Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
40. Ketahuan


__ADS_3

"Ya ampun, Wak! Sejak kapan di situ?" tanya Khadijah.


"Kebiasaan kamu ini, sukanya melamun. Untung bukan anak gadis lagi, kalau anak gadis udah Wak bilang nanti jodohmu telat datang!"


Khadijah tersenyum geli, "Wak dari mana?"


"Hidupkan air, dari tadi di matiin orang padahal Wak udah ngidupin dari subuh. Gatal banget tangan mereka," kesal Wak Santi.


"Loh, iya kah? Dijah nggak tahu, Wak. Tapi dari tadi banyak yang ke mesin air. Kalau tahu Uwak lagi ngisi, udah Dijah marahin mereka."


"Gimana kamu mau tahu, Jah. Kamu aja melamun terus. Ada masalah apa? Cerita sama Uwak biar plong rasanya."


"Dijah lagi curiga sama Bang Malik, Wak. Tapi belum jelas, nanti aja kalau memang benar adanya baru Dijah cerita."


"Yowes, Wak balik dulu. Takut ramai kedainya," pamit Wak Santi.


Tak lama kemudian Malik pulang, setiap Jum'at para pekerja memang pulang lebih awal agar bersiap-siap melaksanakan shalat bagi yang menjalankannya.


"Assalamualaikum!" Malik berulang kali mengucapkan salam.


Khadijah masih enggan merespon, ia terus berkhayal, tentunya ia sedang memikirkan sang suami.


Cup!

__ADS_1


Kecupan itu menyadarkan Malik, "Astaghfirullah, Abang. Pulang itu ucap salam," kata Khadijah menyalahkan suaminya.


"Sudah Beratus kali Abang ngucapin salam tapi nggak di sahut sama istri Abang."


"Maaf!" kata Khadijah, sedetik kemudian, "Astaghfirullah, Abang sudah pulang! Dijah belum masak, Bang."


Bukannya mencium tangan Malik, wanita itu pergi ke dapur menyediakan makanan untuk suami dan anaknya. Gara-gara memikirkan Malik, ia benar-benar lupa memasak. Malik tidak menaruh curiga sedikitpun, ia masuk ke kamar untuk bersiap mandi karena akan melaksanakan shalat Jum'at.


Bertepatan Malik selesai, Adelia menelponnya. Sialnya Khadijah mendengar semuanya karena air di galon habis dan ingin menyuruh Malik membelinya.


"Adelia," gumam Khadijah dengan sedikit keras agar Malik mendengarnya.


Malik tercengang, lidahnya terasa tercekat saat ini. Malik membalikkan badannya, "Di-dijah ..."


Jika sudah kepergok begini, Malik paling tak bisa berbohong karena akan ketahuan lewat matanya. Khadijah semakin mendekatinya dan menatap mata Malik dengan lekat.


"Dijah nanya sama Abang loh, Adelia itu siapa?"


"Oh, Adelia itu teman Abang."


"Teman? Teman yang mana?"


"Itu loh, anu ---"

__ADS_1


"Mantan istrinya Bang Kus?"


Deg!


Sudah ketahuan, pikirnya. Malik pun menganggukkan kepala, "Tapi kami hanya berteman kok," kata Malik.


Rasanya Khadijah sangat muak mendengar kata berteman dari Malik, akan tetapi dia tidak ingin gegabah karena ingin mengumpulkan bukti yang lebih jelas dahulu.


***


Seminggu sudah berlalu, bahkan Khadijah tidak mempermasalahkan hal yang sama lagi. Bukan tidak ingin, tetapi belum ada bukti yang benar-benar bisa di jadikannya umpan.


Pagi ini Khadijah naik ke atas bukit untuk mencari jaringan, rasa mumet di kepalanya membuatnya ingin sekali membuka salah satu sosial medianya untuk mencari hiburan.


Tiba-tiba ...


Prang!


Khadijah menjatuhkan ponselnya hingga terguling ke tanah. Bagaimana tidak? ia melihat foto suaminya bersama wanita lain sambil ciuman dan pelukan, bahkan ada juga video mereka sedang berjoget ria.


Akun yang di lihatnya bernama Queen Adel, entah sejak kapan mereka berteman di sana. Dengan cepat Khadijah langsung menyimpan foto suaminya dengan wanita tersebut.


Hati Khadijah sudah tak bisa lagi di toleransi, kini ia benar-benar merasa hancur. "Abang jahat! Tega Abang nyakitin Dijah," lirih Khadijah sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2