
Seluruh ibu-ibu di komplek terus mempertanyakan keberadaan Adelia, wanita itu memang tak jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Yang membedakan hanya wajahnya yang sedikit glowing dengan gigi memakai bahel berwarna hitam.
Sementara Adelia, ia tidak perduli saat ini. Perbincangan ibu-ibu tersebut tidak didengarnya sama sekali. Ia tetap duduk di depan rumah Malik. Khadijah berada di dalam rumah, ia enggan untuk keluar karena baginya ini urusan suaminya.
Lalu di mana Malik? Lelaki itu masih berada di lapangan kerja, bahkan ia tidak tahu akan kedatangan tamu spesial.
Suara tangisan bayi terdengar jelas, bayi tersebut kepanasan karena berada di luar rumah. Khadijah merasa kasihan, ia membuatkan minuman untuk mereka yang tak lain adalah Adelia dan anak pertamanya yang ia bawa juga kesitu.
"Di minum! Bang Malik belum pulang," kata Khadijah.
"Makasih, tapi kami nggak haus. Lagian rambut boleh sama hitamnya, tapi hati siapa yang tahu," ketus Adelia.
Khadijah tersenyum geli, "Kamu nuduh aku racunin kamu, gitu? Dengar ya, Del. Kalau aku mau, udah dari dulu aku buat kamu tinggal nama saja."
__ADS_1
Khadijah berniat untuk masuk, namun langkahnya terhenti saat Adelia kembali berbicara. "Sok Suci kamu, Mbak. Sukanya silat lidah!"
Khadijah membalikkan badannya, "Maksud kamu?"
"Mbak sengaja 'kan mempercantik diri biar dia tetap bersama Mbak? Mbak sengaja 'kan menghancurkan rumah tangga kami? Mbak bilang Mbak nggak mau lagi dengan Bang Malik, tapi sekarang apa, Mbak? Mbak kok mau sih sama bekas aku? Dih!"
"Hahaha ..." Khadijah tertawa terbahak-bahak. Adelia semakin panas, ia mengerutkan alisnya dengan marah. "Maaf! Ucapan mu lucu nian, Del. Jadi itu yang kamu bilang silat lidah?"
Khadijah tersenyum geli, "Pertama, aku mempercantik diri untuk diriku, bukan untuk Bang Malik. Kedua, kamu bilang apa tadi? menghancurkan rumah tanggamu? Hei, cantik ... kamu sadar nggak rumah tangga siapa yang lebih dulu di hancurkan? Tapi aku nggak pernah niat untuk balas, emang dasar Bang Maliknya yang sadar, mana berlian dan mana butiran pasir! Ketiga, aku belum pernah membiarkan diriku di sentuhnya setelah bersamamu. Jadi yang betul itu ... kamu yang dapatkan bekas aku!"
"Dasar wanita nggak tahu diri!" Umpat kakaknya Malik.
Adelia langsung diam, ia duduk di kursinya tadi. Khadijah menatap putrinya Adelia, "Nak, kalau mau minum ... minum aja ya! Perdebatan tadi jangan di dengar ya ..."
__ADS_1
Khadijah juga melirik Adelia sekilas, "Lain kali kalau mau ngajak ribut, jangan bawa anak kecil. Kamu nggak kasihan sama anakmu kalau jiwanya terganggu?"
Khadijah masuk ke dalam rumah disusul oleh kakaknya Malik. Mereka menenangkan Khadijah disana. Awalnya Khadijah biasa aja, ia tidak sedih sedikitpun namun saat melihat Wak Santi -- tetangga sebelah rumah, ia langsung menangis di pelukannya.
"Menangis lah!" Titah Wak Santi. "Ada kalanya kita harus menangis, namun berjanjilah setelah itu kita harus lebih kuat lagi."
"Dijah lelah, Wak ... kapan masalah ini berakhir?"
"Cobaan hanya diberikan Allah kepada orang istimewa yang menurutnya mampu untuk di selesaikan nya. Kamu salah satu dari jutaan orang tersebut. Jangan mau kalah dengan wanita itu, jangan mau jika terlihat lemah. Jangan ya, Jah!"
Khadijah mengangguk, "Iya, Wak ..."
Tiba-tiba motor berhenti di halaman rumah Khadijah, para ibu-ibu pun bubar dan akan melanjutkan melihatnya di balik jendela rumah masing-masing.
__ADS_1
Malik terkejut melihat kedatangan Adelia, "Sedang apa kamu di sini?" tanya Malik dengan tegas.