
Sudah tiga hari lamanya Riska masih mogok sekolah, ia malu pada teman-temannya yang sudah memakai seragam sekolah, sementara dirinya hanya memakai merah putih saja.
"Assalamualaikum," ucap seorang laki-laki paruh baya, beliau merupakan kakak tertua dari ibunya Khadijah dan ayahnya Malik, mereka memanggilnya sebagai Pak Tua Kodir.
Khadijah yang kebetulan berada di ruang tv pun langsung keluar dan menyambut kedatangan Paktua Kodir tersebut. "Waalaikumsalam," sahut Khadijah sembari mencium tangan laki-laki tersebut.
"Apa kabar, Dijah?"
"Alhamdulillah, Paktua. Maktua dimana? Nggak ikut?"
"Mamak mu satu itu sibuk nian, jahitannya belum kelar juga. Dimana Markonah?"
"Lagi di dapur, Bentar biar Dijah panggil."
Khadijah masuk ke dalam untuk memanggil ibunya, begitu ia keluar wanita itu dikejutkan oleh kedatangan sang mertua. "Loh, ada Emak sama Abah juga. Bentar biar Dijah buatkan minuman," kata Khadijah.
Seperti biasa, di saat seperti ini Riska di ajak keluar oleh Abdullah, walaupun menjadi camat tetapi di rumah ia tetap sebagai anak bontot.
Para orang tua sudah berkumpul, Khadijah semakin deg-degan di posisi seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah, langsung saja ya!" Kata Paktua Kodir.
Semua adik-adiknya menundukkan kepala, begitu juga dengan Khadijah. Paktua Kodir menghela napasnya, , "Jadi begini ... sebagai yang tertua di keluarga kita, Abang merasa malu kalau melihat keponakan Abang rumah tangganya di ujung tanduk seperti ini. Abang pengen keluarga kita akur saja, tanpa adanya drama perceraian. Sekarang begini ... Dijah, kamu masih sayang nggak dengan suami kamu?"
Khadijah mengangguk kepalanya, "Jujur saja, Pak Tua! Dijah sayang dengan Bang Malik, tapi istri mana yang mau di madu? Hati Dijah bukan seluas samudera walaupun jaminannya surga."
"Kalau dia tinggalkan wanita itu apa kamu mau?"
"Dijah masih mau, Pak tua. Walau gimanapun Bang Malik itu ayahnya Riska, Dijah nggak mau Riska tumbuh menjadi anak yang pembangkang karena retaknya keluarga."
"Kalau begitu besok ikut Paktua kesana, masalah ini harus di selesaikan, Nak."
"Emak setuju!"
Khadijah terdiam, apalagi yang bisa di lakukan nya selain diam di tempat. Melawan pun percuma, pikirnya.
Kedatangan Pak Tua Kodir membuatnya lupa jika dirinya ada janji dengan Dina, teman lamanya. Memang benar, jika tiga hari lalu dia dan Dina sudah ada janji untuk pergi, namun Dina memberinya kabar jika dirinya hanya bisa menemani tiga hari lagi.
Dina menunggu kepulangan Pak Tua Kodir, setelah laki-laki itu pergi Khadijah langsung meminta maaf pada Dina.
__ADS_1
"Yuk!" Kata Dina yang sudah mulai jenuh menunggu sahabatnya tersebut.
"Sebentar, Din!" Khadijah menghela napasnya dengan dalam.
"Kamu masih kurang yakin ya untuk lupain Bang Malik?
Khadijah menganggukkan kepala, "Kayanya nggak usah jadi, Din. Besok Paktua Kodir ngajak balik, malas nian aku ngambilnya."
"Nggak boleh begitu ... Tapi sebaiknya kamu rujuk aja dengan Bang Malik, Jah."
"Kalau nggak ada wanita itu aku mau!"
"Heleuh, kalau gitu aku balik dulu ... Sudah lama nggak tidur siang!"
***
Sementara kini Malik lebih banyak merenung nasibnya. Adelia, wanita yang di anggapnya sempurna ternyata tidak sesempurna itu. Ia terus menuntut Malik untuk menjadi apa yang ia mau.
"Bang," ucap Adelia menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Iya, Jah!" sahut Malik, setelah satu detik ia sadar dengan ucapannya. "Maaf, Del. Abang lagi nggak fokus, banyak sekali tugas di kantor," dustanya.
"Abang teringat Kak Dijah ya?"