
Tiga hari kemudian Paktua Kodir sudah kembali ke desa Sukawin tanpa membawa Khadijah dan Riska. Selama tiga hari ini juga hubungan Khadijah dan Malik seperti Abang-adik atau seperti persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Malik hanya pulang ke rumah di waktu siang saja, sementara malam dia harus kembali pada Adelia.
Siang ini Malik pulang dengan lesu, Khadijah memang tidak masak karena Malik tidak memberinya uang.
"Nggak masak ya, Jah?"
"Dijah nunggu Abang pulang, mau minta uang tapi kalau nggak ada biar Dijah hutang mie instan di warung Wak Santi."
"Gajian masih lama, Jah. Makan mie nggak pa-pa 'kan?"
"Ya sudah, Bang." Khadijah pergi ke warung Wak Santi, sampai di sana ternyata Wak Santi baru saja datang dari kota.
Ya, Wak Santi memang sering ke kota apalagi ada anaknya yang masih bersekolah di sana. Sedangkan sang suami menetap di kebon karena bekerja.
"Assalamualaikum, Wak Lanang ..." Khadijah memanggil suami dari Wak Santi karena mengira beliaulah yang menjaga warungnya.
"Waalaikumsalam," sahut Wak Santi.
__ADS_1
"Loh, Wak! Tak kirain Wak Lanang rupanya Wak Wedok juga disini. Kapan datang?" Khadijah langsung memeluknya karena ia sudah menganggap Wak Santi sebagai ibunya di kebon ini.
"Tadi! Eh, yang harusnya nanya itu Uwak. kamu kapan datang? Masya Allah, Uwak senang kamu balik, Jah. Pilihanmu sudah tepat, jangan mau kalah sama Pelakor, Masa' merintisnya sama kita, susahnya sama kita eh tuh orang tinggal nikmatin aja."
Khadijah tersenyum, "Dijah balik juga karena Riska, Wak. Cuma Riska satu-satunya alasan Dijah bertahan. Dijah sempat mau ke orang pintar buat lupain Bang Malik, eh ada aja halangan nya. Dijah rasa Dijah nggak di takdirkan untuk lupain Bang Malik ya, Wak."
"Astaghfirullah, Jah ... Jah ... Ngapo 'lah percaya sama gituan."
"Itulah, Wak. Dijah putus asa nian, di sana bukannya bisa lupain Bang Malik malah keingat terus. Mungkin Allah marah sama Dijah ya, Wak."
"Ndak usah percaya gituan, yang paling benar tuh kamu shalat di persetiga malam, curahkan hatimu sama Allah. Kamu shalawat dan dzikir sampai seribu kali, dalam hatimu niatkan untuk suamimu agar dibukakan matanya. Uwak lihat dia nggak pernah shalat lagi di masjid, maghrib-maghrib aja dia sanggup beli rokok kesini."
"Itu berarti ada setannya itu," kata Wak Santi sambil terkekeh.
"Memang iya, Dijah ajak shalat nggak mau."
"Jadi udah di tinggalnya wanita itu?"
__ADS_1
"Di pakainya masih, Wak! Siang dia pulang, malam sama wanita itu. Kadang Dijah mikir, kok kayanya Bang Malik sok hebat gitu."
"Yang sabar ya, Jah! Allah nggak tidur, kita lihat saja sampai mana mereka bertahan. Allah pasti sudah mentakdirkan yang terbaik untukmu."
"Iya, Wak. Jujur aja Dijah udah merasa bodo amat sama Bang Malik. Dia nak disana, pergilah! Dia nak kesini terserah dialah. Yang penting kalau gajian Dijah dapat. Dijah nggak capek ngurus makan dia, nyuci baju dia. Yang Dijah urus cuma Riska doang."
"Jadi kalian makan siang pakai apa?"
"Biasanya Dijah numpang sama Bang Imran, Wak. Tapi sekarang --- Astaga! Dijah lupa, Dijah kesini mau bon mie dulu kok malah ngota (cerita)."
Wak Santi terkekeh mendengarnya, "Yowes! Mau mie apa?"
"Yang rebus aja, Wak."
Wak Santi mengambilkan pesanan Khadijah kemudian ia berikan pada wanita tersebut. "Kamu masih muda, masih cantik. Mumpung nggak ngurus lakik, sebaiknya kamu ngurus diri. Kalau kamu cantik kaya artis-artis itu, Wak yakin suamimu nggak akan berpaling. Jangankan berpaling, ngintip yang lain aja enggak."
Khadijah tertawa, "Uwak bisa aja."
__ADS_1
Walaupun Khadijah mengatakan itu namun ia juga memikirkan ucapan Wak Santi. Mungkin benar ucapan Wak Santi, pikirnya.