
"Adel yang gila? Nggak salah? Adel capek, Bang! Abang selalu pulang dengan telat, nggak ada waktu buat Adel. Adel butuh Abang, Adel butuh Abang, Adel butuh nafkah lahir batin! Sekarang Adel tanya, apa ada Abang beri itu semua? Adel sudah kaya selingkuhan saja."
"Kamu 'kan tahu, Abang sudah nggak di kerjaan lama lagi, Abang di pindahkan ke lapangan dengan jabatan jauh di bawah dari yang sebelumnya. Itu semua karena siapa? Karena kamu, Del. Abang banyak cuti karena kamu, untuk ketemu sama kamu. Apa kamu lupa?"
"Oh! Jadi Abang sekarang nyalahin Adel, gitu? Ini semua salah Adel?"
"Del, tenang ya! Tenang ..." Malik sengaja mengalihkan pembicaraan sambil membuat Adelia lengah dengan keadaan agar dapat mengambil pisau yang berada di tangan Adelia.
Usaha Malik tak sia-sia, ia berhasil mengambil pisaunya. "Ayo kita bicarakan baik-baik!" titah Malik dengan lembut.
Bukannya nurut, Adelia malah menangis sekencang-kencangnya. Malik menjadi bingung tak karuan, bahkan banyak tetangga yang melihat mereka dan Adelia tidak perduli.
"Adel mau balik saja ke kota, Adel mau kerja lagi!"
Adelia tidak main-main dengan ucapannya, dia mengambil semua baju-bajunya dan ia susun di tas besarnya. Tak lama kemudian ia pergi dari rumah tersebut seorang diri, Malik sama sekali tidak mencegahnya. Begitu Adelia pergi, beberapa tetangga menghampiri Malik.
"Kok di diamin aja istrinya pergi?"
"Tapi lebih baik pergi sih, soalnya dia terlalu sensitif!"
__ADS_1
"Mbak Adelia lagi hamil, wajar kalau sensitif."
"Tapi ini keterlaluan, Suami pulang kerja bukannya di sambut dengan senyuman malah dengan hinaan."
Begitulah desas-desus dari para tetangga, Malik tidak menanggapinya. Entah mengapa hati kecilnya bahagia melihat istrinya pergi saat ini.
Di saat Adelia pergi dengan tangisan dan kesedihan, Malik tidur dengan nyenyak dan senyuman.
"Akhirnya ..."
***
Khadijah sering sekali merasa heran, tetapi ia tidak bertanya sedikitpun untuk menghindari rasa sakitnya.
"Dijah ..." Panggil Malik.
Khadijah saat ini sedang menjemur pakaian di belakang, wajar saja dia tidak mendengar. Malik beranjak dari kasurnya untuk mencari Khadijah di rumah yang tidak terlalu besar tersebut.
Rupanya Khadijah berada di belakang, Malik langsung memeluknya membuat Khadijah tersentak kaget.
__ADS_1
"Ada apa, Bang?"
"Abang cariin kamu, tadi Abang mimpi kamu pergi ninggalin Abang. Abang khawatir, Abang nggak mau kamu tinggalin." Sambil menatap wanita yang sudah membersamainya selama sepuluh tahun, wanita yang kini tampilannya sedikit berbeda karena Khadijah sudah mulai merawat dirinya. Bahkan kulit di pipinya yang awalnya berminyak kini glowing seperti artis di tv.
Rasanya Khadijah ingin sekali tertawa, tetapi Malik sepertinya sedang serius saat ini. Khadijah membalikkan badannya, "Bang, Malu!"
Malik tersenyum, "Rasanya sudah lama Abang nggak meluk kamu," ucap Malik.
Khadijah teringat dengan pengkhianatan Malik saat itu, seketika ia langsung melepaskan pelukan suaminya. "Dijah nggak ingin di sentuh," ucap Khadijah.
"Sampai kapan, Jah?"
"Entahlah! Melihat wajah Abang saja Dijah teringat dengan perselingkuhan Abang."
"Abang udah tobat, Jah. Abang nggak mau lagi selingkuh!"
"Dulu Abang juga pernah bilang gitu, perbanyak shalat dan minta petunjuk Allah agar Allah memberikan pintu taubatnya."
"Abang akan ceraikan Adelia, Jah!"
__ADS_1
"Yang harus Abang pikirkan itu buahati Abang dan Adelia saat ini, kabarnya seperti apa, apa dia sudah lahir, atau ya apa ibunya sudah memeriksanya ke dokter. Jangan egois, masa buatnya mau tapi ngurusnya enggak!" Ketus Khadijah sambil masuk ke dalam rumah.