Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
60. Telpon, enggak ...


__ADS_3

"Nggak mungkin ..." Malik terlihat tidak percaya, jika percaya pun ia takkan menerima. "Itu nggak mungkin, Jah!" Lanjutnya.


Mendengar perkataan Malik, Khadijah tertawa. Baginya ucapan Malik sangat lucu saat ini. "Abang lagi melawak? Itu pasti anak Abang. Dosa zalim sama anak sendiri, Bang!"


"Tapi, Jah ---"


"Lagian urusan Abang dan wanita itu belum selesai, 'kan?"


"Semuanya sudah berakhir, Jah! Apalagi kami nikah sirih."


"Astaghfirullah, Bang ..."


"Menurut Dijah, Abang harus gimana? Apa Abang harus tanggung jawab?"


"Wajib!"


"Abang bawa dia kesini ya? Dijah nggak keberatan 'kan kalau dia kita rawat sama-sama."


"Gampang nian Abang ngomong ... kalau Abang mau rawat ya silahkan, tapi jangan di sini. Kalau memang Abang mau mereka di sini, ya sudah! Biar kami yang pergi."


"Dijah ... Kenapa kamu seperti ini sekarang?"

__ADS_1


"Ngelunjak ya, Bang?"


"Bukan ngelunjak, tapi ---"


"Tapi apa?" Tantang Khadijah, namun ia teringat dengan nasehat-nasehat yang pernah di katakan dokter Freya padanya. Ia pun menyadari ucapannya salah dan juga berlebihan. Khadijah terduduk dengan lemas, "Astaghfirullah ... Maaf, Bang ..." setelah mengatakan itu, ia meninggalkan suaminya.


***


Dua hari sudah berlalu, ucapan Khadijah selalu terngiang di telinganya. Bayangan anak laki-laki yang di sandingkan fotonya bersamanya juga selalu menghantui hidupnya.


"Telpon ... enggak ... telpon ... enggak ... telpon nggak ya ..." Malik mondar-mandir saking kebingungan nya.


Malik terkejut sambil memutar kepalanya, tak lama kemudian ia menghembuskan napasnya dengan pelan. "Kamu rupanya, Yud. Tak kirain siapa," sahut Malik.


Yuda --- suaminya Lisa. Lelaki itu menghampiri Malik di warung nasi, karena melihat Malik hanya mondar-mandir tak karuan sejak tadi. "Sorry, bos ... Ku lihat dari tadi mondar-mandir aja, ada masalah apa? Banyak nian beban hidup nih kayanya."


Malik menggaruk tengkuknya, hubungannya dengan Yuda juga baik, sampai sekarang tidak ada yang mengetahui jika Malik pernah menyukai istrinya. Malik melihat kanan dan kiri, merasa aman ia langsung mengajak Yuda duduk di pojokan.


"Kenapa, Bang? Serius nian kayanya masalahnya ..."


Malik mengangguk, "Pusing nian aku, Yud. rupanya anaknya si Adel sudah lahir, kata Khadijah sangat mirip denganku. Aku bingung sekarang!"

__ADS_1


"Kenapa harus bingung? Pilihan semua ada di tanganmu, Bang. Tapi menurut aku, Abang harus tanya kabar anak Abang, walau gimana pun dia itu darah daging Abang."


"Tapi masalahnya aku juga bingung, Yud. Aku bimbang itu memang anak aku, atau anak ramai-ramai."


Yuda tidak terkejut mendengar itu, karena hampir semua orang di perkebunan itu mengetahui bagaimana Adelia. Hanya saja sebagian dari mereka pura-pura menutup mata dan telinga di hadapan Malik. Sebagian lagi sudah memberi tahu Malik, bahkan ibarat kata mulut mereka pun sampai berbuih mengatakannya, tetapi tak masuk di telinganya.


"Kok diam? Atau jangan-jangan kamu juga tahu sesuatu tentang Adelia?" Lanjut Malik.


Yuda mengangguk, "Hampir semua orang tahu, Bang. Kami pun sudah ngasih tahu Abang, tapi kayanya cinta Adelia sudah membuat Abang buta."


"Huh, entahlah ..." Malik terlihat frustasi, tampak sekali dari cara dia duduk saat ini.


***


Satu Minggu kemudian ...


Suara riuh terdengar jelas di komplek tersebut, bahkan beberapa ibu-ibu di sana ingin menyerangnya. Dia yang tiba-tiba datang membawa masalah, tanpa merasa bersalah, dan dengan kepercayaannya yang tinggi. Siapa lagi kalau bukan Adelia bersama putranya.


Wanita itu benar-benar tak punya rasa malu dan tak ada rasa takutnya. Padahal di komplek sana rata-rata saudara Malik dan Dijah semua.


"Ini serius si j*Lang datang?" tanya Lisa pada Wak Santi.

__ADS_1


__ADS_2