
Sudah hampir satu tahun lamanya Adelia meninggalkan Malik. Itu tak mengapa bagi Malik karena ia tidak merasa kehilangan. Malik juga enggan menghubunginya karena ia tidak rindu sedikitpun dengan Adelia.
Malahan ia lebih nyaman dengan kehidupannya sekarang, walaupun masih harus berjuang mendapatkan hati istrinya kembali.
Ya! Sudah lama mereka tidak harmonis lagi. Khadijah ingin sekali membuang rasa bencinya, tetapi siapa yang bisa di salahkan jika dirinya sudah muak dengan Malik.
Setiap kali Malik ingin menyentuhnya, Khadijah terus di bayang-bayang dengan perselingkuhan sang suami. Ia juga membayangkan bagaimana Adelia menikmati setiap inchi tubuh suaminya.
"Bang! Sarapan gih ... sudah mateng." Setelah membangunkan suaminya, ia pergi mandi karena setelah shalat subuh wanita itu langsung mengerjakan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga.
Ini adalah hari Minggu, biasanya komplek tersebut pergi ke kota ataupun ke pasar untuk berhura-hura. Akan tetapi sudah hampir satu tahun ini mereka nyaris pergi bersama. Ketika melihat para tetangga pergi, mereka hanya melihatnya saja atau kadang ikut dengan tetangganya. Bukan karena Khadijah tidak ingin pergi tetapi karena mobil mereka sudah di jual. Kini kendaraan yang mereka miliki hanyalah sebuah motor sederhana untuk lintas kebun saja.
Wangi tubuh Khadijah membangunkannya, Malik tersenyum melihat kecantikan dan kesempurnaan sang istri. Bagaimana tidak? Khadijah sudah tampil lebih cantik lagi dari pada dirinya yang dulu. Ia selalu rutin merawat wajahnya, bukan untuk sang suami tetapi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jah ..."
Khadijah hanya melirik sekilas, "Abang sudah sarapan? Jangan lama-lama nanti keburu dingin."
khadijah mengambil baju kemeja Tuniknya, "Kamu mau kemana?" tanya Malik.
"Ke pasar, bedak Dijah habis."
"Nggak usah, Bang. Kalau untuk diri sendiri uang dijah cukup kok. Abang simpan aja uang Abang, biar nggak kaget kalau semisalnya Adelia datang. Jangan lupa, ada anak yang harus Abang nafkahin."
"Jah ... apa nggak bisa kita lupakan itu sebentar saja?"
"Abang tahu nggak, gelas saja yang sudah pecah sekalipun kita satukan lagi ia nggak akan sempurna. Apa kabar dengan hati ini yang selalu di hancurkan?"
__ADS_1
Malik terdiam, ia tak tahu harus jawab apalagi. Itulah tujuan Khadijah, yaitu membuat suaminya terdiam seribu bahasa. "Dijah pergi dulu, Riska Dijah bawa. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Malik benar-benar merasa sendiri, namun siapa yang harus di salahkan soal itu? Tidak ada! Karena yang salah hanya dirinya. Dan dia juga yang harus bertanggung jawab.
'Maafkan Abang, Jah! Abang janji akan berubah, Abang janji akan merebut kembali hati yang bilang. Abang rindu, Jah ...' Batin Malik menatap kepergian dua wanita yang ia sayang.
Malik pergi ke dapur, ternyata sudah tersedia kopi, nasi di atas piring dan juga lauk pauk yang berada di mangkuk kecil. Seusai makan, Malik duduk di depan rumah sambil memainkan ponselnya. Tak lupa pula ia membawa kopi yang di sediakan sang istri untuknya.
Tiba-tiba ia melihat unggahan poto dari Adelia, wanita itu mengunggah foto dirinya bersama seorang bayi laki-laki yang umurnya sekitar empat bulanan. 'Nak ... Bunda akan selalu ada untuk kamu. Maafkan Bunda!'
Ya! itu unggahan foto tersebut beserta tulisannya. Hati malik berdetak saat melihat wajah anak bayi yang tak berdosa tersebut. "Siapa dia? Apa bayi itu anakku?"
__ADS_1