
Chapter 214. Tidak Ditemukan!
Bocah Tua pertapa itu mengedarkan pandangannya untuk memeriksa seluruh Kedai Teh Pelangi dan tersenyum saat merasakan aura seseorang yang dia kenali.
Pemilik Kedai Teh Pelangi juga terlihat kesal dengan kedatangan Bocah Tua itu, tapi dia jelas tidak berani meluapkan kekesalannya, lalu dia menyambut kedatangan Bocah Tua dengan senyuman yang dipaksakan.
Suasana Kedai Teh Pelangi menjadi hening semenjak kedatangan Bocah Tua, mereka terlihat waspada terhadapnya.
Setelah memeriksa kekuatan Bocah Tua dan melihat perubahan suasana, Tian Zhi kembali bertanya, sebab dia penasaran dengan identitas pria itu tersebut.
"Kenapa Nyonya Zhi dan semua orang terlihat membenci orang tua itu?"
Zhi Yinping menghela nafas berat dan tidak segera menjawab, dia terlihat memikirkan sesuatu yang membuatnya sulit untuk berbicara. Setelah beberapa saat, dia melihat Tian Zhi yang sedang memperhatikan Bocah Tua yang sedang duduk dilantai dasar.
"Master Tian, bolehkah aku meminta bantuan Anda?" pinta Zhi Yinping dengan nada berat
Tian Zhi memiringkan kepalanya untuk melihat wajah cerah yang berubah menjadi mendung, lalu dia tersenyum tipis. "Katakan saja, selama aku bisa dan tidak melewati batas toleransi, maka aku akan berusaha memenuhinya!"
Panggilan Tian Zhi sengaja diubah, dimana dirinya selalu memakai kata saya dan diganti menjadi aku, sebab lebih akrab dan nyaman berbicara, apalagi melihat Zhi Yinping yang meminta bantuannya. Demikian juga Zhi Yinping yang telah berganti panggilan.
Zhi Yinping memainkan jari-jarinya disaat penuh kontemplasi, dimana bibirnya yang ingin berbicara tapi terasa berat dan menutup kembali. Setelah beberapa saat dia pun membulat tekad untuk meminta bantuan.
"Master... Master Tian... Saya... Maksudku, begini ...!"
Tian Zhi ingin tertawa melihat kegugupan Zhi Yinping, dia langsung memegang tangan kanan Zhi Yinping. Tubuh Zhi Yinping bergetar ketika tangannya dipegang oleh Tian Zhi, ingin menarik tangannya tapi enggan, sebab ada rasa tenang saat dipegang oleh Tian Zhi.
"Tenang dulu, kemudian berbicara! Percayalah, selama bisa akan ku kabulkan!" ucap Tian Zhi untuk menenangkan Zhi Yinping, lalu melepaskan tangannya.
Zhi Yinping menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Kemudian dia pun berbicara, "Master Tian, ini terkait Bocah Tua itu ... Bisakah Master Tian berpura-pura menjadi... Kekasihku ... Tapi hanya disaat ada Bocah Tua itu saja...!"
Wajah cantik Zhi Yinping semakin merah karena menahan rasa malu dan membuat Tian Zhi ingin tertawa. Namun Tian Zhi jelas tidak akan tertawa, dia tidak mau menghancurkan kepercayaan diri Zhi Yinping yang bisa mengungkapkan keinginannya dengan susah payah.
"Itu permintaan sepele... Tapi, apakah suamimu tidak akan marah, jika tahu keinginan Anda seperti ini?" tanya Tian Zhi yang tidak segera mengiyakan, dia penasaran kenapa Zhi Yinping meminta hal seperti ini.
Zhi Yinping kembali membuang nafas berat dengan wajah tertunduk lesu, tampak enggan jika ditanya hal ini. Tian Zhi melihat wajahnya sekilas dan kembali memperhatikan gerak-gerik si Bocah Tua.
"Sejujurnya... Aku belum menikah!" ungkap Zhi Yinping yang terlihat memendam rahasia dan ada getaran kebohongan saat Tian Zhi mendengarnya.
Namun, Tian Zhi tidak perduli jika Zhi Yinping berbohong, sebab permintaannya untuk menjadi kekasih palsu tidak susah baginya.
__ADS_1
"Baiklah, aku mau jadi kekasihmu... Tapi, apakah Anda bisa berprilaku layaknya kita seperti pasangan yang sebenarnya? Anda juga harus tahu konsekuensinya dengan kita menjadi kekasih palsu...?" tanya Tian Zhi agar Zhi Yinping tahu resikonya.
Permintaan Zhi Yinping jelas akan berpengaruh terhadap kehidupan sosialnya, dimana akan banyak pertanyaan dari penduduk, relasi, keluarga dan bisa juga mempengaruhi statusnya di Paviliun Pil Langit. Dan yang paling penting, apakah tidak akan memunculkan musuh bagi Tian Zhi?
