
"Iya dong, masa Baim," gurau Yuda sambil menunjuk anak lajangnya yang sedang menonton tv.
Lisa tersenyum, kemudian mencermati setiap kata yang terucap dari mulut Wak Santi tadi. Rasa khawatir pun tiba, bagaimana jika seandainya semuanya terbongkar? Diliriknya sang anak sedang bercanda tawa dengan suaminya. Tak munafik, ia tidak ingin kehilangan moment kebersamaan tersebut.
'Aku memang salah,' batin Lisa.
Cup!
Kecupan singkat mendarat di kening Lisa, ia tersadar dari lamunannya. Yuda sudah siap dengan pakaian kerjanya, bahkan ia sudah selesai sarapan tetapi sang istri malah melamun di ruang tamu mereka.
"Ayah ..."
"Bunda kenapa?"
"Nggak apa-apa," sahut Lisa cepat.
"Dari tadi Bunda melamun terus, Ayah makan saja Bunda nggak nemanin."
"Maafin Bunda, Yah ..."
"Kalau ada masalah, katakan saja."
"Yah, seberapa besar rasa percaya Ayah dengan Bunda?"
__ADS_1
"Sangat besar, bahkan Ayah lebih percaya dengan Bunda di bandingkan diri Ayah sendiri."
"Kalau seandainya Bunda ngecewain Ayah, apa ayah akan maafin Bunda?"
"Disitu kelemahan Ayah, ibaratnya gelas yang kokoh, Bun. Sekali jatuh, ia akan hancur lebur, sekalipun di paksa untuk nyatu dia nggak akan sempurna seperti awal lagi. Memangnya kenapa? Apa Bunda menyembunyikan sesuatu dari Ayah?"
Deg!
Ucapan Yuda benar-benar membuatnya merasa tertampar. Ia takut jika Yuda akan pergi meninggalkannya. Yuda memegang tangan Lisa, "Katakanlah, ada apa?"
Lisa menepisnya dengan pelan, "Bunda --- ah, iya ... Bunda lupa pulangkan uang kembalian yang di kasih Mbah bengkel kemarin pas motor ayah bocor."
Yuda langsung terkekeh, "Kalau itu nggak pa-pa, Ayah kira ada hal yang lain. Kamu tahu nggak, ada sesuatu yang harus kamu tahu. Jangan sampai kamu mendapatkan marahnya orang sabar, diamnya orang yang perhatian, dan kecewanya orang setia. Karena ketika kita sudah mendapatkan tiga hal tersebut, dunia pasti terasa hancur dan di saat itulah kita baru menyadari kesalahan kita. Untuk apa menyadari kesalahan setelah dunia hancur? Itu semua sudah tidak ada gunanya, 'kan?"
"Iya, Ayah hati-hati ya."
"Iya, Sayang."
Lisa memperhatikan kepergian suaminya, kemudian ia duduk di kursi tamu sambil mengupdate status di media sosialnya.
'Jangan pernah menyia-nyiakan cinta yang ada demi cinta yang tak pasti. Karena yang tulus mencintaimu hanya dia yang berada di sampingmu.'
Begitu statusnya terkirim, tiba-tiba ... Tring!
__ADS_1
Sebuah pesan masuk di ponselnya. [Ada apa, Lisa?]
Jantung Lisa berdegup kencang membacanya, tetapi ia mencoba untuk mengabaikannya. Berkali-kali bahkan sampai berpuluh kali orang tersebut menelponnya, tetapi tak di jawab oleh Lisa bahkan beberapa panggilan tersebut dengan sengaja ia matikan.
[Abang rindu sama Lisa.] Itulah pesan terakhir yang dikirimnya.
Lisa menggelengkan kepala, "Tidak! Ini tak bisa di biarkan. Ini harus di akhiri sebelum semuanya terlambat!"
Akhirnya Lisa menekan tombol balas dan langsung membalasnya. [Jangan hubungin Lisa lagi, hubungan kita sudah selesai mulai sekarang!]
[Nggak! Kamu nggak bisa putusin Abang secara sepihak begini. Kita perlu bicara!]
[Uwak Santi tahu hubungan ini, sebaiknya kita akhiri atau dunia akan berakhir!]
Pesan tersebut tak di balas oleh Malik, sepertinya jurus yang di pakai oleh Lisa kali ini ampuh. Malik sudah tak menghubunginya.
Sementara di tempat lain, Malik baru saja melempar ponselnya ke dinding sambil mengumpat. "Kenapa semuanya jadi begini?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil menunggu kelanjutannya, kepoin yuk punya teman othor🫰
__ADS_1