Trigrams Chaos

Trigrams Chaos
Chapter 61. Target Utama Muncul.


__ADS_3

Chapter 61. Target Utama Muncul.


Sesampainya di lantai dua, Tian Zhi melihat banyak orang yang memiliki status yang sama, hanya saja kekuatan mereka di bawah dia dan dua orang yang kekuatannya bisa dikatakan sama, berada pada tingkat Supreme Immortal. Tian Zhi menebak jika mereka berasal dari Benua Bintang atau dari Benua Teratai.


Segera pelayan wanita memberikan tempat duduk paling tengah, dan memang tempat duduk di tengah yang masih kosong, dan Tian Zhi pun tidak mempermasalahkannya.


Tian Zhi memesan menu terbaik beserta minumannya dan memberikan seribu keping emas dan memberikan sisa kembali kepada pelayan. Dengan senang hati si pelayan wanita menerima dan buru-buru mempersiapkan menu pesanannya.


Ternyata hal sepele yang dilakukan Excel Shimo menjadi buah cibiran para satria, mereka mengganggap Tian Zhi sok kaya, pamer dan lain sebagainya, padahal Tian Zhi tidak ada niatan seperti apa yang mereka bicarakan tentangnya. Seribu keping Emas itu juga bukan miliknya, tapi hasil rampasan setelah membunuh banyak orang.


Tian Zhi geleng-geleng dan menghiraukan ocehan mereka. Sekali lagi gerakan geleng-geleng juga memicu ketidaksenangan para satria, itu membuat Tian Zhi mulai kesal dan memelototi mereka.


Akhirnya satu satria yang memiliki kekuatan sama menghampiri dan mengebrak mejanya. "Jangan sok kamu disini, kamu kira hanya kamu saja yang kaya! Hah!" bentaknya.


Bukk... Bang... Bang...


Tian Zhi tanpa banyak bicara langsung memukul pelipis pria yang marah tanpa alasan. Pria itu menabrak kursi dan meja, hingga membuat semua orang berdiri dan hendak mengeroyok Tian Zhi.


"Sampah!!" geram Tian Zhi kepada pria yang dia pukul.


Pria itu termasuk beruntung masih hidup, sebab Tian Zhi hanya menggunakan kekuatan fisik sebanyak sepuluh persen, jika dia menggunakan tiga puluh persen kekuatan fisiknya, sudah dipastikan pria itu sama seperti batu besar yang dia jadikan latihan.


"Bangsat!! Hajar dia dan jangan berhenti sebelum wajahnya tidak dikenali siapapun!" perintah salah satu satria yang memiliki kekuatan yang sama.


Segera semua satria yang berjumlah lima belas orang menyerang Tian Zhi. Namun Tian Zhi tiba-tiba menghilang, dia menjadi udara dan muncul lagi di belakang pria yang dia pukul. Spontan para satria tercengang dan saling bertukar pandang, sebelum mereka mencari orang yang sudah dianggap musuh...


Sling...


Para satria mendengar suara daging terpotong dan membalikkan badan untuk melihat ke sumber suara. Mereka tercengang saat melihat kepala melayang dengan cepat kearahnya, dan salah satu satria menangkap kepala yang kedua matanya masih berkedip-kedip, setelah itu berhenti berkedip dan melotot dengan lehernya meneteskan banyak darah segar.


"Astaga!!" teriak satria yang memegang kepala rekannya dan melemparkan secara spontan karena ngeri.


"Setan!?" bentak semua satria dan melihat kearah rekannya yang terpenggal, tapi mereka terkejut saat tidak menemukan tubuhnya.


Segera semua orang mencari tubuh rekannya dan tidak menemukan. Tian Zhi tiba-tiba muncul lagi setelah mengekstrak dantian satria yang dia bunuh, dia kembali duduk dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


"Kamu... Dimana dia!?" bentak satria yang memiliki kekuatan sama kepada Tian Zhi sambil menunjuk wajahnya.

__ADS_1


Tian Zhi benci jika ada menunjuk wajahnya, dia segera menghilang lagi dengan berubah menjadi Udara. Seketika suara pukulan terdengar, kali ini korbannya seorang satria yang berdiri paling belakang, Tian Zhi memukul lehernya hingga pingsan, setelah pingsan si korban dia masukan ke dalam cincin dimensi.


