Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
38. Menjumpai Bang Kus!


__ADS_3

Khadijah terus memikirkan Inisial A tersebut, ia yakin mereka adalah orang yang sama. Khadijah mengintip Malik dari balik jendela kamar, ternyata suaminya sedang bermain game di ponselnya pantas saja tidak membalas komentar dari Adelia, pikirnya.


'Sepertinya aku kenal dengannya, tapi siapa dia?'


Ya, Khadijah mulai mencari tahu, ia terngiang dengan nama tersebut terlihat tak asing baginya.


"Adelia, bukannya dia mantan Bang Kus?" akhirnya Khadijah mengingat nama tersebut, "Apa memang dia orangnya? Besok aku samperin Bang Kus!" Sambung Khadijah, sepertinya Khadijah benar-benar penasaran.


Khadijah menunggu suaminya masuk ke kamar tapi yang di tunggu tak jua tiba. Akhirnya wanita itu tertidur dengan baju seksinya. Ya, Khadijah sengaja memakai baju seksi untuk memancing suaminya. Ia ingin suaminya mengatakan apa saja walaupun itu menyakitkan baginya.


Ceklek!


Malik masuk ke kamar, terlihat sang istri tidur dengan kaki terbuka lebar. Baju lingerie yang ia pakai pun berterbangan karena terbawa kipas angin.


Malik susah payah menelan salivanya, jiwa kejantanannya meronta-ronta.


Ia mendekati Khadijah yang masih terbaring, di pandangi nya tubuh seksi sang istri yang begitu menggoda tersebut.


Saat ingin menyentuh paha mulus tersebut tiba-tiba ...

__ADS_1


"Enggak, Malik! Enggak!" Bisa-bisanya pria itu bergumam seperti itu karena terlintas di benaknya saat menjamah tubuh Adelia.


"Sama-sama wanita dengan kesempurnaan yang sama. Hanya saja Adelia lebih putih dan mulus. Sedangkan Khadijah ... ah, Dijah kurang merawat diri. Andai saja Khadijah pintar merawat diri seperti Adelia."


Laki-laki separuh manusia itu tidak menyadari jika istrinya tidak dandan bukan karena tidak mau, namun kurangnya jatah perekonomian. Bagaimana Khadijah bisa merawat diri jika gaji yang di beri hanya mampu menutupi biaya cicilan rumah, mobil dan juga makanan sehari-hari. Untung saja mereka mempunyai ladang seluas 3 hektar, membuat Khadijah mampu menabung untuk keperluan yang tidak terduga.


Malik naik ke atas kasur, ia melupakan niatnya untuk menyentuh sang istri yang sedikit lebih gemuk dari pada Adelia. Untuk memeluk Khadijah pun ia tak mau karena takut menyakiti Adelia, katanya.


***


Pagi ini Malik pergi lebih awal membuat Khadijah memiliki peluang untuk menemui Bang Kus. Khadijah pergi ke rumah kakaknya Malik yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka untuk meminjam motor.


"Mau nganterin bekal untuk Riska, Kak," dusta Khadijah.


Dengan polosnya Ida memberikan motor tersebut tanpa bertanya lebih lanjut. Khadijah bernapas lega, apalagi ia tidak membawa apapun saat ini.


Khadijah mengelilingi PT Angin Ribut tersebut, suasana yang masih asri namun penuh dengan pohon sawit karena memang mereka tinggal di kawasan kelapa sawit.


Tibalah ia melihat Bang Kus, laki-laki yang sedang memukul pupuk tersebut. "Bang Kus!" Panggil Khadijah.

__ADS_1


Lelaki itu pun menghampirinya, "Eh, Jah! nyariin Abang?"


Khadijah mengangguk, "Ada yang mau Dijah tanya, Bang. Tapi apa Dijah ganggu?"


"Enggak kok, Jah. Tapi sebentar ya, nggak enak sama mandornya."


"Iya, Bang. Dijah cuma mau nanya, apa istri Abang yang dulu itu namanya Adelia?"


Terlihat Bang Kus tersentak kaget, "Maaf, apa dia ganggu suami kamu? Abang dapat info dari orang-orang sini, katanya setiap cowok yang di kencani olehnya, laki-laki itu langsung jatuh miskin."


"A--apa? Benarkah?"


"Iya, Dijah. kamu harus hati-hati. Adelia sangat berbeda sekarang dari pada dia yang dulu. Harta bisa melupakan segalanya."


"Tapi apa yang dia lihat dari Bang Malik?"


"Malik? Memangnya mereka pacaran?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2