
"Hm,"
"Boleh kali kalau Dijah juga rasain main-main?"
"Nggak boleh!"
Kalau di pikir-pikir Khadijah benar, istri mana yang tidak sakit hati? Pernikahan mereka seperti dua orang sahabat yang sedang bermain rumah tangga. Seenaknya saja Malik bercerita tentang perselingkuhannya. Saat ini apa yang bisa Dijah lakukan?
Hening. Tak ada percakapan di antara keduanya, Khadijah masih hanyut dalam pikirannya yang sedang berontak dengan hati. Sedangkan Malik, malah tertidur akibat nikmatnya pijitan dari sang istri.
Mendengar suara ngorok suaminya, Khadijah menghentikan pijitannya. Ia melihat tangannya semakin membengkak, merah dan perih. "Aw, sakit." Lirihnya.
Akhirnya Khadijah memilih kebelakang. Ia membuka pintu rumah menatap kegelapan dan di temani nyamuk yang bertaburan sambil menunggu air rebusan yang sudah ia didihkan untuk merendamkan tangannya. Walaupun perih, setidaknya bengkaknya akan berkurang, pikirnya.
'Pernikahan seperti apa ini, Ya Allah?' batin Khadijah.
***
Seminggu sudah berlalu, Khadijah memutuskan untuk berjualan di depan rumahnya agar memiliki kegiatan lain selain memikirkan suaminya. Beberapa hari yang lalu ia sudah bertanya pada Martha resep membuat lontong Medan. Martha memberinya secara suka rela, ia tahu caranya tetapi dia malas membuatnya.
Pagi hari, Martha sudah berada di depan warungnya. Masih terbilang kecil karena hanya ada satu steling kecil di sana, meja dan kursi yang kecil berjumlah tiga buah bagi mereka yang mau makan di tempat.
__ADS_1
"Jah, aku pasti pelanggan pertamamu. Buatkan aku satu porsi ya!"
Khadijah mengangguk, "Duduk yang manis ya ..." Khadijah mulai menaruh lontong di atas piring, "Mau pakai telur atau enggak?"
"Pakai!"
"Pedas atau enggak?"
"Pedas!"
"Pakai tauco atau enggak?"
"Dari pada aku salah menyajikannya?"
"Sini kau ku bilangin!" Titah Martha, "Sudah ku bilang sama kau 'kan, lontong Medan itu kawan-kawannya mie, tauco sama sambal. Kau cuma tanya aja mau pedas atau enggak, kalau mau katanya tinggal kau tambah sambalnya lagi, kalau enggak ya nggak perlu kau tarok. Terus juga, kau cuma nanya pakai telur atau enggak, kalau pakek tinggal kau tambah harganya. Sudah, selesai! Untung nggak kau tanya, makan pakai sendok apa tangan, ku tunjang kau nanti!"
Khadijah terkekeh mendengarnya, "Nggak pakai emosi juga, Buk ..."
"Gondok kali aku sama kau, masih pagi sudah naik darah tinggiku kau buat. Jangan sampai ku panggilkan anjingku kemari biar di gonggong in kau."
"Sabar, orang sabar di sayang Tuhan." Khadijah berdiri dan menyelesaikan sajiannya.
__ADS_1
"Yang ada pantatnya lebar!"
"Ini makanannya, silahkan di makan!" Khadijah duduk di depan Martha, "Silahkan di nilai juga ..."
"Memang mau ku nilai 'lah ini, makanya aku datang pagi buta."
Martha memperhatikan bentuknya dari setiap sudut, ia mengangguk-anggukkan kepala saat ini. "Bagus! Tampilannya menggugah selera. Pintar juga kau ya, kau tambahkan kerupuk padahal aku nggak ada kasih tahu kau."
"Terus ... Terus ... Rasanya ...."
Martha mulai menyendokkan lontong tersebut, "Enak! Sudah pas! Cuma kurang banyak," ucap Martha sambil terkekeh.
"Kamu tambah harganya biar aku tambah porsinya."
"Bah, mana ada kek gitu. Oh iya, kalau kau mau buat banyak kombinasi bisa loh, misal nih mie nya kau buat juga mie gomak sama mie tiaw, tinggal kau suruh orang pilih mau pakai mie apa. Terus kau juga bisa jual mie nya terpisah, ku jamin banyak yang beli."
"Tunggu, mie gomak apa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1