"Aku tahu dampak buruknya ... Lebih baik lepas dari kejaran Bocah Tua itu yang selalu mengusik kehidupan ku selama ini! Untuk masalah lainnya, aku tidak peduli!" ungkap Zhi Yinping dan mudah dipahami oleh Tian Zhi.
Ya, Bocah Tua itu sudah lama menginginkan Zhi Yinping menjadi pasangan Dao, tapi selalu tidak bisa mendapatkan hatinya. Segala cara telah dilakukan Bocah Tua untuk menarik perhatian Zhi Yinping, namun selalu gagal.
Karena itu Zhi Yinping jarang sekali keluar dari Paviliun Pil Langit hanya untuk menghindari Bocah Tua. Di Paviliun Pil Langit, Bocah Tua tidak berani membuat masalah. Berbeda saat berada di luar, Bocah Tua akan menganggu Zhi Yinping. Semua orang sudah tahu kelakuan buruk Bocah Tua, tapi tidak ada yang berani mengusiknya. Bocah Tua itu seperti hantu, tiba-tiba muncul dan menghilang seperti ditelan kegelapan. Dan setiap kali muncul selalu menggangu wanita.
Tian Zhi mengangguk, wajar jika Zhi Yinping menarik perhatian orang kuat dengan wajah cantik dan juga seorang ahli Alkemis, siapapun pria akan berusaha mendapatkannya.
"Lalu, apakah Anda pernah bermesraan?" ulang Tian Zhi yang pertanyaan tidak dijawab secara jelas, walaupun hanya berpura-pura, tetap harus menampilkan hubungan kekasih yang sesungguhnya agar terlihat asli. Apalagi targetnya adalah seorang yang memiliki kekuatan Sang Void level tiga puluh, seseorang yang tidak bisa dianggap enteng.
"Itu...," Zhi Yinping kembali kebingungan untuk berbicara, sejujurnya dia tidak pernah memiliki kekasih dan jelas tidak tahu bagaimana bisa mesra terhadap pasangan.
"Dia seperti Meyleen dan ketiga kembarannya, polos, benar-benar berbeda dengan wanita dibawah usianya!" batin Tian Zhi yang harus memberikan pengetahuan seputar percintaan.
"Aku bisa mengajarkan mu bagaimana bermesraan dengan pasangan... Jangan kaget, tetap tenang, santai saja dan ikuti setiap apa yang aku lakukan. Jika kamu siap, katakan saja," kata Tian Zhi dan menuangkan teh hangat di cangkirnya dan milik Zhi Yinpin, lalu dia menyesap teh dengan penuh perasaan untuk menikmati rasanya.
Zhi Yinping panik saat melihat Bocah Tua itu berdiri dan melihat kearahnya, lalu Bocah Tua itu berjalan menuju ke lantai dua dengan percaya diri.
Tian Zhi tersenyum dan merasakan tangan Zhi Yinping yang mengeluarkan keringat dingin, tanda dia ketakutan dengan Bocah Tua itu. Tian Zhi meletakkan cangkir dan sedikit memiringkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Zhi Yinping.
"Santai saja, bayangan kamu sedang berhadapan dengan seseorang pria yang paling kamu cintai atau... Anggap saja aku seorang pria impianmu," pinta Tian Zhi yang akan memulai mengajar, dan Zhi Yinping mengangguk sambil melirik Bocah Tua.
Tian Zhi merasakan deru nafas Zhi Yinping yang tak beraturan. "Tatap mataku!" pintanya.
Zhi Yinping mengikuti dan melihat pupil mata Tian Zhi yang sangat unik nan indah, dia seakan-akan merasakan ketenangan saat melihat kedua mata Tian Zhi.
Zhi Yinping tersentak kaget ketika tangan kanan Tian Zhi memegang pipi kirinya, dia pun memegang erat tangan kiri Tian Zhi. Lalu dia melihat wajah Tian Zhi mendekat secara perlahan. Jantung Zhi Yinping berdebar kencang, baginya dunia seakan-akan berjalan melambat.
Zhi Yinping makin erat memegang tangan Tian Zhi saat dua bibir saling bersentuhan, tangan kanan memegang pakaiannya sendiri dan dia menghentikan nafas saat merasakan bibir Tian Zhi yang dingin dan lembut.
Secara naluri, Zhi Yinping memejamkan mata dan mulai perlahan terhanyut dalam rasa cinta yang tidak pernah dia alami, dia pun membuka mulut ketika lidah Tian Zhi berusaha masuk, dia pun mengikuti dengan beradu lidah.
