Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
18. Bergosip


__ADS_3

Ucapan Wak Santi membuat Lisa merasa amat tertampar, sampai-sampai ia tersedak sendiri padahal tidak sedang makan ataupun minum saat ini.


"Kenapa pula kau tiba-tiba batuk?" Tanya Martha keheranan, ia mengambilkan segelas air di sampingnya kemudian di berikannya kepada Lisa. "Nah, minum!"


"Makasih," Lisa langsung mengambil minum tersebut dan meminumnya sampai habis tak tersisa.


"Oh mak jang, haus rupanya si kawan."


Wak Santi menepuk punggung Martha dengan pelan, "Ini karena kamu, bahas yang tidak penting!"


"Ini penting loh, Wak. Biar jadi pelajaran buat kita supaya nggak di selingkuhin. Aku kadang iri sama Uwak dan Lisa."


"Ada apa denganku?"


"Iya, rumah tangganya adem ayem saja gitu, apalagi Bang Yuda ku lihat alim kali. Nggak kaya bapak si Marcus, kerjanya merepet saja."


Semua terkekeh mendengar ucapan Martha, "Sebenarnya Mar, kamu sama suami kamu itu cocok. Ramai kaya di pasar!" Ucap Wak Santi membuat Lisa dan Khadijah terkekeh geli.


"Ish Uwak ini, kalau ngomong kadang suka betul." Kesal Martha memancing yang lainnya semakin terkekeh. "Tapi pernah 'lah, Wak ... Kami berantam jadi mogok ngomong gitu 'kan, kata si Marcus gini, Mak ini rumah apa kuburan? Kurang ajar memang itu anak!"

__ADS_1


"Bhahaha!" Suara tawa mereka pecah menggelegar kan satu ruangan.


"Sudah ya, Mar. Perut Uwak sakit!"


"Padahal aku cuma cerita, bisa-bisanya kalian tertawa di atas penderitaan ku. Kejamnya dunia ini!" Sahut Martha, lalu ia melirik Lisa. "Kalau kamu sama suamimu sering bertengkar nggak, Lis?"


"A -- aku?"


Khadijah menggelengkan kepalanya, "Kepo nian anak satu ini."


Martha tersenyum, "Kadang kita perlu tahu kehidupan rumput tetangga, biar jadi pelajaran juga buat kita. Iya nggak, Wak?"


"Uwak nggak marah, kamu saja yang ngapain cerita dekat kompor." Sahut Wak Santi, "Ini ya, Uwak kasih tahu. Rumah tangga itu banyak lika-likunya, Uwak sudah ngerasai asam garamnya. Kalau dalam rumah tangga nggak ada pertengkaran, juga nggak enak. Kenapa? Karena jalannya lurus saja. Mending ada lika-likunya, karena dua orang yang di satukan itu nggak mudah buat menyatukan pemikirannya. Uwak dengan Wak Lanang di besarkan dari dua keluarga berbeda, tentu saja pasti banyak perbedaan pendapat selama kami menikah. Jangankan pendapat, selera makan saja beda. Tapi kembali lagi, kita menikah untuk selamanya. Dia yang kita pilih sejak awal, jadi satukan misi kita dalam pernikahan. Kurangkan egonya, dan satu lagi, sebagai perempuan kita harus mengalah."


"Mengalah? Nanti di injak-injak kita, Wak!"


"Komen saja kamu, Mar! Uwak belum selesai bicara." Kesal Wak Santi.


"Mengalah bukan berarti kalah, kalau kita sejuk di pandang suami, pasti suami jadi klepek-klepek terus, mau marah pun jadi nggak jadi karena ngelihat kita sabar." Sambung Wak Santi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Itu berlaku nggak ya buat aku? Nggak aku kali soalnya itu," gumam Martha.


"Hahaha!"


"Khusus kamu, jadi diri sendiri saja, Mar. Takutnya Bapak si Marcus malah bingung lihat kamu kalem."


Makanan pun selesai mereka buat beserta minumannya. Ya, mulut bicara tapi tangan tetap bekerja. Bertepatan dengan itu jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Wak Santi menyuruh Martha berteriak agar semuanya mendekat.


Seperti biasa, anak-anak lebih dulu datang. Padahal saat gotong royong, entah kemana mereka pergi tetapi begitu ada panggilan makan siang, mereka datang lebih awal. Ibu-ibu pun mengambil makanan untuk anak-anaknya, kemudian giliran ibu-ibu 'lah yang makan.


Satu persatu suami mereka pada pulang, giliran istrilah yang melayani suaminya. Khadijah dan Lisa makan bersebelahan, suami mereka pun pulang bersamaan. Rupanya, motor Yuda berada di kantor karena ban nya bocor, makanya ia numpang di motor Malik.


Saat Lisa menghampiri Yuda, ia masih menyempatkan diri diam-diam untuk tersenyum pada Malik. Senyuman itu pudar saat Khadijah mencium tangan suaminya.


'Kenapa rasanya sakit?' batin Lisa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sambil menunggu kelanjutannya, yuk kepoin punya teman othor🫰

__ADS_1



__ADS_2