
Dua hari berlalu, Khadijah sudah memutuskan apa yang harus ia ambil saat ini. Selama dua hari ia menyendiri di kamar, bahkan Riska saja hampir tidak terurusnya lagi.
"Bang!" panggil Khadijah.
Malik mendekati istrinya, "Jah ..."
"Biar Dijah yang bicara," kata Khadijah. "Dijah mau pulang ke rumah emak, setelah Dijah dan Riska pergi terserah Abang mau gimana. Abang nak kawin, kawinlah! Abang nak cerai, cerailah! Dijah sudah nggak mau tahu lagi."
"Nggak, sampai kapanpun Abang nggak akan ceraikan Dijah! Abang sayang dengan Dijah, apa Dijah nggak kasihan dengan Riska?"
"Harusnya pertanyaan itu untuk Abang, apa Abang nggak pernah mikirin Riska saat berbuat zinah? Astaghfirullah, Bang! Semoga Allah memberi pintu maafnya buat Abang."
Malik terdiam, "Tapi Abang nggak mau ceraikan Dijah!"
"Tapi Dijah nggak mau di madu, Bang. Kalau Abang mau, tinggalkan perempuan itu."
"Dia lagi hamil, Jah!"
__ADS_1
"Ya sudah, kita yang pisah. Dijah udah nggak sanggup lihat wajah Abang lagi. Biarkan Dijah pergi, Bang. Dijah mau menata hati lagi."
"Dijah boleh pulang, tapi Abang nggak akan ceraikan Dijah!"
"Terserah Abang 'lah, nanti juga jatuh sendiri talaknya. Ba'da Zuhur nanti Dijah minta antarin Bang Imran, jadi jangan kaget kalau kami tiba-tiba nggak ada di rumah."
"Jah ..."
"Apa Bang?"
"Abang nggak punya uang buat nikahi Adelia, tolong pinjamkan uang sama Bang Imran ..."
"Apa Dijah nggak salah dengar?"
"Uang Abang cuma satu juta, Jah."
"Cobalah Abang pikir, suami nak kawin lagi bininya yang nyari modal. Lucu nggak tuh?"
__ADS_1
Malik terdiam, "Ya sudah, hati-hati nanti."
Ya! Keputusan Khadijah sudah bulat, ia harus pergi dari rumah tersebut setidaknya untuk menenangkan hatinya. Beberapa ini ia merasa sesak di dadanya, banyak orang yang menyuruhnya untuk berobat tetapi ia yakin ini bukan penyakit tetapi Malik lah penyebabnya.
Khadijah membereskan pakaiannya dan pakaian sang anak, ia juga membawa surat-surat berharga. Tak dapat di pungkiri, Selama sepuluh tahun tersebut ia sudah mencintai suaminya, sepupu yang telah menikahinya tersebut.
Dari lahir sampai gadis, Khadijah tidak pernah memandang Malik sedikitpun. Namum saat ini, hanya Malik yang ada di pikirannya.
Ternyata keputusan Khadijah tidak main-main, begitu anaknya pulang dan Imran juga pulang bekerja ia langsung pergi. Namun bukan Imran yang membawa mobilnya, tetapi supirnya 'lah yang membawa Khadijah dan anaknya pergi.
Para tetangga pun menemaninya sampai pergi, banyak tangisan di sana, termasuk Lisa. Lisa banyak bersyukur karena telah meninggalkan Malik. Jika tidak, mungkin dialah yang akan pergi saat ini.
"Jaga dirimu baik-baik, Jah. Ingat pesan Wak, kamu harus banyak berdoa. Yakinlah, hanya kekuatan doa dari istri shalihah lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia." Wak Santi memeluk Khadijah, sementara Khadijah membalasnya dengan senyuman.
Beberapa ibu-ibu memberikan Riska jajanan selama di perjalanan, "Jaga Mamak ya, Riska." Itulah salah satu pesan yang mereka katakan pada Riska.
Riska, anak kecil nan polos tersebut tidak tahu apa-apa, ia mengira jika dia hanya ingin jalan-jalan ke kampung ibunya. Namun ia juga heran, kenapa ibunya menangis?
__ADS_1
Tak lama kemudian Khadijah pergi, mereka semua melambaikan tangannya pada Khadijah. Meninggalkan rumah yang ia cintai sangat menyakitkan, Khadijah menangis sepanjang jalan. Wajar saja karena rumah tersebut banyak memiliki kenangan baginya.
"Selamat tinggal, Bang Malik."