Tian Zhi merapatkan tubuhnya dan tangan kanan memberikan pijatan relaksasi di bahu kiri Zhi Yinping. Sedangkan tangan kiri Zhi Yinping mulai berani memegang pipi kanan Tian Zhi, dia merasa jika dunia ini miliknya, hanya untuknya dan Tian Zhi.
Setelah Zhi Yinping merasakan nyaman, Tian Zhi mendorong tubuh Zhi Yinping secara perlahan hingga terbaring, dengan kepala bertumpu pada sandaran sofa yang empuk. Selama itu, Zhi Yinping tidak membuka mata, dia hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Tian Zhi, dia merasakan makin mencintai Tian Zhi yang memperlakukannya secara lembut...
__ADS_1
Bocah Tua telah berada di dilantai tiga dan dengan berjalan mantap menuju bilik nomer lima. Pemilik Kedai Teh Pelangi berusaha menghentikan Bocah Tua, namun tubuhnya membeku ketika merasakan aura kekuatan Sang Void yang menekannya.
Akhirnya, pemilik kedai hanya bisa melihat Bocah Tua telah berdiri didepan bilik nomer lima dan tangannya akan mengetuk pintu.
Tok... Tok...
"Nyonya Zhi, satria ini merindukanmu!" Bocah Tua mengetuk pintu dan berbicara dengan percaya diri, seakan-akan dia adalah satria bagi Zhi Yinping.
Namun, Bocah Tua itu tidak mendapatkan tanggapan dari Zhi Yinping. Biarpun tidak ada tanggapan positif, dia tidak marah dan tetap mengembangkan senyuman kemenangan.
"Sayangku dari surga, ijinkan aku masuk ke hatimu... Dan aku pun membuka pintu...," rayuan Bocah Tua dan memegang ganggang pintu, lalu dia mendorongnya.
Terlihat jelas di dalam bilik kamar, tapi Bocah Tua itu tidak melihat Zhi Yinping dan juga tidak lagi merasakan auranya. Bocah Tua itu garuk-garuk kepala dengan raut wajah kebingungan, saat tidak menemukan Zhi Yinping di dalam ruang ukuran tiga meter persegi, tapi ada dua cangkir teh
"Aneh... Tadi auranya masih ada disini... Bagaimana mungkin tiba-tiba menghilang...," gumamnya dan menutup pintu, dia tidak begitu jeli telah melihat dua cangkir, satu cangkir yang seharusnya bisa menjadi pertanyaan.
Saat pintu telah ditutup, dia tiba-tiba merasakan di dalam ada dua orang, segera Bocah Tua membuka kembali pintu dan tercengang saat tidak melihat apapun.
Setelah pemeriksaan dengan teliti, Bocah Tua itu kembali menutup pintu dan kali ini tidak merasa aura Zhi Yinping dan satu orang yang tidak dikenalnya. Dia melepaskan kesadaran untuk mencari keberadaan Zhi Yinping, namun tidak menemukannya.
"Humph! Sial... Bagaimana dia bisa tiba-tiba menghilang!" umpatan kekesalan Bocah Tua dan berjalan meninggalkan bilik kamar nomer lima.
Pemilik Kedai Teh Pelangi yang melihat kejadian itu terkejut, saat Bocah Tua tidak menemukan Zhi Yinping, padahal dia sendiri yang mengantarkannya. Setelah Bocah Tua itu turun, pemilik kedai bisa bergerak, lalu dia buru-buru menuju ke bilik nomer lima, lalu mengetuk pintu.
Tok... Tok..
"Jangan ganggu!" suara Tian Zhi terdengar dibenak pemilik kedai.
Pemilik kedai jelas kaget ternyata masih ada penghuninya, tapi setelah itu bernafas lega, dia pun bergegas meninggalkan bilik nomer lima dengan hati yang tenang.
"Bagaimana mereka bisa tidak diketahui oleh Bocah sial itu!" batin pemilik kedai.
Sedangkan Zhi Yinping yang terhanyut dalam asmara, tidak mengetahui jika Tian Zhi membuat Bocah Tua tidak mampu melihat, sebab Tian Zhi berubah wujud menjadi udara bersama dengannya.
Bocah Tua itu akhirnya keluar dari Kedai Teh Pelangi tanpa membayar pesanannya yang telah dihabiskan, dan membuat pemilik kedai menyumpahinya di dalam hati.
Nafas Zhi Yinping terengah-engah karena merasakan sensasi kenikmatan dan makin membuatnya lupa diri, bahkan Tian Zhi telah melepaskan pakaiannya tanpa ada penolakan.
Tian Zhi memainkan biji buah kenyal milik Zhi Yinpin yang berukuran 46B cup, dan membuat Zhi Yinping melenguh keras, gua surganya juga telah basah kuyup dan siap untuk dimasuki...
__ADS_1