
Malik masuk ke dalam menemui keluarganya, entah mengapa semuanya menangis terisak-isak. Malik merasa tidak enak, ia mendekati Hanum. "Kak, ada apa?"
Plak!
Hanum menamparnya dengan sangat keras hingga membekas di pipinya. "Kenapa Kakak menamparku?"
"Apalagi hukuman yang pantas untukmu, Malik? Kamu jahat nian!"
"Salah Malik apa?"
Riska mendekati ayahnya, Riska menghapus air mata yang jatuh di pipinya. "Ayah! Jika terjadi sesuatu dengan Mamak, Riska tak ingin melihat wajah Ayah lagi. Riska benar-benar tidak bisa memaafkan Ayah!"
"Riska ... Apa salah Ayah? Bagaiman keadaan Mamak?"
Riska menjauhi ayahnya, itu membuat Malik semakin merasa bersalah. Malik mengguncang tubuh sang kakak, "Katakan! Ada apa?"
"Istrimu tiba-tiba kejang, apalagi yang bisa kita lakukan? Pergilah sholat, minta ampun sama Allah. Kakak tahu, kamu mulai bertemu lagi dengan wanita j*Lang itu 'kan? Lik, semoga Allah masih memberimu pintu taubat."
__ADS_1
Bertepatan dengan itu orangtuanya Khadijah datang ke rumah sakit. Keduanya mendengar segala perdebatan yang ada. Hati orangtua mana yang tidak hancur mendengar pernyataan tersebut?
"Malik!" Lirih ibunya Khadijah, Bu Maimunah.
Malik menoleh, "Emak!" Ucapnya dengan gemetar.
Hanum mendekati orangtuanya Kanaya yang tak lain adalah tantenya sendiri. Ia juga menyapa dan memeluk Bu Maimunah.
"Dosa apa yang dilakukan anak Bibi sampai adikmu tega melakukan itu padanya, Num? Katakan, dosa apa, Num?" Bu Maimunah terduduk dengan lemas.
"Abah! Maafkan Malik, tapi ini semua nggak seperti yang Abah pikirkan ..."
"Abah pikir kamu menantu paling baik di dunia. Mempercayai kamu sebagai menantu dan suami dari anak Abah ternyata kesalahan terbesar. Abah pikir jika menikah dengan sepupu sendiri akan membuat anak Abah menjadi bahagia, karena Abah yakin kamu nggak akan pernah menyakiti anak kami. Ternyata yang kamu lakukan malah sebaliknya."
"Abah, Malik sudah taubat, Bah!"
"Nasi telah menjadi bubur dan maaf karena Abah sudah tidak percaya lagi sama kamu. Abah kecewa sama kamu! Harusnya pernikahan ini memang tidak pernah terjadi. Harusnya kami tidak pernah setuju dengan rencana bapakmu. Harusnya kami sebagai orang tua mendengar jeritan hati anak kami!" bentak Pak Rojali, ia benar-benar kecewa dengan menantunya.
__ADS_1
Malik bersimpuh di kaki Pak Rojali, "Malik sangat mencintai Khadijah, Abah ..."
"Lepaskan kaki Abah!" Titah Pak Rojali, namun sayang sekali karena Malik enggan melepaskannya. "Jika terjadi sesuatu dengan Dijah, kamulah orang yang harus bertanggung jawab!" Lanjut Pak Rojali membuat Malik terdiam, ia sadar jika dirinya bukanlah suami yang baik. Akan tetapi, apa sudah tidak ada lagi kesempatannya untuk menjadi baik?
***
Entah karena takdir atau hanya sebuah kebetulan, tak ada satu orangpun yang menunggu Khadijah di depan ruangan. Malik pergi membawa Riska untuk makan siang karena gadis kecil itu belum ada sarapan sejak semalam. Sementara yang lain ada yang ke toilet, musholla dan banyak tempat lainnya.
Seseorang berdiri di ambang pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata dokter yang menangani Khadijah 'lah yang berada di sana.
"Keluarga Khadijah!" Panggil perawat tersebut.
Orang tersebut mengangkat tangannya, "Saya, Sus." Ucap wanita tersebut yang tak lain ternyata adalah Adelia, wanita yang sudah merusak hubungan ya.
"Bagaimana keadaan Kakak saya?" Tanyanya dengan berdusta.
"Anda keluarganya?" Tanya dokter tersebut sedikit heran.
__ADS_1