Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
56. Del, kamu sudah gila?


__ADS_3

Hari-hari bertengkar membuat Malik menjadi muak dengan Adelia. Setiap pulang selalu di sambut dengan drama yang tak sedap. Malik duduk di teras rumahnya, Khadijah sedang menyapu halaman.


"Jah! Sini dulu," titah Malik.


Khadijah menyudahi aktivitasnya, sebenarnya wanita itu tahu jika suaminya sedang ada yang di pikirkan. Namun, dirinya sangat malas bertanya langsung pada suaminya. Rasa sakitnya pada Malik masih terpampang nyata, dia memang sudah memaafkan namun hatinya sudah tidak sehalus dulu lagi.


"Ada apa, Bang?"


"Nggak capek?"


"Lah, kalau bukan Dijah yang nyapu, siapa lagi? Abang?"


Malik tersenyum, "Kamu ini masih saja lucu."


Lucu, katanya. Padahal Dijah tak merasa bersikap lucu pada suaminya. Khadijah hanya membalasnya dengan senyuman saja.


"Jah! Abang bingung," ucap Malik membuat Dijah lebih bingung lagi.


"Abang ada masalah?"

__ADS_1


"Abang bingung lihat Adelia, dulu kami saling menjaga tapi sekarang dia terus aja ngajak Abang berdebat, nuduh Abang yang enggak-enggak. Abang capek, Jah!"


Mendengar ucapan itu, rasanya Khadijah ingin sekali tertawa. Jiwa jahatnya meronta-ronta, ingin sekali ia julid dan mengejek suaminya tetapi tak mungkin ia lakukan sekarang apalagi melihat wajah Malik yang begitu memprihatinkan.


"Abang mau tahu, seseorang menyembunyikan keasliannya saat di awal tetapi begitu dia mendapatkan apa yang ia mau, maka seiring berjalannya waktu sifat aslinya akan terbuka sendiri."


"Kamu tahu, Jah! Abang benar-benar nyesal, Abang taubat, Abang benar-benar nggak akan melakukannya lagi. Abang janji nggak akan membuat kamu sakit lagi setelah ini. Kamu harus di samping Abang sampai kapanpun, Jah!"


"Lucu sekali," ucap Khadijah sambil terkekeh. "Abang mau ninggalin dia, gitu? Bagaimana dengan anak Abang di perutnya? Abang jangan lupa, Abang juga punya anak perempuan. Abang nggak mau 'kan Riska disakiti orang? Maka sebagai orang tua laki-laki, berusahalah untuk tidak menyakiti wanita."


"Abang akan bertahan sampai anak itu lahir, kalau dia nggak mau ngurusnya biar Abang yang urus. Kalau dia mau bawa anaknya biar Abang biayain segala keperluannya. Bagaimana menurut kamu?"


"Karena kalau dia Abang bawa, kamulah yang akan menjadi ibunya. Apa kamu sanggup?"


"Abang yang punya anak, kenapa Dijah yang harus repot? Untuk masalah itu, Abang dan Adelia 'lah yang urus. Dijah nggak ikutan, Bang!"


"Tapi, Jah --"


"Balajarlah bertanggung jawab!" Khadijah kembali menyapu halamannya, sebenarnya tak ada sampah di sana, tetapi banyak sekali daun yang berguguran dari pohon nangka yang berada di depan rumahnya.

__ADS_1


***


Hari kembali sore membuat Malik sangat malas kembali ke rumah Adelia. Namun, ia harus pulang jika tidak ingin Adelia menyusulnya ke kebon.


Malik kembali pulang dengan telat, kali ini dia telat karena ramainya antrian saat mengisi BBM. Begitu sampai di rumah, tiba-tiba ...


'Prang!


Adelia memecahkan banyak barang pecah belah, baik itu gelas maupun piring. Malik benar-benar terkejut, "Astaga, Del. Ada apa?"


"Abang selingkuh lagi 'kan? Ngaku!"


"Selingkuh apa? Abang tadi ngantri minyak, panjang nian antriannya, Del."


"Bohong!" Adelia mengambil salah satu bekas pecahan kaca tersebut, kemudian ia taruh tepat di tangannya seakan ingin mengancam untuk bunuh diri.


Malik benar-benar kaget, ia bingung saat ini. Kalau cuma Adelia mati, ia tak mengapa! Namun saat ini wanita itu sedang mengandung anaknya.


"Del! Kamu sudah gila?"

__ADS_1


__ADS_2