
"Ini salahku, Mbak. Aku sudah memutuskan Dini dua hari lalu karena Mbakku menjodohkan aku sama adik temannya."
"Dan kamu mau gitu saja?"
"Cuma mbakku yang aku punya, Mbak. Nggak mungkin aku tolak nanti mbakku sakit hati."
Flashback.
"Mas, aku rindu." Dini memeluk kekasihnya yang sudah hampir dua Minggu tidak berjumpa.
Syahrul bekerja sebagai supir buah, beberapa hari ini ia mendapatkan tugas malam, sedangkan saat siang ia tidur dan Dini bekerja. Itulah yang membuat kedua insan tersebut susah bertemu, meluapkan kerinduannya.
Harusnya hari ini Syahrul masih mendapatkan tugas malam, namun ia kasihan dengan kekasihnya yang terus mengajak jumpa. Syahrul juga kepikiran dengan kata-kata kakaknya yang membuatnya harus memutuskan Dini dalam waktu dekat ini.
Hatinya berkata tidak, namun keadaan tidak sejalan. Di dunia ini hanya kakaknya saudara yang ia punya. 'Huh, maafkan aku, Din.'
Syahrul melepaskan pelukan kekasihnya membuat Dini mengerutkan alis saat ini, "Kenapa toh, Mas?"
"Kamu --- kamu apa kabar?"
"Aku sakit," sahut Dini.
__ADS_1
"Benarkah? Sakit apa? Kenapa nggak bilang sama aku, Din?"
"Sakit mala ..."
"Mala? Malaria?"
"Malarindu," ucapnya sambil tersenyum malu.
Syahrul terhenyak mendengarnya, mana mungkin ia tega memutuskan sang kekasih di saat mereka sedang rindu-rindunya seperti ini.
"Mas," panggil Dini saat melihat suaminya diam sejak tadi.
"Hm, ya? Ada apa?"
"Nggak apa-apa, Din."
"Kamu sedang mikirin sesuatu 'kan? Kamu nggak mau cerita sama aku?"
"Mas mau kita putus, Din."
"A---apa?"
__ADS_1
"Maaf! Tapi ini permintaan dari mbakku. Mbak sudah menjodohkan aku dengan yang lain. Din, kamu orang baik. Mas doakan kamu bisa mendapatkan yang terbaik dari Mas."
Dini menangis, ia terduduk lemas. Tak mampu menahan dirinya yang sedang merasakan sakit yang amat dalam. "Tapi ini nggak adil buat aku, Mas. Kamu jahat! Tega sekali kamu ngomong kaya gitu, apa cuma sebatas ini aja cinta kamu buat aku, Mas? Apa kamu nggak mau memperjuangkan cinta kita?"
"Maafkan aku, Din." Syahrul malah meninggalkan Dini sendirian di tengah pohon sawit. Bukan karena ia tidak perduli, tetapi sesak di dadanya cukup terasa. Di tambah lagi, ini semua karena kesalahannya.
Flashback Off.
Bicara ponsel memang tak ada habisnya. Ada positif nya dan ada juga negatifnya. Banyak orang keliru dakam menggunakan sebuah ponsel, termasuk Malik.
Baru saja beberapa bulan lalu ia meminta maaf pada istrinya karena telah menduakannya. Baru saja ia mengatakan jika dia menyesal telah membohongi Khadijah. Baru saja ia berkata jika dirinya akan berubah.
Pagi ini Malik mendapatkan sebuah pesan di media sosialnya dari seorang wanita bernama Adelia. Seorang ibu beranak satu yang dulunya adalah istri dari salah satu pekerja di PT. Angin Ribut. Bercerai karena berselingkuh dengan salah satu karyawan lainnya, di cap buruk oleh warga sekitar karena konon katanya wanita tersebut hanya memanfaatkan kekayaan pacar-pacarnya.
[Ganteng ya fotonya,] kata Adelia di balik pesan tersebut. Hanya sebuah pesan mengatakan ketampanan saja, Malik sudah seperti orang yang paling bahagia.
Secepat kilat ia menjawab pesan tersebut, [Kamu juga makin cantik saja sekarang, Del. Makin seksi pula!]
Astaga, dasar Malik. Selalu saja tergoda dengan godaan kecil seperti upil kaya begitu. Hampir satu jam mereka saling bertukar pesan, sampai-sampai ia lupa jika hari ini memiliki janji dengan putrinya.
"Ayah, jadi pergi nggak?" tanya Riska di balik kamarnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...