Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
32. Di hotel


__ADS_3

Adelia tidak menjawabnya, namun tangannya langsung menarik Malik agar memegang tubuhnya. Kini wanita itu sudah berada dalam genggaman Malik, mereka pun langsung menuju kamar mandi dan berendam bersama di bathtub.


Ini kali pertamanya Malik merasakan itu karena selama menikah ia tidak pernah melakukan itu dengan Khadijah. Bukan salah Khadijah sebagai istri, tetapi salahnya 'lah yang tak pernah mengajak ke hotel dengan dalih uang belum cukup.


Sementara saat ini ia merasakannya dengan gratis tanpa biaya apapun. Siapa yang tidak senang? pikirnya. Dalam sekejap saja ia sudah melupakan anak istrinya yang menunggu di rumah, terutama Khadijah yang tak bisa tidur dengan nyenyak.


Usai itu keduanya berpakaian kembali, bahkan pakaian tersebut sudah di siapkan oleh Adelia. Entah kapan wanita tersebut membeli pakaian baru untuk mereka. Malik saja sampai terheran-heran saat ini.


"Sayang, kamu kapan beli ini semua?"


"Tadi pas Abang tidur, gimana modelnya? Bagus nggak?"


"Ba--bagus sih, tapi ini berlebihan, Sayang. Bahkan Abang belum ada ngasih apapun sama kamu!"


Adelia menaruh kedua tangannya di bahu Malik, "Abang nggak perlu balas ini semua, yang penting Abang dan hati Abang selalu ada buat Adel."


"Makasih, Sayang," kata Malik sambil mencium kening Adelia. "Abang janji, gajian nanti Abang yang bayarin ya," sambungnya sambil memeluk Adelia.

__ADS_1


"Yakin? Bukannya rekening Abang itu di atur sama Kak Khadijah?"


"I---iya sih, ta--tapi 'kan ---"


"Lupakan soal itu, yang penting Abang selalu ada buat Adel. Pasangan itu 'kan untuk berbagi, Bang."


Malik menatap Adelia penuh dengan takjub, ia merasa wanita itu sangat mandiri dan pekerja keras sesuai dengan tipenya. Berbeda sekali dengan Khadijah yang tidak bekerja. Walaupun kemarin Khadijah sempat berjualan lontong Medan yang lumayan ramai pelanggannya.


"Ada apa, Bang?" tanya Adelia yang merasa malu dengan tatapan Malik.


"kamu tahu, Abang semakin jatuh cinta sama kamu. Tapi Abang heran, kenapa kamu mau sama Abang dengan keuangan pas-pasan begini?"


Terdengar begitu berlebihan tetapi itulah yang di katakan wanita itu padanya. Di zaman sekarang sangat mustahil itu terjadi tetapi begitulah Adelia. Ada yang ditutupinya dari Malik, ada yang di kejarnya namun ia tidak ingin terlalu mencolok. Malik tidak menyadari jika sebenarnya Adelia punya niat khusus untuknya.


"Abang, Adel lapar," ucapnya dengan begitu manja saat lelaki yang di hadapannya memilih diam sejak tadi.


"Astaga, Abang sampai lupa kalau kita belum makan. Tapi Abang pengen lagi Del," kata Malik dengan suara yang begitu berat.

__ADS_1


Entah mengapa, sejak Adelia menyerahkan tubuhnya, Malik menjadi ketagihan dengan wanita itu. Wanita yang saat ini memakai baju seksi, membuat sesuatu di bawah sana terus menegang tak karuan.


"Tapi Adel lapar," rengeknya sambil bergerak di atas pangkuan Malik.


"Waduh! Jangan gerak, Del. Pas banget soalnya," kata Malik dengan perasaan yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Apalagi ia merasa sesak di bawah sana. "Del, Abang udah nggak kuat. Makannya kita pesan online saja ya, kita anu dulu."


Suara ******* yang bersahutan terus terdengar, tanpa di sadari Malik telah menanamkan benih di sana karena tidak memakai pengaman. Entah jadi atau tidak, namun yang jelas di dalam hati seseorang ada yang bahagia dan berharap jika benih tersebut sukses.


"Terima kasih, Sayang." Malik tertidur lemas, sementara Adelia menggelengkan kepalanya.


Wanita itu juga sudah sangat lelah tetapi perutnya sudah keroncongan membuatnya harus menunggu sebentar.


Ting!


"Hah, itu dia! Akhirnya makanannya datang juga," gumam Adelia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2