Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
73. Membunuh Adelia


__ADS_3

"Apa Abang nggak boleh masuk?" Tanya Malik dengan lembut, sangat lembut.


Adelia tercengang, ada bingungnya, ada senangnya juga. Berharap ini bukan mimpi. Berharap ini akan berlangsung selamanya. Berharap Malik akan kembali padanya.


"I-iya, ma-masuk, Bang," sahut Adelia mempersilahkan dengan terbata-bata.


Bagaimana Adelia tidak terkejut? Malik sudah mengubah nada bicaranya, ia juga mengubah panggilannya. Rasanya perbuatannya yang sudah membunuh Khadijah takkan sia-sia.


Malik masuk dan langsung menggendong bayi kecil nan mungil, bayi yang tak berdosa itu langsung ia tatap. "Ini Hafiz?" Tanya Malik.


Adelia mengangguk, "Dia sangat mirip dengan Abang," sahut Adelia.


Malik tersenyum, "Maafin Ayah, Nak." Setelah mengatakan itu Malik malah menangis. Ada suatu hal yang di pikirannya, namun berbeda dengan yang ia ucapkan setelah itu, "Ayah sudah mengabaikanmu."


"Abang mau minum apa?"


"Teh es ya," jawab Malik.


Adelia pergi, setelah merasa aman ia menggelengkan kepalanya, "Maaf, Nak. Karena kamu sekarang akan menjadi korban untuk kedua kalinya. Laki-laki yang di hadapanmu bukan orang baik, dosanya sudah sangat banyak. Rasanya mustahil surga menerima keberadaannya. Bahkan neraka pun terpaksa menampungnya dan malaikat maut bersusah payah menghukumnya."


Tak lama kemudian Adelia datang membawa secangkir teh dingin, "Di minum, Bang."


Malik mengangguk, ia menaruh kembali bayi tersebut ke dalam box nya. Adelia tersenyum, "Tumben Abang kemari?"


"Abang hanya ingin menebus kesalahan," sahut Malik.

__ADS_1


Adelia mendekatinya dan memeluk Malik, "Adek rindu, Bang."


"Kamu rindu? Jangan rindu, karena rindu itu sakit."


Adelia tersenyum geli, "Abang ... Adel turut berduka cita ya, Adel ingin sekali menjenguk Kak Dijah, tapi nggak ada yang jaga Hafiz. Maaf ya, Bang."


Malik mengepalkan tangannya, wajahnya berubah menjadi sadis, bahkan rasanya tak ingin melihatnya. Begitu Adelia menoleh, Malik langsung tersenyum, "Nggak apa-apa, Abang juga minta maaf karena kemarin sempat marah-marah. Mungkin karena Abang nggak sadar."


Adelia mengangguk, Malik membelai rambut Adelia. "Jalan-jalan, yuk!"


"Kemana, Bang?"


"Ke kota! Tapi Abang cuma pengen berdua saja sama kamu, Hafiz titip ke tetangga boleh 'kan?"


"Tumben?" Tanya Adelia sedikit menaruh curiga.


"Mau! Mau banget," sahut Adelia kegirangan, ia langsung berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu ia mengantarkan bayi itu ke tetangga sebelah, ia juga menceritakan detailnya.


Setelah itu keduanya pergi menaiki motor milik Adelia. Jalan lintas tak cocok untuk motor bebek miliknya, karena harus dengan kendaraan yang sehat disana.


Adelia memeluk Malik dari belakang, semakin lama semakin kencang apalagi jalan lintas tersebut sepi. Kanan-kiri jalanan tersebut penuh dengan jurang.


"Abang, kenapa kencang banget?"


"Kamu takut mati?" Tanya Malik langsung.

__ADS_1


Adelia mengangguk, "Pelan dikit, Sayang."


Malik malah tertawa, membuat Adelia semakin takut. "Kau takut mati tapi kau seenaknya mematikan orang! Apa itu adil, Adelia?"


"A--apa maksudnya, Abang?"


"Aku tahu, kau yang membunuh istriku!"


"Abang pasti salah paham," sahut Adelia dari belakang.


"Jika kau dengan mudahnya membunuh orang, maka nggak menutup kemungkinan kalau aku bisa membunuhmu!"


"Tidak! Jangan lakukan ini, Bang. Adel mohon, berhenti, Bang!"


"Sayang sekali, tapi rem kita ini blong. Hahaha!"


Ya! Malik sudah merencanakan semuanya. Sebelumnya ia sudah menukangi motor tersebut sebelum masuk ke rumah Adelia. Tiba-tiba truk sudah berada di depan mata, semakin lama semakin dekat. Adelia semakin panik, ia lompat dari motor tersebut ke arah samping.


Tiba-tiba ...


Bruk!


Byar!


Adelia malah di sambut dengan truk yang berada di lawan arah, wanita itu terhempas dan berlumuran darah. Nyawa juga sudah tak dapat di tolong lagi. Apalagi saat melihat kepalanya seakan mau terbelah.

__ADS_1


Lantas, dimana Malik?


__ADS_2