Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
36. Turun Jabatan


__ADS_3

Khadijah sempat melirik nama yang tertera, ternyata berinisial A namun ia tidak tahu siapa A tersebut. Malik langsung mematikan ponselnya di saat yang bersamaan.


"Kenapa di matikan?" tanya Khadijah.


"Nggak penting soalnya, Jah. Oh iya, Abang mau lagi tempoyak nya dong. Nasi nya juga tambah ya lapar nian Abang!"


Khadijah menganggukkan kepala, di saat Khadijah pergi, Malik membuka ponselnya dan masih sempat mengirim pesan pada Adelia. [Sayang, Abang lagi di rumah. Nanti ya!]


Khadijah kembali dengan membawa nasi beserta lauk yang di minta oleh Malik. Laki-laki tersebut memakannya dengan lahap.


"Assalamualaikum," ucap anak kecil di ambang pintu.


"Waalaikumsalam," sahut keduanya.


Khadijah mendekati anak tersebut, "Sudah pulang, Sayang? Makan yuk bareng ayah!"


"Riska ganti baju dulu ya, Mak," sahutnya sambil mengangguk.


"Iya, biar Mamak ambilkan nasi nya ya."


Saat Khadijah pergi, Malik dan Riska pun bercanda ria. Riska menceritakan keseruannya selama di sekolah. Riska juga menceritakan bagaimana guru mengajar di sana.


"Wah, pada bahas apa sih? Seru banget kayanya!" Khadijah datang membawa nasi milik Riska.


"Mak oh, Mak! Tau nggak? Kata ayah, rumah kita yang di kota mau di belikan kasur biar kita bisa tinggal di sana kalau ke kota. Jadi nggak numpang tempat Wak Hanum lagi, terus juga beli kursi dan kipas angin."


Khadijah mengerutkan alisnya, "Abang nggak bilang gitu sama Dijah," kata Khadijah.


"Maaf, Jah! Soalnya ini sebenarnya Surprise tapi Riska malah bilang ke kamu," kata Malik.

__ADS_1


Khadijah diam tak bergeming, bukan berarti dia tidak setuju tetapi gaji suaminya belakangan ini lumayan rendah. Sementara pengeluaran banyak, belum lagi cicilan rumah dan mobil tersebut.


Malik kembali bekerja, ia sengaja pergi lebih awal karena ingin menelpon sang kekasih. Begitulah rutinitas Malik belakangan ini, tak banyak waktunya di rumah. Jika sinyal hilang, dia selalu mencari alasan agar bisa keluar untuk menghubungi Adelia.


[Abang, gimana? Kak Dijah sudah ngasih restu?]


Segampang itu wanita tersebut bertanya tanpa memperdulikan keadaan. Jika di pikir, istri mana yang rela suaminya menikah lagi?


[Abang! Kok diam saja?]


Wanita itu sudah mulai menampakkan keasliannya, menjadi lebih cerewet dan mau menang sendiri. Malik menggaruk kepalanya, karena tak mungkin dia katakan pada sang istri tentang niat menikah lagi.


[Dijah! Eh maksud Abang, Adel Sayang ... Abang bukannya nggak mau bilang ke Dijah, tapi kita mainnya pelan saja ya? Abang rencananya mau beli kasur, kipas dan kursi untuk rumah yang di sana. Rumah itu bisa buat kita singgah setiap jumpa. Kalau mau nikah, nanti diam-diam saja, jangan tahu Dijah. Gimana?]


[Tapi Adel pengennya bareng Abang terus,] Wanita itu terus merengek tak karuan.


[Ya sudah, nanti kita bahas lagi!]


"Maaf, Pak. Ada apa ya?"


"Ada surat untuk kamu," kata sang atasan.


Malik menerima surat tersebut yang berstempel PT. Angin Ribut. Jantungnya menjadi tak karuan karena tak biasanya mendapatkan surat cinta seperti itu.


Begitu ia buka, Malik terduduk lemas di balik pohon. "Ya ampun, kenapa aku di pindahkan?"


Ya, ternyata Malik di pindahkan ke bagian lapangan, dimana jabatannya menjadi turun akibat sering libur dan kerja menjadi berantakan. Karena tanpa sepengetahuan Khadijah, ia diam-diam bolos kerja hanya untuk menemui sang kekasih hati.


"Ini gimana ceritanya?"

__ADS_1


***


Malam telah tiba, rasanya kepala Malik ingin sekali pecah. Banyak sekali masalah yang mengganggu pikirannya, termasuk cara memberitahu istrinya jika dia di turunkan dari jabatan.


"Ini Bang, minumnya!" Khadijah meletakkan segelas kopi panas dengan berbagai cemilan juga.


"Jah! Mau kemana?"


"Masuk! Biasanya Abang nggak mau Dijah temani," jawab Khadijah.


"Sini aja, kawani Abang. Riska dimana?"


"Lagi nonton."


Malik mengeluarkan kertas tersebut dan di taruhnya di depan Khadijah. Namun itu bukan surat yang asli, Malik mengetik ulang surat tersebut dengan alasan yang berbeda.


"Apa ini, Bang?"


"Baca aja! Tapi kamu jangan kaget ya," kata Malik.


Khadijah menganggukkan kepala, ia membuka kertas tersebut dan ia sangat terkejut saat ini. "A--apa? Abang di turunkan karena ada rotasi karyawan?"


"Iya, maaf ya, Jah!"


"Apa cuma Abang?"


"Banyak juga yang lainnya."


"Tapi kenapa ibu-ibu di sini nggak ada yang heboh tadi?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2