Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
51. Keputusan Dijah


__ADS_3

"Kok babu? Ya Allah, Dijah! Demi Allah, Abang khilaf. Abang menyesal, Dijah. Andai saja tidak ada benih disana, Abang sudah tinggalkan dia, Dijah!"


"Jadi maksud Abang, Abang mau pakai kami dua gitu? Abang sudah mampu biayain dua bini? Selama ini saja untuk keperluan rumah tangga kita masih kurang, Bang. Apalagi kalau Abang bagikan dua. Nggak akan cukup untuk biayain semuanya. Belum lagi gaji Abang sekarang lebih kecil dibandingkan yang dulu. Abang sanggup kah?"


Pertanyaan Khadijah seperti tamparan bagi Malik, laki-laki itu terduduk lemas memikirkan ucapan dari istrinya. Apa yang di katakan Khadijah memang benar adanya, pekerjaan nya yang sekarang hanya menghasilkan gaji yang pas-pasan. Bahkan jika di bagi untuk kedua istrinya, itu tidak akan cukup untuk membayar kredit rumah dan mobil.


Meskipun ia punya ladang dan tanah, itu sudah milik Khadijah dan Riska. Apalagi selama ini ia tidak mau tahu menahu soal mengelola ladangnya, Khadijah 'lah yang bersusah payah agar sawit mereka bisa di panen, bahkan di jual kepada juragannya.


Malik mendekati Khadijah bahkan bersimpuh di kakinya, "Abang mohon, jangan pergi! Tetaplah disini. Abang nggak tahu gimana kehidupan Abang setelah kalian pergi."


Khadijah hanya diam tak menjawab, inilah kekurangan Khadijah. Ia tak mampu melihat suaminya bersimpuh seperti itu. Khadijah tipe orang yang tidak tega-an, bahkan dirinya saja tidak pernah memarahi anak-anaknya jika mereka bersalah.


"Dek ... Abang mohon!"


Khadijah masih tidak menjawab, setelah beberapa menit ia pun menghela napasnya dengan dalam. "Beri Dijah waktu, Bang. Jika selama satu bulan ini Abang tidak berlaku adil, Dijah akan gugat Abang ke pengadilan."

__ADS_1


"Makasih, Jah."


Malik ingin memeluknya, tetapi Khadijah menepis tangan laki-laki tersebut. "Jangan sentuh Dijah! Dijah nggak Sudi menerima barang bekas. Dijah masih mau tinggal di sini itu semata-mata karena Riska! Riska butuh kita, jadi bersikap baiklah padanya, jangan sia-siakan kesempatan yang Dijah kasih. Sekali saja Abang buat Riska marah karena perlakuan Abang, awas Abang!"


Inilah keputusan Khadijah, sangat tidak masuk akal untuk khalayak semua orang tetapi ia lakukan demi anaknya, Riska.


Mungkin akan banyak yang membencinya, tetapi ia yakin keputusan tersebut yang terbaik untuk putrinya.


Khadijah merapikan rumahnya, rumah yang mirip sekali seperti gudang tersebut. Baju kotor yang berantakan bertumpuk di dalam ember membuatnya menggelengkan kepala.


***


Malam telah tiba, mereka kembali berkumpul di rumah Bang Imran, Paktua Kodir yang memanggilnya. "Jadi apa keputusan kalian?"


"Lihat sebulan lagi, Paktua."

__ADS_1


Paktua Kodir hanya bisa menghela napasnya, tugasnya sebagai orang tua sudah usai kini tinggal keponakannya yang menentukan. Karena keputusan di tangan mereka yang menjalaninya.


Paktua Kodir melirik Malik, "Malik! Kamu ini tega nian, apa ada kamu peluk anakmu dari tadi? Apa kamu nggak rindu dengannya?"


"Rindu, Pak tua."


"Terus?"


Malik terdiam, sebenarnya ia ingin sekali memeluk Riska tetapi ia merasa tidak pantas mendapatkan pelukan sang putri setelah apa yang ia lakukan pada anaknya.


"Perbaiki hubunganmu dengan keluargamu, sebelum mereka benar-benar meninggalkanmu!" titah Paktua Kodir.


Malik hanya bisa menundukkan kepala, bertepatan dengan itu ponselnya berdering. Keringatnya bercucuran disana.


"Ada apa? Siapa yang nelpon?" tanya Paktua Kodir.

__ADS_1


__ADS_2