu Changhai.


"Apakah boleh aku mencintaimu?"


Zhou Liu Changhai tersenyum malu-malu sambil menunduk. Rayuan Tian Zhi sekali lagi membuatnya senang. Umumnya pria selalu mengucapkan kata cinta, tapi Tian Zhi sebaliknya, dia malah bertanya.


"Tapi ... Tapi, aku sudah bersuami!" jawab Zhou Liu Changhai dengan terbata-bata.


Tian Zhi meraih kedua tangan Zhou Liu Changhai tanpa penolakan, namun tidak berani memandang wajah tampannya.


Kemudian, Tian Zhi berbicara, "semua orang bisa berpasangan, tapi belum tentu mendapatkan cinta sejati. Cinta sejati datang di waktu yang tepat, namun umumnya terlambat, terlambat datang untuk mengobati luka hati. Terlambatnya cinta sejati, agar hati tidak lagi terluka, datang terakhir tapi untuk selamanya!"


Spontan Zhou Liu Changhai menatap wajah Tian Zhi, sebab rayuan kali ini lebih membuatnya bahagia.


Sedangkan bagi Tian Zhi, perkataan ini sering dia ucapkan sewaktu menjadi Dewa Binatang dan sudah banyak korbannya, dimana dulu pasangan suami-isteri menjadi berpisah karena ucapan Dewa Binatang kepada setiap wanita bersuami, apalagi wanita yang masih melajang.


Tanpa banyak bicara, Zhou Liu Changhai menarik tangan Tian Zhi agar masuk ke dalam kamarnya. Disaat dekat dengan ranjang, Zhou Liu Changhai mendorong tubuh Tian Zhi hingga terjatuh di kasurnya.

__ADS_1


Tian Zhi tersenyum melihat Zhou Liu Changhai melepaskan pakaiannya dengan cepat, dia tahu apa yang akan terjadi nanti. Terlihatlah tubuh Zhou Liu Changhai yang padat berisi, dada membusung indah dan pinggang ramping ibaratkan gitar.


Zhou Liu Changhai naik ke kasur dan mencium bibir Tian Zhi...


__ADS_2