
Adelia sangat bahagia melihatnya ponselnya terus berdering. Tulisan yang tertera adalah My Abang. Entah sudah berapa kali Malik menelponnya namun tak juga di angkat. 'Kasihan juga,' batinnya sambil terkekeh dalam hati.
Adelia memilih untuk mengangkatnya, [*Halo, Sayang ...]
[Kenapa kamu masih ganggu Abang?]
[Sayang ... Jangan marah-marah dong, Adel rindu!]
[Diam!] Malik menjeda ucapannya, [Dengar ya, Del! Di antara kita udah nggak ada apa-apa lagi. Jadi tolong, tolong dengan sangat untuk tidak mengganggu hidup Abang lagi.]
[Iya, Sayang ... Adel akan selalu mengganggu hidup Abang.]
[Adelia!] Malik membentaknya dengan nada yang sangat tinggi. Anak bayi yang sedang tidur di ayunan tersebut langsung menangis karena mendengar suara Malik.
[Cukup! Cukup ya, Bang ... Cukup menyalahkan Adel. Abang kira Abang bisa lolos gitu aja dari Adel? Jangan harap!]
[Apa maumu?]
[Temui Adel besok di tempat biasa.]
[Nggak ... Itu nggak mungkin!]
[Adelia!]
[Sampai jumpa besok, Sayang ... love you*!]
Prang!
__ADS_1
Malik melemparkan ponselnya ke sembarang arah, hampir saja tergelincir dan jika tidak ada pohon kelapa sawit, mungkin ponselnya sudah tinggal nama.
"Sial!" umpatnya. "Kenapa semua jadi begini, sih? Kenapa semua jadi rumit begini? Semuanya sudah hancur!" Teriaknya.
Tiba-tiba pengawasnya berlalu-lalang di hadapannya, "Kerja, Lik, kerja!" Protes beliau dengan cara mengingati.
Malik mengangguk walaupun pikirannya sudah pada Khadijah di rumah. Hatinya bertanya-tanya apakah Khadijah sudah melihat foto yang tersebar atau belum, jika sudah, bagaimana perasaannya? Jika belum, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Ting!
Ponsel berbunyi, sebuah pesan masuk ke ponselnya. [Mumpung Kak Dijah belum tahu, tentukan keputusan Abang sekarang.]
Satu sisi Malik merasa lega karena Khadijah belum melihat pesan tersebut, sisi lainnya Malik sudah tak ingin berurusan dengan Adelia lagi.
[Baiklah! Jam 12 siang.]
***
Sekitar pukul 5 sore Malik sudah sampai di perkarangan rumahnya. Khadijah menyambutnya dengan ramah, ini kali pertamanya ia melakukan itu lagi. Ini kali pertamanya Khadijah melaksanakan tugasnya sebagai istri yang terbaik setelah banyaknya rintangan di rumah tangga mereka.
Seperti biasa, kopi sudah dibuat olehnya. Usai Malik mandi, lelaki itu pun menikmati kopi buatan Khadijah. Keduanya menikmati angin sore yang kelihatannya akan hujan karena langit sudah sangat gelap.
"Mak ... Yah ..." Riska menghampiri mereka.
Keduanya menoleh, "Iya, Sayang ..."
Riska duduk di pangkuan Malik, keduanya tercengang karena semenjak badai menerpa, jangankan duduk di pangkuan sang ayah, mengajaknya cerita saja ia tak Sudi.
__ADS_1
"Ayah ... besok siang jemput Riska ya," pintanya.
Malik terdiam, bagaimana bisa ia menjemput anaknya jika dirinya sudah ada janji dengan Adelia?
"Bang!" Panggil Khadijah membuyarkan lamunannya.
"Ah ... Ya?"
"Di panggil Riska itu," sahut Khadijah.
"Ayah nggak bisa ya? Ya udah deh ..." Riska terlihat lesu, padahal ia sudah berharap lebih pada ayahnya. Ia mulai membuka hati kembali untuk menyayangi sang ayah, tapi apa? Malik menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Bagaimana kalau pulangnya aja?"
"Kenapa harus pulangnya aja? Memangnya Abang mau kemana? Abang nggak pulang?"
"Abang mau temani pak asisten bentar," dusta Malik. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak mengkhianati istrinya lagi.
Khadijah ber oh ria, hatinya masih tidak percaya. Sementara Riska langsung bersorak gembira. "Beneran? Jangan telat ya, Yah ..."
"Siap, Tuan putri." Malik bernapas lega karena hati sang putri sudah mulai membaik, ia pun melihat istri tercintanya yang sedang melamun. Malik memegang tangan Khadijah, "Jangan khawatir, Jah ..." Ucap Malik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo, semuanya ... Sambil menunggu kelanjutan dari Khadijah dan Malik, yuk mampir yuk ke karya teman othor yang kece ini. cekidot 🫰
__ADS_1