
"Mie lidi, ah gitu saja nggak tahu."
"Lucu nian kamu nih, mana aku tahu gomak tuh apa."
"Makanya namanya mie gomak, masaknya di gomak pakai tangan. Jangan kau tanya gomak itu apa, ku lemparkan piring ini nanti."
"Ya sudah habiskan makanannya, jangan lupa di bayar." Tegas Khadijah, "Bercanda! Aku mau siapin sarapan untuk Bang Malik dulu." Sambungnya sambil terkekeh.
Khadijah pergi ke dalam rumahnya mencari Malik saat ini. Rupanya suaminya sedang memakai baju. "Abang mau sarapan apa?"
"Dijah jualan apa? Abang makan itu saja."
"Lontong Medan, Abang suka kah?"
"Abang mau coba," ucapnya.
"Tapi pedas, Bang."
"Nggak apa-apa, tadi pagi bangun jam berapa?"
"Jam dua, karena mau masak."
"Kamu jangan terlalu capek, kalau sakit jangan di terusin lagi jualannya. Kaya Abang nggak bisa kasih duit saja kamu ini loh."
"Nggak pa-pa, Bang. Cari kesibukan!"
__ADS_1
"Bagus kamu sibuk layani Abang."
"Dijah 'kan orangnya ngebosenin, Bang." Setelah mengatakan itu ia pergi keluar.
Malik yang mendapatkan tamparan tanpa fisik tersebut tersebar benar-benar tersindir. Ia bahkan menghentikan aktivitasnya beberapa saat demi memandangi istrinya tersebut.
Seusai bersiap-siap, Malik keluar dari rumah dan langsung menjumpai sang istri yang sedang berjualan. Ia tercengang karena ternyata banyak sekali yang beli dan untungnya ada Martha yang membantunya saat ini.
"Jah!" Panggil Malik.
Mendengar suaminya memanggil, ia meminta Martha menolongnya sebentar karena ia ingin mengurus suaminya terlebih dahulu.
"Ini, Bang."
"Sudah ramai jualannya ya," kata Malik.
"Nggak pa-pa tuh dia bantuin?"
"Dia mau kok."
"Kamu balik saja lagi, nggak usah temani Abang. Kasian nian lihat si Martha tuh."
"Ya sudah, Bang."
"Habis makan Abang langsung pergi ya," kata Malik.
__ADS_1
"Iya, Bang."
Malik menikmati makanannya, ia terlihat jatuh hati dengan masakan Khadijah. Harus di akuin, istrinya tersebut sangat jago memasak. Ia kepikiran untuk membeli mobil sebagai hadiah untuk sang istri, walaupun mereka harus meminjam uang di kantor terlebih dahulu.
'Uhuk!
Matanya melebar saat melihat Lisa ke warung sang istri, wanita yang pernah ia inginkan tersebut saat ini bersama suaminya disana. Ia menggelengkan kepala agar pikirannya kembali jernih. Lisa yang memang sudah tahu ada Malik pun memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya.
[Kau adalah doa yang tidak mungkin Tuhan kabulkan.]
Malik sempat-sempatnya meng-upload status di salah satu media sosialnya. Tak perduli istrinya melihat status tersebut atau tidak, karena ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
Waktu begitu cepat berlalu, sehingga kehidupan semakin membaik di tambah lagi Khadijah dan Malik berhasil membeli sebuah mobil berwarna hitam. Kebahagiaan pun semakin terasa, apalagi melihat Riska sangat senang dengan mobil baru mereka.
Mobil tersebut dapat di beli karena mereka mendapatkan sebuah pinjaman dari kantor dan akan di ganti dengan cara memotong gaji Malik perbulannya. Khadijah semakin gencar berjualan, karena uang bulanan mobil tersebut bukanlah suatu hal yang sedikit walaupun mereka juga memiliki beberapa hektar kebun sawit yang menjadi pelengkap hidup mereka saat ini.
Pagi ini warung warung Khadijah dipenuhi oleh banyak pengunjung laki-laki yang belum sempat sarapan di rumah. Anehnya, Malik malah enggan bekerja, dia menemani sang istri berjualan.
"Kenapa belum berangkat, Bang?"
"Nggak ada yang jagain kamu," singkat Malik sambil memberikan piring-piring yang sudah berisi makanan tersebut kepada pengunjung.
"Buat apa Dijah di jaga?" tanya Khadijah dengan polosnya, wajar saja wanita itu bertanya karena tak pernah-pernahnya sang suami seperti itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Wayooo, buat apa ya? sambil nunggu kelanjutan dari Dijah, author kembali lagi merekomendasikan karya kece dari teman author. cekidot🫰