Gerakan Tian Zhi sangat cepat, setiap para satria yang waspada dan mencari sumber suara pukulan selalu tidak menemukan apapun. Namanya saja seperti angin, gerakan cepat hening dan sangat mematikan, setiap korbannya dibuat pingsan tanpa bisa mengetahui siapa pelakunya.


"Hantu... Dia hantu!!"


Sisa satria menjadi panik dan melihat rekannya yang paling kuat ada yang memukul dari belakang, sebelum memberikan peringatan, rekannya telah terpukul dan tiba-tiba menghilang. Tersisa dua orang dan disaat akan berteriak sambil kabur, kedua orang itu terpukul tengkuknya dan pingsan.


Tian Zhi kembali duduk di tempat semula dan bertingkah seperti tidak terjadi apapun. Lantai dua menjadi sepi dan hening, dan sisa-sisa darah segera Tian Zhi bersihkan dengan membakarnya.


"Terima kasih telah memprovokasi ku!" gumam Tian Zhi sambil duduk dengan memegang cincin dimensi untuk mengalirkan energi spiritual.


Tian Zhi mengikat semua korbannya dan akan dia bunuh setelah keluar dari kedai minuman. Tidak berselang lama si pelayan wanita bersama dua rekannya datang sambil membawa pesanan-nya. Pelayan terkejut melihat lantai dua menjadi sepi, tapi dia mengira jika semua satria telah selesai dan keluar.


"Tuan Satria, maaf membuat Anda menunggu lama! Apa Anda disini atau pindah tempat!" si pelayan meminta maaf dan memberikan tawaran untuk pindah tempat duduk.


"Mereka merusak meja dan pergi begitu saja!" lapor Tian Zhi kepada si pelayan dan memberikan beberapa keping Emas sebagai ganti rugi.


Si pelayan menghela nafas, karena hal ini sudah bisa terjadi. "Tuan Satria tidak perlu mengganti segala kerusakan, ini sudah menjadi tanggungjawab pemilik kedai!"


"Ambil saja, justru aku malu dipanggil Satria dan melihat Satria lain bertindak arogan!" kata Tian Zhi dan memaksakan si pelayan untuk menerima ganti rugi, dan dia segera pindah menuju tempat duduk paling sudut dekat jendela, dia ingin mempelajari situasi terkini Ibukota Xiang.


Tidak berselang lama datang dua wanita yang sedang diikuti banyak satria. Kebanyakan satria memuji, nada pujian jelas seperti penjilat. Tian Zhi tidak perduli, dan dia tetap melihat keluar jendela sambil meminum arak.


Dua wanita itu adalah He Hua dan Miao Jiang, dan sudah rutinitas menjadi pelanggan kedai, tempat biasa mereka berada di lantai empat. He Hua dan Miao Jiang selalu menjadi perhatian semua orang, karena selain terkenal cantik walaupun memakai cadar, mereka juga murid inti dari Akademi Istana Surgawi.


He Hua dan Miao Jiang sangat terkenal di Alam Semesta Aurora, dan siapapun ingin sekali mengikat hubungan dengan mereka berdua, bahkan status mereka mengalahkan seorang Alkemis.


Disaat berjalan menuju lantai empat, Miao Jiang dan He Hua melihat Tian Zhi yang menyamarkan namanya sebagai Shimo, mereka berdua berhenti dan karena mencium bau darah yang samar, dan aneh bagi mereka jika lantai dua yang biasanya ramai menjadi sepi.


Semua satria mengikuti pandangan pujaan mereka dan melihat seseorang pria yang tidak perduli dengan kehadiran pujaan mereka. Segera salah satu pria menghampiri Tian Zhi, dia berniat cari muka untuk mendapatkan pujian dari He Hua dan Miao Jiang.


"Hei, kamu ... Kenapa kamu tidak memberi hormat kepada Nona Muda Hua dan Nona Muda Jiang!?" bentak satria pencari muka kepada Tian Zhi.


Tian Zhi melirik dan tersenyum tipis kepada satria pencari muka, lalu melirik He Hua dan Miao Jiang, lalu dia kembali melihat jendela tanpa perduli pria di depannya.


He Hua dan Miao Jiang sedikit heran melihat reaksi Tian Zhi tidak seperti pria yang mereka lihat dan kenali saat bertemu, baru kali ini ada pria yang cuek dan dingin dengan mereka.

