Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
23. Pertanyaan Wak Lisa


__ADS_3

Balon yang jatuh tersebut menggagalkan Yuda dan Lisa, Yuda mengelus punggung istrinya, "Nggak pa-pa, namanya permainan. Pasti ada kalah, ada menang."


"Iya, Mas. Maafin Lisa ya," Lisa merasa bersalah karena responnya yang refleks akibat badannya bersentuhan dengan Malik.


"Iya, nggak apa-apa, Sayang."


Permainan pun kembali di lanjutkan, bapak-bapak memainkan panjat pinang. Kebetulan Yuda dan Malik berada dalam satu kelompok.


'Kenapa harus satu kelompok sih,' batin Lisa.


Dor!


Tiba-tiba Lisa di kejutkan dengan kehadiran sahabatnya yaitu Khadijah. "Yaampun, Dijah. Ngagetin saja kamu!"


"Maaf, habisnya kamu serius nian. Lihatin apa sih?" Khadijah mengikuti arah mata sahabatnya, "Ah, iya ... Lihatin ayahnya Baim ya?" Goda Khadijah.


Lisa tersenyum, ingatannya kembali saat ia menyakiti Khadijah, sahabatnya sendiri. "Wes! Kok melamun?" Ucap Khadijah lagi


"Mataharinya terik banget ya, Jah?"


"Kenapa? Kamu kepanasan?"


"Iya, beli es teh yuk biar adem."


"Kamu itu," Khadijah terkekeh melihat sahabatnya.


"Tiada hari tanpa es, Jah. Hidupku hampa langsung!"


"Kalau tanpa mas mu, hampa nggak?"

__ADS_1


"A--apa sih," ucap Lisa gelagapan. 'Bahkan aku pernah merasa hampa tanpa suamimu, Jah. Maaf!' batin Lisa.


Mereka pun menyemangati suaminya yang beberapa kali sempat terjatuh karena licinnya pohon pinang yang sudah di campur segala macam olahan. Sesekali mereka tertawa karena lucunya para suami mereka.


"Lis, menurutmu Bang Malik gimana?"


"Gimana apanya?"


"Aku heran, kok banyak ya yang suka sama Bang Malik, padahal dia nggak kaya, nggak ganteng, pokoknya nggak nian 'lah."


"Sekarang aku tanya sama kamu, kok kamu suka sama suami kamu?"


"Aku mulai suka sama Bang Malik pas anak kami lahir, Almarhum Hafiz. Dulu aku benci nian sama Bang Malik, kok ada manusia kaya dia ya."


"Hust! Kamu ini malah ngumpat suami sendiri."


"Mas Yuda pernah menduakan kamu ndak?"


"Kamu harus bersyukur, Lis. Mata suami kamu nggak keranjang, beda nian sama Bang Malik."


"Kalau sekarang, apa suami kamu nyakitin kamu, Jah?" Lisa sengaja bertanya, sekalian ingin mengorek informasi pada Khadijah.


Khadijah menaikkan bahunya, "Huh! Entahlah. Katanya dia habis patah hati, tapi nggak cerita sebabnya apa."


"Serius?" Lisa tercengang, "Memangnya biasanya dia cerita?"


"Kami itu nikah kaya bersahabat saja, Lis. Dia sering nian cerita tentang perselingkuhannya. Kamu bayangin saja, aku istrinya tapi dia kaya gitu."


"Terus kamu diam saja?"

__ADS_1


"Aku cinta nian sama dia, Lis. Apalagi anak kami tinggal satu, aku nggak mau nyakitin anakku Hany karena keegoisan kami sebagai orang tua."


"Hati kamu terbuat dari apa sih, Jah?"


Khadijah terkekeh, "Dari karet, jadi membal gitu. Tapi serius, aku penasaran dia patah hati dengan siapa."


"Jangan cari tahu biar hati kamu nggak tambah sakit, Jah."


"Dari pada aku di diamkan seakan akulah penyebabnya. Aku nggak bisa di cuekin, Lis. Serius 'lah!"


Lisa terdiam, ia merasa iba dan juga rasa bersalahnya semakin besar. 'Maafkan aku, Jah. Aku janji nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi,' batin Lisa.


Lisa menoleh ke samping, terlihat warung Wak Santi sangat ramai. Akhirnya ia pamit pada Khadijah, ia ingin membantu Wak Santi saat ini. Khadijah ingin sekali ikut tetapi tiba-tiba putrinya memintanya untuk menemani di tengah lapangan menonton sang ayah yang sedang berjuang.


Dengan sedikit takut, Lisa mengucapkan salam terlebih dahulu. Wak Santi menoleh, ia tidak punya banyak waktu untuk bercerita. "Wak, Lisa bantuin ya!"


"Iya!" Kata Wak Santi, karena beliau juga sudah kewalahan akibat pembelinya sangat ramai.


Setelah sepi dan bahkan kini tak ada yang datang, Lisa duduk di samping Wak Santi. "Wak, soal kemarin Lisa minta maaf ya."


"Nggak apa-apa, sudah seharusnya Wak menasehati dan kalaupun kamu sakit hati dengan ucapan Uwak itu terserah kamu. Wak begini juga karena sayang sama kamu, Lisa. Sudah Uwak anggap kamu sebagai anak Uwak."


"Iya, Wak. Maaf ya!"


"Gimana keputusan kamu? Lanjut?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sambil menunggu kelanjutannya, kepoin punya teman Othor yuk, cekidot🫰

__ADS_1



__ADS_2