Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
44. Kedatangan Mertua


__ADS_3

*Aku yang enggan bertanya


dan kau yang enggan menjelaskan


banyak yang bilang betapa bodohnya diri ini


masih berharap dengan yang tidak pasti


masih ku terbayang dengan manisnya kata-kata


ternyata itu semua hanya menutupi semua dosa


masih ku ingat betapa pandainya kau merayu


di balik dosa yang kau tutupi dengan madu*


Khadijah melipat kertas yang baru saja ia tulis kemudian di taruhnya di danau buatan yang berada di dekat rumah orang tuanya. Seminggu sudah berlalu, namun bayangan Malik masih membekas di sana.


Kenangan indah membuatnya menjadi rindu, kenangan buruk membuatnya menjadi rapuh. Khadijah menghapus air mata yang terus menetes saat ini sambil menikmati kapal-kapal buatannya dari kertas yang berisi segala hatinya di sana.

__ADS_1


Orang tua Khadijah dan Malik sudah mengetahui masalah mereka. Pak Rojali dan Bu Markonah rasanya ingin sekali menghajar Malik, namun kembali lagi ia mengingat laki-laki tersebut adalah keponakannya sendiri. Rasa sesal di hati Bu Markonah bertubi-tubi karena menikahkan anaknya dengan anak kakaknya -- Pak Anto.


Khadijah menghapus air matanya, ia membasuh wajahnya dengan air danau tersebut kemudian ia taburkan kembali bedak di wajahnya.


"Aku harus kuat," gumam Khadijah.


Setelah merasa enakan Khadijah pun kembali pulang. Di depan tetangga ia mampu menyembunyikan perasaannya. Canda tawa yang ia lontarkan mampu membuat mereka percaya jika Khadijah hanya ingin liburan saat ini.


Begitu masuk ke dalam rumah, semuanya pada ngumpul. Pak Anto dan Bu Maimunah yang merupakan orang tuanya Malik juga berada di sana.


"Assalamualaikum," sapa Khadijah sambil mencium tangan semuanya.


"Ada Emak sama Abah rupanya," kata Khadijah sambil tersenyum pada paman dan bibinya.


"Dullah! Tolong kamu bawa Riska jajan di warung sana, atau ajak main di taman sebentar!" titah Pak Rojali.


Khadijah mulai curiga karena melihat putrinya malah di suruh pergi saat ini. Jujur saja, situasi ini membuat Khadijah merasa bersalah. Ingin jujur takut salah, bohong pun apalagi.


"Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Pak Anto.

__ADS_1


"Baik, Abah. Suasana di sini masih sama ya! Dijah rindu mandi di sungai," kilah Khadijah.


Bu Maimunah tak dapat membendung lagi perasaannya, ia langsung memeluk menantunya tersebut. "Maafkan Malik, Nak. Jujur, Emak juga nggak setuju dengan keputusannya. Tapi kamu harus berjuang, Dijah. Itu suami kamu! Jangan biarkan wanita itu merebut semuanya."


"Maaf, Kak ... Tapi menurut Konah buat apa di pertahankan lagi? Ini bukan kali pertamanya Malik seperti itu, apalagi dia sampai berbuat zinah dan perempuan itu sampai hamil di buatnya."


"Dek ---" Pak Anto ingin menimpali namun Bu Markonah memotongnya.


"Maaf, Bang. Abang memang Kakaknya Konah tapi


Dijah anaknya Konah. Ibu mana yang tidak sakit hati?"


Khadijah langsung mengelus punggung orang tuanya, "Sudah! Jangan bertengkar, Dijah nggak apa-apa. Dijah cuma ingin menata hati, Bah ... Mak ... cuma itu aja!"


"Apa kamu masih mencintai suami kamu?"


"Sebenarnya Dijah hanya ingin memikirkan nasib Riska, tapi untuk sekarang Dijah ingin menyembuhkan hati." Khadijah menjeda ucapannya, ia pun menarik napasnya dalam-dalam, "Lagian ini juga sudah keputusan Bang Malik, dia memilih untuk menikah lagi dan maaf Dijah nggak mau di madu. Dijah mau kembali asalkan dia meninggalkan perempuan itu, tapi itu nggak mungkin, Mak. Karena janin itu juga membutuhkan ayahnya."


"Jadi apa rencana kamu?" Pak Anto bertanya dengan tegas dan pasrah.

__ADS_1


"Dijah mau Riska sekolah di sini, Dijah mau hidup di sini saja bareng emak dan abah."


__ADS_2