
"Anu, Paktua ---" Malik menggaruk kepalanya, Paktua Kodir memang menjadi orang yang di takutkan oleh para keponakannya. Karena beliau merupakan anak pertama dari kakek dan neneknya yang otomatis menjadi pengganti mereka untuk di segani.
"Wanita itu kah yang menelpon?"
Malik mengangguk, Paktua Malik tersenyum sinis. "Baru menikah sebentar saja sudah ngatur-ngatur, semoga kamu di bukakan mata dan hatimu oleh Allah, Nak."
Pak tua Kodir kehabisan kata-kata, ia memilih untuk meninggalkan Malik saat ini. Malik pun pergi mencari keberadaan Dijah di dapur Kak Imah.
"Jah!" Panggilnya.
"Ada apa, Bang?"
"Abang harus balik, nggak apa-apa 'kan?"
"Hati-hati di jalan!"
Malik mendekati dirinya, ia ingin memeluk Khadijah sementara wanita itu memundurkan langkahnya saat ini. "Bau Adelia ada disana, Dijah nggak suka."
"Ka-kalau begitu Abang balik dulu, Assalamu'alaikum."
"Tunggu!" Cegah Khadijah mendekati suaminya.
Malik tersenyum dan menoleh, "Apa kamu berubah pikiran? Abang kangen nian sama kamu, Jah. Abang pengen peluk kamu."
"Abang belum pamit dengan Riska, apa Abang lupa dengannya?"
Seperti tamparan keras bagi Malik, bisa-bisanya dia melupakan anaknya tersebut, pikirnya. "Dimana Riska?"
__ADS_1
"Kamu ini, Mas! Anaknya dimana aja nggak tahu," gerutu Khadijah.
Malik mencari keberadaan Riska, ternyata putrinya sedang main di teras depan bersama sepupunya yang lain.
"Riska!"
"Ayah, ada apa?"
"Ayah pergi dulu ya," pamitnya.
"Pergi kemana?"
"Ayah mau kerja," dustanya.
"Kerja? Sejak kapan Ayah kerja sampai malam? Biasanya Ayah kerja sampai malam kalau di kota saja!"
Malik tersentak kaget, darimana anak sekecil itu paham soal begituan, pikirnya.
"Riska tahu Mamak sering nangis karena Ayah. Ayah kok jahat sih? Salah Mamak apa?"
Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Riska pun pergi dari sana. "Riska, tunggu!" Teriak Malik.
Riska menoleh, "Ayah kalau mau pergi, ya pergi aja!" sahut Riska sambil pergi.
Malik terdiam, 'Aku ingin tetap di sini, tapi bagaimana dengan Adelia?'
Baru saja di sebut, orangnya sudah menelpon. Malik menghela napasnya dengan dalam, [Ada apa, Adel?]
__ADS_1
[Abang dimana?]
[Ini mau gerak, di sini hujan.]
[Ya sudah, hati-hati. Matanya jangan kelayapan ya, ingat ada Adel di sini.]
[Iya!]
Tut!
Terasa sekali perbedaan Adelia dengan Khadijah, pikirnya. Namun itulah jalan yang sudah ia tempuh sekarang. Ingin sekali meninggalkan Adelia tetapi bagaimana dengan bayi yang di kandungnya?
Malik mengendarai motornya yang baru, bukannya lebih bagus ini malah lebih buruk. Ya, saat mau menikah dengan Adelia, Malik menjual motornya dan membeli motor yang lebih buruk, sisa uangnya ia berikan sebagai modal tambahan untuk Adelia.
Dua jam kemudian Malik sampai di rumah yang mereka sewa tersebut. Adelia sudah menunggunya disana. Bukannya mencium tangan sang suami, Adelia malah memarahinya.
"Kenapa pulang telat, Bang?"
"Abang pelan-pelan, di sana hujan takut licin."
"Lain kali bilang sama Adel, Bang. Adel jadi nggak khawatir kan kasihan anak kita mikirin Abang."
"Abang capek, Del. Butuh pijitan bukan marahnya kamu."
"Udah malam, besok Adel Pijitin."
Rupanya ucapan Adelia benar adanya, Malik ditinggalnya begitu saja. Malik menelan salivanya dengan dalam, "Astaga, kenapa beda sekali dengan Dijah? Kangen Dijah! Kangen kopinya, kangen belaiannya."
__ADS_1
Adelia, wanita yang dulu ia puja-puja, wanita yang ia banggakan dulunya. Kini berubah seperti monster yang sama sekali tidak dikenal olehnya. Sangat berubah, sangat berbeda. Malik menatap wanita itu saat ini, "Kenapa semuanya jadi begini?" gumam Malik.