__ADS_1


Satria pencari muka jelas marah tidak dihormati Tian Zhi, dia mengeluarkan basis kultivasi tingkat Deity tahap tiga. Dia terkejut saat melihat Tian Zhi tidak tertekan dan malah mengambil camilan dengan santainya.


He Hua dan Miao Jiang saling bertukar pandangan. "Mungkin dia menggunakan jimat atau alat untuk menangkal aura kekuatan," kata Miao Jiang kepada He Hua melalui komunitas telepati.


He Hua menggelengkan kepala. "Seperti yang aku katakan tadi, dia menyembunyikan kekuatannya sangat dalam, dan dia juga tidak menggunakan jimat maupun alat menahan kekuatan aura di tubuhnya!"


"Kak, aku tidak bisa melihat kekuatannya! Apa jangan-jangan dia melebihi kekuatan ku dan setara denganmu!" tebak Miao Jiang, setelah memeriksa basis kultivasi Tian Zhi dengan menggunakan Mata Dewa.


"Aku juga tidak tahu! Pria ini seperti dia, selalu membuat penasaran dan jengkel orang!" ungkap He Hua yang merasakan familiar dengan sikap Tian Zhi yang pandai memprovokasi orang dan menyebalkan.


Dibalik cadar, Miao Jiang tersenyum dan berbicara lagi. "Hayo! Kakak menyukainya, kan!" tebaknya.


"Enak saja, siapa mau dengan pria jelek itu yang menyebalkan dan hii...! Aku ingin merontokkan giginya saja!" sanggah He Hua dan makin geram dengan Tian Zhi, "sudah tinggalkan dia, mungkin dia meniru orang yang menjadi buruan banyak kekuatan." ajaknya dengan menggandeng Miao Jiang.


Mereka kembali berjalan menuju lantai empat dan membuat Miao Jiang terkekeh melihat reaksi He Hua yang tidak seperti biasanya, yang tenang dan tidak perduli dengan siapapun dan pria manapun.


Satria pencari muka tidak menyadari jika telah ditinggalkan oleh He Hua dan rekan-rekannya, dia masih memerintahkan Tian Zhi untuk memberikan hormat kepada kedua pujaannya.


Tian Zhi segera bereaksi dengan tubuhnya berubah menjadi udara dan membuat pria itu seketika pingsan lalu memasukkan ke dalam cincin dimensi. Tian Zhi juga ikut masuk dan saatnya memanen korbannya.


Disaat He Hua berada di lantai empat dan lepas dari para pengejarnya, dia terkejut saat kesadarannya tidak merasakan kehadiran Tian Zhi dan satria pencari muka, dia buru-buru membuka Mata Dewa untuk melihat ke lantai dua.


"Aneh! Kemana mereka?" gumam He Hua.


Segera Miao Jiang membuka Mata Dewa nya juga, dia tidak melihat Tian Zhi dan satria pencari muka, dia juga heran tidak menemukan jejaknya setelah mencari di seluruh kedai berlantai dan juga telah mencari di luar kedai.


"Apa kamu tidak merasa aneh di lantai dua?" tanya He Hua.


"Iya, biasanya lantai dua penuh satria, tapi sejak kehadiran pria itu menjadi sepi, apalagi barusan pria penjilat itu tidak ada juga bersama dengannya!" jawab Miao Jiang yang juga merasakan keanehan hari ini.


"Jangan-jangan itu dia!!" tebak He Hua dan segera berdiri.


"Bukannya dia berada di Kerajaan Xiang?" tanya Miao Jiang.


"Dengan kekuatannya sekarang, ukuran Benua Awan Timur sangat kecil!" jawab He Hua dan buru-buru keluar dari lantai empat menuju lantai dua.


Miao Jiang segera mengikuti dan merasakan perasaan gelisah di hatinya. Sesampainya di lantai dua dan masuk, aroma darah segar terasa dan segera He Hua menyelidikinya.

__ADS_1


Dia terkejut saat melihat bercak darah di kaki meja dan kursi, lalu melihat dan memegang dengan jari abu sisa darah yang terbakar. Segera He Hua berdiri dengan wajah sangat serius.


"Peringatkan kepada seluruh kesatria untuk waspada, target utama sudah masuk ke dalam Ibukota Xiang!" perintah He Hua kepada Miao Jiang setelah penyelidikan.


__ADS_2