
"Ponsel! Dimana ponselku?" Bentak Malik.
Adelia memberikan ponsel tersebut di hadapan Malik, Malik pun mengambilnya. "Ah, ****!"
Malik baru ingat jika ponsel tersebut sudah hancur, ia melihat jam di dinding ternyata sudah malam. Malik pun kepikiran dengan istri tercinta. Ia memakai kembali bajunya dan berusaha untuk pergi. Sialnya pintu tersebut terkunci dan kuncinya di simpan oleh Adelia.
"Kemarikan kuncinya, Adelia!"
"Nggak!"
"Del! Ini nggak benar, ini salah, Del!"
"Yang salah itu Kak Dijah, ngapain dia menghasut Abang lagi?"
"Apa kau nggak sadar kalau dirimu lah yang nggak tahu malu?"
"Kalau begitu biar Adel tunjukkan sama Abang, bagaimana yang nggak tahu malu ini menunjukkan sikapnya!"
Malik terduduk dengan lemas, ia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia kembali terjebak oleh Adelia? Bagaimana bisa kesalahan tersebut terulang lagi?
"Adel akan melepaskan Abang, tapi ada syaratnya."
"Apa itu?"
"Abang akan selalu datang setiap kali Adel minta, kalau enggak, video kita akan Adel kirim ke Kak Dijah! Gimana?"
__ADS_1
"Gila! Apa nggak ada syarat lain?"
"Itu syarat paling mudah, Sayang." Adelia membelai tubuh Malik.
"Kau sudah gila!"
"Sudah ku bilang, aku akan terus gila dan tergila-gila denganmu, Bang! Apa kau tuli?" Ucap Adelia sedikit meninggi, bahkan ia mengganti panggilannya saking terbawa emosi. Adelia menyadari itu, ia langsung menghela napasnya dan mengatur kembali ucapannya. "Maaf! Adel nggak maksud marahin Abang," ucapnya lagi.
"Lebih baik kau dengan sifat aslimu itu, Adelia! Dari pada kau bersikap manis namun ternyata kau tak lebih dari sebuah racun."
Adelia menaruh sebuah ponsel di saku Malik, "Simpanlah ponsel ini dan angkat setiap Adel hubungi! Ingat, jangan macam-macam dengan Adel."
Adelia membuka pintu kamar hotelnya, "Silahkan pergi dan sampai jumpa lagi, Sayang."
Satu jam kemudian, Malik sampai di rumah. Ia kebingungan karena tak mendapatkan Khadijah dan Riska disana. 'Dimana mereka?' batinnya.
"Assalamualaikum, Lik!"
Seseorang datang ke rumah Malik sambil mengetuk pintu, Malik pun langsung buru-buru membukanya. "Waalaikumsalam!" begitu pintu terbuka ia terkejut, "Wak Santi ..." Ucapnya.
"Kenapa kaya habis lihat hantu begitu, Lik?"
"Ah, enggak, Wak ... Ada apa, Wak?"
"Bagaimana keadaan Khadijah?"
__ADS_1
"Khadijah? Keadaan? Memangnya Khadijah kenapa, Wak?"
"Apa-apaan kamu ini? Jadi kamu nggak tahu keadaannya gimana?"
"Ah, begini, Wak ... ponsel Malik rusak, Tadi Malik lagi di luar kota jadi enggak tahu, Wak."
"Istrimu di kota, di rumah sakit umum."
"A--apa? Apa yang terjadi padanya?"
"Tubuhnya terbakar akibat ledakan kompor dirumahmu. Kamu ini gimana, rumah sudah hancur begitu masa' nggak curiga!"
"Apa kejadiannya tadi pagi?" Tanya Malik saat mengingat bertemu dengan mobil ambulans.
"Nah, itu tau! Sudahlah, Wak balik dulu."
Malik terduduk dengan lemas, ia mengacak-acak rambutnya. 'Suami mecem apa aku ini? Istriku terbaring di rumah sakit, aku malah mengabaikannya! Ya Allah, kenapa jalan taubatku serumit ini?'
Malik bergegas untuk pergi ke kota, namun sebelumnya ia meminjam motor Yuda terlebih dahulu. karena motornya tidak layak jika di bawa ke kota. Selain pajak mati, plat juga tidak ada, sudah pasti akan di tilang jika di paksakan di bawa ke kota.
Akhirnya ia sampai di rumah sakit umum. Rumah sakit sebesar itu pun langsung di jelajahi olehnya. "Malik!" Teriak sang kakak saat melihat adiknya.
Malik bernapas lega karena sudah bertemu dengan kakaknya, begitu ia sampai tiba-tiba tamparan keras melukai pipinya. 'Plak!
"Kamu itu manusia atau binatang?" tanya Hanum dengan kemarahan.
__ADS_1