
Matahari telah terbit memasuki sudut jendela kamar hotel milik Malik dan Adelia. Malik membuka matanya kemudian melihat jam yang ada di ponselnya.
Matanya membulat sempurna saat melihat banyaknya panggilan dari Khadijah, bukan hanya itu saja tetapi juga ada beberapa pesan dari istrinya tersebut.
[Abang sebenarnya dimana? Dijah khawatir, Bang.] Itulah pesan terakhir yang di kirim sang istri.
Malik melihat ke samping, tampak Adelia sedang tidur dengan pulas. Ia mengelus kepala wanita tersebut, "Selain cantik, kamu sangat baik."
Malik mengecup singkat pipi Adelia membuat wanita itu membuka matanya, "Morning!" ucapnya dengan senyum mengembang.
"Morning, Sayang. Maaf karena Abang sudah membangunkan kamu."
"Nggak apa-apa, Adel kelamaan bangun ya, Bang?" Adelia duduk di samping Malik, lalu ia teringat sesuatu, wanita itupun menepuk jidatnya saat ini. "Maaf, Bang! Tadi malam Adel ketiduran, jadi nggak sempat bangunin Abang untuk makan. Nasinya sudah dingin dong, sudah nggak bagus itu. Kita sarapan diluar saja ya," sambung Adelia merasa bersalah.
"Soal tadi malam nggak pa-pa kok, Abang sudah dapat asupan gizi lainnya," goda Malik.
Lalu begitu mendapatkan telepon dari Khadijah, wajah Malik berubah menjadi panik kembali. "Abang harus balik, Del. Kasihan Dijah di rumah kakaknya Abang, lagian Abang juga nggak enak sama beliau. Nggak apa-apa 'kan?"
"Jadi Abang mau pulang sekarang?"
__ADS_1
"Iya, bareng kamu! Abang antarin pulang dulu dong bidadari Abang," goda Malik lagi.
"Kalau gitu kita mandi bareng yuk," bujuk Adelia.
"Siapa takut!" Malik langsung menggendongnya dan membawa Adelia ke kamar mandi. Untuk satu malam ini saja entah berapa kali mereka melakukan itu.
Keduanya sudah selesai mandi dan memakai pakaian lamanya, pakaian yang baru di beli Adelia di simpan oleh wanita tersebut agar di cuci dan suatu saat bisa di pakai kembali oleh laki-laki tersebut. Wajar saja Malik menyuruh Adelia yang menyimpannya, karena baju keduanya sama persis dan Malik tidak ingin di ketahui oleh Khadijah.
***
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, mobil sudah terparkir di halaman rumah Hanum. Khadijah dengan senang hati menyambut suaminya. Khadijah mencium tangan Malik, "Abang baik-baik saja 'kan?"
"Iya! Maaf ya, sudah buat kamu khawatir."
Entah mengapa rasanya Khadijah ingin sekali mencium baju Malik, "Abang beli parfum baru?"
Deg!
Malik terlihat gelagapan, "Memangnya ke--kenapa?"
__ADS_1
"Parfum nya beda, tapi ini kayanya parfum cewek deh, bos Abang cewek?"
Malik diam sejenak, ia lupa jika dirinya sudah memeluk Adelia dengan bajunya tersebut. Tiba-tiba muncul idenya untuk menarik hidung istrinya, "Kamu ini! Suami pulang itu di siapkan minumnya, bukan di suguhi dengan pertanyaan, Dek ...," kilah Malik.
Khadijah hanya bisa cengar-cengir saja, "Dijah lupa, Bang. Abang mau Teh hangat atau dingin?"
"Dingin aja, gerah banget kayanya. Abang mandi dulu ya," ucap Malik.
Malik masuk ke dalam rumah, di lihatnya sang putri sedang bermain dengan sepupunya. Riska saat ini sedang bermain acting dengan sepupunya.
Mereka menamakan nya dengan 'Main mamak-mamakan' , karena permainan tersebut seperti keseharian dari sebuah keluarga kecil. Yura sebagai ibu, sedangkan sepupunya sebagai ayah karena dirinya seorang laki-laki.
"Sayang, maaf ya, Mas telat!" kata Rico, anak dari Hanum sambil menggerakkan bonekanya.
"Jujur, aku kecewa! Semalaman aku nunggu Mas pulang," jawab Riska.
Malik merasa tertampar karena anak-anak sekecil itu malah bermain yang tidak pantas menurutnya. Mereka terlalu mempraktekkan adegan dewasa. Lebih sialnya, permainan itu seperti sedang mengejeknya yang baru saja pulang.
"Astaga, kenapa anakku jadi seperti ini?" Gumam Malik.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...