Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
66. Gila!


__ADS_3

"Simple! Adel mau Abang di samping Adel selamanya. Anggap saja ini untuk putra kita, Bang."


"Jangan pernah berharap!" tegas Malik.


Malik membalikkan badannya, niat hati ingin pergi dari sana. "Mau kemana? Huh? Jika Abang lupain Adel, setidaknya jangan lupakan Hafiz, anak kita." Ucap Adel membuat Malik tercengang.


"Apa katamu? Hafiz?"


"Ya! Namanya, Hafiz. Adel sengaja memberikan nama itu, agar ayahnya mendapatkan Hafiz yang baru."


"Untuk apa kau lakukan itu? Apa kau berpikir aku akan bahagia mendengarnya? Tidak! Ah, ya ... kalau kau menginginkan tanggung jawab, serahkan anak itu padaku biar aku yang merawatnya. Bagaimana?"


"Tidak semudah itu, Bang! Adel yang mengandung, Adel yang melahirkan. Kemana Abang saat Adel butuh Abang menemani Adel melahirkan?"


Semua orang menatap mereka karena lama kelamaan suara keduanya semakin meninggi. Malik berdecak, "Kau ini memalukan! Pergilah ... Setiap bulan akan aku transfer biaya hidupnya."


"Bang!" lirih Adelia. "Kita baru saja bertemu, setidaknya minumlah lebih dulu." Ucap Adelia pelan saat Malik sudah mulai pergi. Ia merasakan rencana yang ia buat telah gagal.


"Tidak, terima kasih!"

__ADS_1


"Sekali saja!" Adelia terus memaksa.


Malik mengangguk, pikirnya tak mungkin Adelia menaruh sesuatu di minumannya karena wanita itu baru saja sampai. Bahkan dia baru saja ingin memesan minuman sedangkan dirinya sudah lebih dulu memesan, walaupun belum ia minum sama sekali.


Adelia terus memandang wajah Malik, lelaki itu tampak risih. "Jangan menatapku seperti itu! Kau membuatku jijik."


"Wajah ini yang Adel rindu, bagaimana bisa Adel berhenti menatapnya?"


"Buang saja rindumu dan lupakan aku."


Tak lama kemudian minuman Adelia pun datang, mereka minum bersama sesuai keinginan Adelia. secepat kilat Malik menghabiskan minuman miliknya agar lekas pergi dari hadapan Adelia.


Malik membayar kedua minuman tersebut, saat ingin mengeluarkan uangnya tiba-tiba ia terjatuh ke lantai. Salah seorang di antaranya tersenyum sinis dengan kemenangan yang ia peroleh.


Ingin menangis namun takut sekali air mata tersebut jatuh dan membuat luka bakar tersebut semakin perih. 'Bang Malik, Abang dimana?' Itulah yang ada di batinnya.


Dokter pun menanganinya, Khadijah terus mengucapkan istighfar dan berdoa agar dirinya selamat.


Di luar kamar tersebut, kakak-kakaknya Malik terus menelpon lelaki itu. Sialnya tak satupun yang mengangkat teleponnya.

__ADS_1


***


Malik membuka matanya saat merasakan seseorang menindih badannya. "Khadijah, Sayang ... Kamu masih tidur ternyata ..." Ucap Malik dan mengira dirinya berada di sebuah hotel bersama Khadijah.


"Ternyata kamu ingin bulan madu ya," ucap Malik lagi yang masih belum menyadarinya.


Merasa tidak ada jawaban akhirnya Malik melihat wajah wanita tersebut. "****!" Umpatnya sambil menggeserkan kepala wanita itu di hadapannya.


Adelia terbangun, "Abang sudah bangun ya? Terima kasih, permainan Abang masih sama, Adel suka dan Adel sangat rindu."


Malik menatapnya dengan kesal, "Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada kita? Jawab, Del!"


"Sayang ... Jangan galak-galak dong! Masa' nggak tahu sih? Padahal Abang yang nyerang loh ..."


"Maksudnya?"


Adelia memperlihatkan video yang ia rekam, ternyata keduanya habis melakukan hal yang tak senonoh. Malik sangat membenci dirinya, ia sampai membanting ponsel tersebut hingga rusak dan mati total.


Plak!

__ADS_1


Satu tamparan mendarat di wajah Adelia, "Gila! Kau wanita gila! Bisa-bisanya ngerekam yang menjijikkan begini!"


"Adel gila karena Abang! Jangan bersikap dingin begitu, karena akan membuat Adel semakin tergila-gila!" sambil tersenyum licik.


__ADS_2