Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
62. Mempermalukan Adelia


__ADS_3

"Bagus nian Abang ya ... pura-pura lupa atau gimana? Ah, Adel tahu ... pasti Abang di hasut 'kan?"


"Jaga mulut kamu!" bentak Malik.


Adelia terdiam, ia benar-benar di permalukan oleh laki-laki yang ia anggap sebagai suami tersebut.


"Ikut Abang!"


Malik menarik tangan Adelia hingga wanita itu hampir terjatuh, padahal ia sedang menggendong putra kecil mereka. Sementara anak sulungnya Adelia sedang menangis melihat perdebatan mereka. Wajar saja ia seperti itu, anak kecil mana yang tidak takut melihat orangtuanya bertengkar?


Mendengar kegaduhan, Khadijah keluar dari rumah, ia elus sekilas kepala anak itu, kemudian ia tatap dua insan yang sedang bertengkar.


"Hentikan!" Kata Khadijah dengan lantang. Keduanya langsung diam di tempat. "Kalian ini sudah seperti anak kecik saja. Apa kalian nggak malu tetangga lihat? Apa kalian nggak kasihan lihat anak kecil itu menangis? Tenang dan masuklah ke dalam, selesaikan baik-baik!" titah Khadijah.


Tidak ada yang bergerak, keduanya diam di tempat. Khadijah menggelengkan kepalanya, "Bang! Masuk ... kalau Abang nggak merasa malu, nggak pa-pa. Tapi pikirkan Riska!"


Mendengar nama putrinya, Malik langsung menyetujuinya. "Jangan berkoar di luar, ayo masuk!" Titah Malik pada Adelia.


Keduanya masuk ke dalam rumah menyusul Khadijah. Sesampai di dalam, Khadijah tidak ikut campur, ia memilih pergi ke dapur. Baginya itu adalah masalah pribadi mereka.

__ADS_1


"Apa kabar, Bang? Kelihatannya Abang baik-baik saja, Abang sangat bahagia sekarang."


"Seperti yang kamu lihat! Sudahlah, Del ... Abang nggak mau bertele-tele lagi. Katakan saja, apa maumu?"


"Bahkan Abang nggak menyapa anak Abang sendiri, Abang nggak nanya namanya siapa, dia sehat atau tidak."


"Apa dia benar-benar anak Abang? Kamu yakin itu hasil buah cinta Abang sendiri dan bukan bagi-bagi?"


"Apa maksud Abang? Ah iya, pasti kak Dijah yang udah hasut Abang, iya 'kan? Bisa-bisanya Abang baikan dengan Kak Dijah, sementara Adel? Adel harus menghidupkan anak kita!"


"Berhenti menyalahkan Dijah! kamu nggak sadar kalau yang salah sebenarnya siapa? hm? Kita!"


"Hubungan ini salah, Del. Pergilah! Jangan ganggu keluarga Abang lagi."


"Adel masih istri Abang!"


"Kamu lupa? Kamu sudah minta Abang menceraikan mu melalui pesan."


"Adelia nggak mau di ceraikan dengan cara seperti itu. lagi pula itu nggak sah, Bang!"

__ADS_1


"Siapa bilang nggak sah? Kita hanya nikah sirih, Del. Semua sudah berlalu!"


"Baiklah, lalu bagaimana dengan anak kita?"


"Abang akan kirimkan jatahnya setiap bulan."


"Tidak!"


"Jadi apa maumu?"


"Berikan dia jatah yang sama seperti Riska. Jika Riska punya tanah, Abang juga harus belikan dia tanah."


Malik terkekeh geli, "Jadi itu tujuanmu selama ini? Lucu sekali! Kalau itu yang kamu cari dari Abang, kamu jatuh di lubang yang salah. Riska nggak punya tanah, dia hanya punya ibunya. Kalau begitu bukankah ini sudah adil? Anak itu juga punya ibu, sama seperti Riska!"


Adelia tersentak kaget, ia mengira jika tanah yang dimiliki mereka adalah atas nama Malik yang akan di wariskan pada Riska. Sayang sekali, dia telah salah bertindak selama ini.


"Kau telah menyakitiku, Malik! Kau lihat nanti akibatnya!" bentak Adelia sebelum pergi dengan sedikit mengancam. Kali ini dia akan benar-benar pergi karena merasa telah di permalukan.


Khadijah masih berada di belakang, ia enggan untuk keluar. Rasanya ia ingin terkekeh saat ini. Malik benar-benar memilih dirinya di bandingkan Adelia.

__ADS_1


'Ya Allah ... Terima kasih karena sudah mengembalikan suami hamba ...' batin Khadijah sambil mengusap air matanya.


__ADS_2