Tsunami Pernikahan

Tsunami Pernikahan
47. Kemarahan Riska


__ADS_3

"Buat apa aku bohong samamu, Din. Aku cuma pengen lupain Bang Malik aja. Sakit sekali rasanya di giniin, Din. Sepuluh tahun kami bersama, udah cukuplah sakit ini."


Dina berpikir sejenak, dia juga tidak pernah begituan, pikirnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Jah! Kamu ingat Mbah Kakung nggak?"


"Mbah Kakung?"


"Iya! ituloh, yang rumahnya dekat madrasah kita dulu. Dia punya pohon mangga dan mangganya sering kamu curi, ingat nggak?"


"Bukan aku yang nyuri, tapi kamu!"


"Aku yang manjat, kamu yang suruh."


"Kenapa kita jadi debat?" kesal Khadijah.


Dina terkekeh geli, "Mbah Kakung masih hidup sekarang, kamu ingat 'kan dulu banyak yang datang ke rumahnya katanya mau berobat padahal bukan dokter, ingat nggak?"


"Benar juga! Kita kan dulu belum tahu apa-apa."


"Nah, mau nyoba nggak?"


"Boleh deh!"


"Kamu yakin?"


Tring!


Alarm di ponsel Dina berbunyi, pertanda ia akan masuk kelas sekarang, "Sudah mau jam 9, Jah!" ucapnya dengan rasa tidak enakan.


"Ya sudah, aku pulang dulu."

__ADS_1


"Aku nggak ngusir loh, malahan aku pengen cerita lebih banyak lagi sama kamu."


"Aku ngerti kok, Bu guru! Aku pulang dulu, nanti sore aku tunggu di rumah. Jaga putriku di sekolah ya!"


"Siap, jah!"


Khadijah pulang dengan mengendarai motornya, ia berniat untuk singgah ke danau sebelum sampai di rumah. Danau tersebut sudah menjadi kebiasaannya sekarang. Padahal semasa gadis dia tak pernah kesana. Boro-boro pergi ke sana, libur kerja bisa tidur cantik saja dia sudah Alhamdulillah.


Khadijah duduk sambil melemparkan batu ke air tersebut, tiba-tiba Malik menelponnya.


[Assalamualaikum!]


[Waalaikumsalam.]


[Ada apa, Bang?]


[Sehat, Jah?]


[Alhamdulillah, sehat wal'afiat. Riska juga sehat bahkan dia senang punya teman baru di sini.]


[Apa Riska ada nanyain Abang?]


[Nggak pernah, Bang.]


[Abang rindu sama kalian,] ucap Malik dari balik ponselnya. [Jah! Kapan pulang?]


[Pulang kemana, Bang? Disini rumah Dijah sekarang.]


[Abang belum ceraikan Dijah!]

__ADS_1


[Kalau gitu ceraikan Dijah!]


[Sampai kapanpun Dijah bakal jadi istri Abang. Sehat-sehat disana ya, love you.]


Tut!


Khadijah langsung mematikan ponselnya, kini dirinya seperti layang-layang yang ditarik-ulur 'kan oleh Malik. Air matanya menetes, sesekali ia berteriak sekencang-kencangnya. Setelah puas ia pun pulang ke rumah.


Siang harinya Riska pulang bersama Abdullah, paman dan keponakan tersebut pulang dengan lelah karena panasnya matahari langsung tembus ke kepalanya.


"Anak mamak sudah pulang!" Teriak Khadijah dari dalam.


Khadijah memeluk putrinya, namun bukan senyuman yang di berikan oleh Riska. "Ada apa, Sayang?"


"Riska nggak mau sekolah!" Pekik Riska.


Semua tercengang, Abdullah yang sejak tadi bersama Riska juga terkejut karena pasalnya anak kecil itu tidak bersikap seperti itu tadi.


"Riska! Ada apa, Sayang?"


Abdullah mendekati Riska, "Hai keponakan Paman yang cantik, ada apa? Tadi kamu masih ceria."


"Paman, Riska nggak mau sekolah lagi kalau bajunya belum seragaman. Riska malu pakai baju model sendiri."


"Nak, bajunya di jahit dulu. Kamu 'kan anak baru," terang Khadijah dengan lembut.


"Lebih baik tinggal disana saja, bajunya cuma satu jenis aja jadi nggak ribet!"


Rasanya Khadijah ingin sekali memukul tangannya ke tembok saking kesalnya, kenapa harus memuji tempat itu lagi, pikirnya.

__ADS_1


Abdullah yang tahu kekesalan kakaknya langsung menggenggam bahunya, "Kakak masuk kamar aja. Soal Riska, biar Dullah yang ngatur!"


__ADS_2