
Saat ini Khadijah sudah berada di dokter kecantikan. Walaupun harga masih terjangkau, namun kualitasnya bukan kaleng-kaleng. Ya! dokter tersebut hijrah ke desa karena suaminya lulus kepegawaian dan bertugas di rumah sakit desa. Namun, karena ia merupakan dokter kecantikan, akhirnya ia membuka praktek di rumahnya. Dokter tersebut bernama Freya, dokter muda yang cantik dan baik. Hampir seluruh ibu-ibu di kebun memakai jasanya.
Khadijah memakai pakaian pasien sebelum melakukan perawatan wajah, kemudian ia duduk di depan mejanya dr. Freya. "Selamat pagi, Mbak ..." dokter menyapa Khadijah.
"Selamat pagi, dok."
"Masya Allah, Mbak makin cantik aja. Serum nya tetap di pakai, 'kan?"
"Tetap, dok. Malahan sudah habis!"
"Kita periksa dulu ya ..."
Kedekatan Khadijah dan dokter Freya cukup terbilang akrab karena Khadijah sangat pandai membawa diri. Keretakan rumah tangga Khadijah pun diketahui oleh dokter Freya.
"Jadi bagaimana, Mbak? Masih cuekin Bang Malik?"
Khadijah mengangguk, "Apa Dijah salah ya, dok?"
"Saya bukannya mau menggurui, tapi kita yang namanya umat Islam memang tidak boleh cuekin suami. Saat di panggilnya saja kita tidak menjawab, kita akan dosa. Sebagai istri, kita banyak salahnya, Mbak ... Kalau Mbak memang nggak mau lagi, Mbak bisa minta dia buat ceraikan Mbak."
__ADS_1
"Jujur, dok ... sebenarnya Dijah masih sayang, tapi hati Dijah masih tergores."
"Semoga Allah permudahkan ya, Mbak ..."
Di tempat lain, Adelia benar-benar sendiri. Ia harus menghidupkan kedua anaknya. Anak yang beda ayah itu pun terlihat akur, sang kakak cukup pandai merawat adiknya. Itu sebabnya Adelia masih bisa bekerja saat ini.
Pulang kerja, ia menatap anak laki-laki nya. Air matanya pun menetes, "Kenapa semuanya jadi seperti ini?"
Saat melihat anak sulungnya terganggu dengan suaranya, ia menghapus air matanya dan pura-pura tidur. Badannya remuk semua akibat penjelajahan yang ia jual tadi.
Ya, sebagai wanita malam ia harus rela berkorban dengan segala inchi yang ia punya. Berharap tak ada yang membekas lagi setelah ini.
Prang!
Wanita itu sangat emosi, seperti ada rasa yang ia tahan saat ini. Rupanya ia melihat Malik mengirim fotonya bersama Khadijah. Wanita yang dulunya tampak Kumal dan jelek kini bagaikan ratu yang turun dari khayangan.
"Nggak mungkin!" ucapnya, "Bagaimana bisa dia secantik ini?"
"Sumpah! Aku nggak rela. Aaaa!" ia menahan sesaknya di dada.
__ADS_1
Merasa perbuatan itu tidak adil, akhirnya ia mengirim foto sang putra dan Malik yang ia sandingkan, kemudian ia juga membuat kata-kata disana.
Kalian sangat mirip, namun sayang sekali beliau tidak perduli denganmu. Maafkan Bunda, Nak ...
Ucapannya seakan-akan dialah yang tersakiti, dialah yang menjadi korban disana.
Khadijah yang sedang asyik melakukan perawatan, ia pun membuka ponselnya saat ada jeda. Ia tersenyum kecut saat melihat foto tersebut. "Jadi dia benar anaknya?" Gumam Khadijah.
***
Siang yang cerah, Khadijah sudah sampai di rumahnya. Malik yang sedang duduk di halaman pun menoleh ke arah Khadijah, "Udah pulang, Jah?"
Riska, Sang anak ... ia langsung menyapa ayahnya. Setelah itu ia masuk ke dalam.
Khadijah duduk di kursi salah satunya, "Ada yang mau Dijah bicarakan, Bang!"
Malik mengangguk, "Ada apa, Jah?"
Khadijah menyerahkan ponselnya di hadapan Malik, "Dia putranya Abang!" Tegas Khadijah.
__ADS_1