Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
16. Masak Pakai Cinta


__ADS_3

"Ada di dalam," ucap Malik.


"Assalamu'alaikum," Lisa mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah Malik.


Tak lama kemudian Khadijah keluar dari dapur, "Waalaikumsalam, wah ada tamu jauh!" Ucap Khadijah berbasa-basi.


"Iya, helikopter nya baru sampai, Jah." Lisa menimpali, "Ngapain di belakang?"


"Lagi masak mie, Riska pengen Mie katanya."


"Oh," Lisa ber oh ria. "Ini aku bawakin bakwan, masih hangat."


"Alhamdulillah, terima kasih ya. Oh iya, aku tinggal sebentar ya! Bentar saja, belum siap masaknya."


"Oh ya sudah, biar aku tunggu."


Lisa sengaja menunggunya, padahal bukan niatnya menunggu sahabatnya, tetapi ingin bercengkrama dengan Malik saat ini. Di ruangan tersebut juga ada Riska, untuk itulah jika mereka ingin bercerita, harus di saring sebersih mungkin.


Malik pun masuk ke dalam dan bergabung bersama Lisa dan Riska saat ini. "Wah, apa itu?" Malik berbasa-basi.


"Bakwan, Bang. Mau? Makan saja!"


Malik membuka box nya, kemudian mengambil satu. "Riska mau, Nak?"


"Nanti, Yah. Nunggu mie nya dulu."


"Ayah duluan ya, penasaran dengan masakannya Bu Lisa."


"Iya, Yah," sahut Riska.


Saat Malik menggigit bakwannya, ia mengedipkan mata ke arah Lisa. Tentu saja membuat wanita itu hampir melayang. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa karena ini berada di rumah Khadijah saat ini.


"Eumh, rasanya enak nian. Resepnya apa?"


"Cinta! Masak itu pakai cinta, Bang. Biar rasanya enak."

__ADS_1


"Oh, begitu. Berarti harus cinta ya!" Sahut Malik, entah apa yang ada di pikiran mereka saat ini. Saling memberikan isyarat lewat kata Cinta.


Saat ini Riska duduk paling depan, karena ia ingin menonton tv. Sedangkan Lisa duduk di belakang menyenderkan badannya di dinding. Tiba-tiba Malik menggesekkan badannya hingga tepat bersebelahan dengan Lisa. Diam-diam ia memegang tangan Lisa, membuat wanita itu semakin deg-degan.


"Maaf, nunggu lama!" Teriak Khadijah sambil berjalan ke depan.


Malik buru-buru melepaskan tangannya, ia mengambil bakwan lagi dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Eh, Bang Malik sudah masuk ke dalam toh," ucap Khadijah saat melihat suaminya berada di sebelah Lisa. Ia tidak curiga sama sekali, tetapi ia bingung karena tak biasanya Malik mau bergabung jika ada tamu ke rumahnya.


"Iya, Abang penasaran sama bakwannya."


"Enak nggak, Bang?" tanya Khadijah.


"Enak, coba kamu makan." Titah Malik sambil mengambilkan satu untuk istrinya.


Khadijah menerima dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya, Malik pun tersenyum. "Gimana, Jah? Enak nggak? Katanya resepnya pakai cinta!"


"Enak, Bang. Ya gitulah istri, pasti masakin suami pakai cinta. Makanya Mas Yuda klepek-klepek terus sama Lisa." Sahut Khadijah sambil menggoda sahabatnya.


"Ah, iya. Benar kata kamu, pasti klepek-klepek ya!" Sambung Malik sambil melirik Lisa sekilas.


"Dingin-dingin enaknya tuh kelonan sama misua kali, Jah." Sambut Lisa sambil terkekeh geli. "Aku bercanda, aku langsung pulang ya. Mas Yuda belum aku siapin makan!"


"Ya sudah, jangan lupa pakai selimut biar nggak dingin nian."


Lisa terkekeh, "Kamu ini! Aku pulang ya, Assalamu'alaikum. Mari, Bang Malik."


"Iya, hati-hati. Waalaikumsalam."


Malik menatap kepergian Lisa, ada yang sedang melenggak-lenggok disana membuat mata Malik tak ingin lepas menatapnya.


Ekhm!


Mendengar suara deheman Khadijah, Malik langsung berpura-pura mengambil rokok yang berada di belakangnya. "Ndak usah pura-pura, Bang. Dijah tahu," ucap Khadijah.


Malik terlihat salah tingkah, "Tahu apa?"

__ADS_1


"Tahu kalau Abang lagi lihatin Lisa, 'kan? Hm ... Lisa cantik ya, Bang? Dia pakai skin care tuh."


"Kamu nggak mau pakai skin care juga?"


Khadijah menggelengkan kepalanya, "Lebih baik di tabung duitnya, Bang. Dijah pengen nian punya rumah sendiri."


"Selagi masih kerja di sini, rumah masih aman. Sisihkan lah sedikit saja untuk merawat diri kamu, Jah."


"Kenapa? Dijah mulai jelek ya?"


"Kamu cantik, tapi wanita juga butuh perawatan biar suaminya makin nempel."


"Memangnya kalau Dijah merawat diri, Abang bakal nempel?"


"Wes 'lah, kamu ini! Di kasih tahu kok nganggap sepele. Mana mie untuk Abang? Abang lapar," ucap Malik.


Sementara Lisa saat ini baru sampai di rumahnya, di perjalanan tak henti-hentinya ia memikirkan Malik yang sedari tadi menatapnya, memuji masakannya dan juga sempat memegang tangannya.


"Aku ini mikirin apa sih? Duh, Lisa ... Lisa ..." Sambil menepuk jidatnya.


Ceklek!


Begitu Lisa membuka pintu rumahnya, terlihat Yuda sedang menikmati makannya. "Loh, Mas sudah makan?"


"Nunggu kamu kelamaan, perut Mas sudah bunyi-bunyi sejak tadi."


"Maaf ya, Mas."


"Nggak apa-apa, kamu ambil piring sana. Makan! Biar Mas tunggu, kebetulan ini juga belum kelar makannya."


Lisa sedikit merasa bersalah dengan suaminya, berani-beraninya dia ingin mendua sedangkan sang suami tidak ada kurangnya sedikitpun. Namun, perasaan itu juga sudah terlanjur terbagi. Dirinya bisa apa?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sambil menunggu kelanjutannya, Yuk kepoin punya teman othor. cekidot🫰

__ADS_1



__ADS_2