Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
42. Bertengkar


__ADS_3

Hari demi hari di lewati bersama dengan banyaknya drama pernikahan. keduanya terlihat baik-baik saja saat di depan sang buah hati juga para tetangga. Semua seakan baik-baik saja.


Imran merupakan kakak tertua Malik yang kebetulan juga bekerja di sana. Rumah mereka juga terbilang cukup dekat, dialah yang menjadi penengah para adik-adiknya saat ada masalah karena ia tidak ingin orang tuanya yang berada di desa Sukawin menjadi khawatir.


Tak jarang keempat adiknya tersebut bertengkar, baik masalah rumah tangga maupun kesalahpahaman antara kakak beradik.


Ya, dari banyaknya anak dari orang tua Malik, mereka berlima berada di satu perusahaan. Keponakan mereka juga bekerja di sana. Imran 'lah yang suka membantu saudara-saudaranya agar di terima kerja di sana.


Ini adalah hari ketiga bagi Malik untuk menjawab keputusannya, laki-laki itu sangat bimbang apalagi Khadijah mengingatinya lagi sebelum berangkat kerja tadi.


Jam menunjukkan pukul 12 siang, biasanya Malik pulang ke rumah namun berbeda dengan hari ini. Karena sampai sekarang ia masih belum punya keputusan.


Tring!


Ponsel Malik berbunyi, nama yang dulu ia tulis sebagai inisial A kini berubah menjadi Adelia. Buat apa di tutupi lagi, toh Khadijah juga sudah tahu, pikirnya.


[Halo, Sayang ...] Malik berusaha menyembunyikan masalahnya dengan Khadijah di hadapan Adelia. Namun saat melihat Adelia menangis, Malik menjadi khawatir, [Loh, kamu kenapa?]


[Gawat, Bang ...]


[Gawat? Gawat kenapa?]

__ADS_1


[Adel hamil!]


Prang!


Malik terdiam membisu, kesalahan yang ia lakukan benar-benar fatal. Sekarang ada benih cinta di sana, apalagi yang harus di pikirannya?


Di balik ponsel yang sudah terjatuh tadi, ada seseorang yang terus memanggilnya dan meminta pertanggungjawaban.


[Kalau Abang nggak mau tanggung jawab, Adel bakal datang kesana, Bang. Adel nggak mau anak ini lahir tanpa ayah.]


Tut!


"Assalamualaikum!" Malik menciumi tangan kakaknya satu persatu.


"Waalaikumsalam."


"Duduk!" titah Imran.


Malik pun nurut begitu saja, rasanya ingin sekali ia kabur apalagi saat melihat Khadijah yang sejak tadi hanya menunduk saja.


"Iya, Bang," jawab Malik.

__ADS_1


"Abang nggak mau basa-basi, sekarang apa keputusan kamu?"


"Dijah!" Tegur Malik, karena ia tak menyangka Khadijah menceritakan semuanya pada kakaknya.


"Kamu mau nyalahin Dijah, Malik? Ini bukan salah Dijah, asal kamu tahu sebenarnya Hanum pernah melihatmu pergi ke hotel bersama wanita lain."


"Apa?"


"Sudah lama kami ingin bertanya, tapi sepertinya sekarang waktu yang tepat. Kamu ini bodoh nian, apa kamu nggak bisa melihat kesempurnaan dari istri kamu?"


"Maaf, Bang! Malik ingin menyudahinya tapi Adelia sudah hamil."


"Apa?" Semua tampak sangat terkejut, termasuk Khadijah.


Malik langsung bersimpuh di hadapan Khadijah, "Dijah! Maafkan Abang. Abang benar-benar khilaf, Abang ingin mengakhirinya tapi tadi dia beritahu Abang kalau dia lagi hamil."


"Dimana letak kesalahan Dijah, Bang? Dari sumur, kasur, atau dapur? Katakan, Bang! Dijah bisa perbaikin semuanya." Khadijah menangis terisak di hadapan suaminya.


"Dijah nggak salah, Dijah sempurna buat Abang. Cuma ya itu ... Memang dasar Abangnya aja yang kaya gini, Jah," seru Malik sambil memeluk istrinya.


Dengan spontan Khadijah melepaskan pelukan tersebut. Jawaban Malik sangat tidak masuk akal bagi Khadijah. "Maaf semuanya, Dijah ingin sendiri!" ujar Khadijah sambil beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2