
Khadijah menghela napasnya, "Dijah mau bangun rumah di dusun sana, sayang tanah kita nggak di pakai. ATM ini nak Abang kasih ke Adelia ya kasihlah. Kagek (nanti) uang makan kami biar dari uang sawit saja dak pa-pa."
"Kamu yakin kita ambil pinjaman lagi dari kantor, Jah?"
Khadijah menganggukkan kepalanya, "Dijah udah nggak mau lagi tinggal di kota, rumah kita yang di kota tuh terserah Abanglah. Nak Abang jual, jual 'lah! Nak Abang teruskan kreditnya, teruskan 'lah!"
"Kenapa nggak kita teruskan saja, Jah?"
"Dijah alergi tinggal dengan bekas wanita lain yang bercumbu dengan Abang. Abang kira Dijah nggak tahu kalau Abang sering bawa Adelia ke rumah kita?Itu sebabnya Abang mau beli perlengkapan di rumah itu 'kan?"
Malik terdiam sedangkan Khadijah langsung tersenyum sinis, "Untuk mobil, Dijah nggak mau bayar mobilnya. Di tarik sorum pun dak pa-pa."
"Kok gitu?"
"Kenapa, Jah? Sayang nian di hentikan, apalagi sudah berjalan satu setengah tahun."
"Dijah alergi, Bang." Khadijah meninggalkan suaminya yang sedang terdiam. Kali ini Khadijah sudah tidak bisa di ajak berunding lagi karena hatinya sudah benar-benar patah berkeping-keping.
***
__ADS_1
Malam ini untuk kesekian kalinya Malik pulang dengan terlambat. Laki-laki itu sudah malas pulang ke rumah Adelia, jika saja tidak ada janin di kandungannya mungkin ia sudah meninggalkan Adelia sejak kemarin.
"Kali ini alasannya apa, Bang?" begitulah sambutan dari Adelia saat melihat suaminya baru sampai di rumah, bukannya menyambutnya dengan senyuman dan sukacita layaknya di film-film yang ada.
"Del, Abang capek."
"Abang balikan ya dengan Kak Dijah?"
Balikan, katanya. Seakan-akan Khadijah 'lah yang menjadi orang ketiga, menjadi penyebab runtuhnya rumah tangga dan juga menjadi dalang setiap adanya pertengkaran.
"Kamu ini ngomong apa?"
"Untuk apa?"
"Jadi Adel nggak boleh minjam nih?"
Rumah yang mereka tempati sangat dekat dengan warga, bahkan saking dekatnya dinding saja menempel. Hal itu membuat para tetangga menjadi heboh, ada yang keluar untuk menonton, ada yang menonton di dalam saja sambil bersembunyi namun tidak ada yang mau memisahkannya.
Malik sudah terlihat sangat malu sekarang, ia berikan saja ponselnya pada Adelia. Adelia langsung mengotak-atik ponsel Malik saat ini.
__ADS_1
Tiba-tiba mata Adelia membulat dengan sempurna, "Ini apa, Bang?"
Sepertinya Malik sudah ketiban sial hari ini. Beberapa puluh menit yang lalu, Malik mengirim pesan pada Khadijah, [Abang baru selesai tempel ban, hati-hati ya di rumah ...]
Ya! Belakangan ini Malik lebih sering menanyakan kabar Khadijah, ia selalu mengirimkan pesan pada istrinya jika tidak berada di rumah, termasuk saat kerja. Hal itu terbukti saat Adelia memeriksa ponselnya saat ini.
Prang!
Adelia membanting ponselnya, "Abang jahat!" Teriaknya sambil masuk kedalam rumah.
Salah seorang warga mendekati Malik, "Sabar, Lik! mood bumil memang begitu."
Malik tersenyum, "Dosa nggak sih kalau ninggalin orang hamil?"
"Pertanyaan mu itu loh, sudahlah aku masuk dulu kerumahku."
Sementara Khadijah tak luput mengadahkan tangannya ke atas, berdoa pada sang pencipta untuk meminta petunjuk atas rumah tangga yang tak bisa di selamatkan ini.
Namun, Khadijah masih yakin jika dirinya masih ada harapan untuk rumah tangga mereka walaupun satu banding sembilan.
__ADS_1
Khadijah menangis tersedu-sedu, "Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim ... Aku mohon, berilah petunjuk untuk rumah tanggaku. Jika masih ada aku di hatinya, aku harap agar Bang Malik masih memikirkan aku. Jika tidak, maka tunjukkan kekuasaan mu agar aku bisa melupakan suamiku dan membiarkan rumah tangga ini benar-benar hancur Ya Allah. Karena hanya kepadamu hamba memohon dan meminta pertolongan. Aamiin."